PROSEDUR DAN PRAKTEK STANDAR AGRONOMI

BAB VI

PROSEDUR DAN PRAKTEK STANDAR AGRONOMI

Roger A. Gillbanks

12 Boonooloo Road, Kalamunda, WA 6076, Australia 6076. Tel: +61 0892932762. Fax: +61 089257 1460

PENDAHULUAN

Prosedur dan praktek standar agronomi dimulai dari fase pembibitan, penanaman di lapang hingga fase panen. Fase tersebut memerlukan pemilihan bahan tanam, pemeliharaan, pemupukan, dan penanaman tanaman penutup tanah.

PEMBIBITAN

I. Bahan Tanam

Bahan tanam yang digunakan baik dari biji, biji kecambah, atau tanaman klon harus diketahui asalnya atau dari perusahaan benih yang berkualitas. Selain lembaga-lembaga penelitian pemerintah atau quasi-pemerintah yang dimiliki seperti IDEFOR (Pantai Gading), NIFOR (Nigeria), IOPRI (Indonesia), dan PORIM (Malaysia), ada sejumlah organisasi komersial besar yang menghasilkan benih berkualitas di Kosta Rika, Kolombia, Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Kamerun, dan Zaire.

  • Bibit

Industri kelapa sawit di Afrika dimulai dengan eksploitasi kebun sawit liar dan kelapa sawit rakyat dengan keanekaragaman genetik yang luas. Sebaliknya, industri di Asia Tenggara didirikan dengan dasar genetik yang sangat sempit kelapa yang ditanam sebagai jalan hias di kebun tembakau Deli di Sumatera Utara. Tanaman ini sangat cocok dan digunakan sebagai pohon induk untuk produksi benih komersial. Penelitian di Afrika menunjukkan terdapat 3 jenis kelapa sawit yang terjadi secara alamiah, yaitu: 1) Dura dengan cangkang yang tebal dan Dura Deli relatif lebih tipis dan ketebalan mesocarp bervariasi; 2) Pisifera memiliki cangkang tipis atau sangat tipis; 3) Tenera, intermediet dari Dura dan Pisifera yang merupakan hasil persilangan Dura dan Pisifera.

Awal 1927 beberapa pohon di Afrika (projeni penyerbukan sendiri dari kelapa sawit Tenera yang dikenal dengan Djongo di Yangambi, Zaire), diimpor ke penelitian AVROS (Sumatera Planters) di Polonia. Pisifera SP540 berasal dari stok ini. Sebagian besar pisifera saat ini yang digunakan di Asia Tenggara dan Amerika Latin adalah sebagian keturunan dari sumber ini.   Pemulia terus melakukan introduksi gen baru khususnya populasi pisifera. Salah satu kelemahan dari garis SP540 murni adalah kecenderungan pertumbuhan meninggi yang cepat, sehingga dapat mengurangi umur ekonomis tanaman. Tantangan yang dihadapi adalah untuk menemukan bahan tanam yang memiliki pertumbuhan meninggi yang lambat, sehingga memudahkan proses pemanenan. Selain itu juga, fokus perhatian saat ini ditujukan pada sifatsifat seperti kandungan minyak tak jenuh tinggi dan projeni keturunan kelapa sawit Nigeria.

Resistensi terhadap penyakit, terutama Ganoderma di Asia Tenggara dan Pasifik, layu pembuluh (yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum) di Afrika dan ‘tiba-tiba layu’ (sorpresiva Marchitez, jenis busuk pangkal batang) di Amerika Selatan, hingga saat ini belum ditemukan, namun akan menjadi penting di masa depan. Sehingga, penanam harus memilih sumber benih berdasarkan reputasi produsen, dengan mempertimbangkan informasi nilai keragaan hasil dan apakah progeni tertentu dapat beradaptasi dengan baik pada lingkungan tertentu. Jika ada perbedaan kualitas benih yang disediakan, diduga berguna untuk menjaga progeni yang berbeda dalam pembibitan dan membuat perbandingan pertumbuhan dan vigor. Beberapa progeni dengan produksi rendemen tinggi biasanya memiliki biji yang kecil dan pertumbuhan lambat saat di pembibitan. Percobaan projeni menunjukkan vigor pada saat di pesemaian tidak berkorelasi dengan hasil. Beberapa progeni menunjukkan vigor yang kurang baik, namun dapat beradaptasi dengan baik dalam kompetisi antar tanaman kelapa sawit bila ditanam pada kerapatan yang tinggi.

  • Klon dan benih klonal

Kelapa sawit tidak dapat diperbanyak dengan cara vegetatif konvensional seperti karet, kakao, kopi, dan the. Meskipun produksi ramet melalui kultur kalus dan induksi embriogenesis) telah terbukti layak, namun sulit untuk meningkatkan produksi dalam jumlah besar secara komersial tanpa menimbulkan ‘off types‘.

Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi populasi tanaman klon antara lain 1) variasi produksi yang besar antar individu karena adanya dasar genetik yang luas, 2) kurang dari 50% tanaman yang berproduksi dari 80% total produksi, 3) potensi hasil yang tinggi dan pertumbuhan seragam, 4) semua anggota klon tertentu cenderung identik terhadap cekaman patogen dan lingkungan, dan 5) perlu pengujian yang ekstensif sebelum penggunaan secara komersial.

Pendekatan yang dilakukan adalah melakukan klon tetua elit untuk meningkatkan jumlah benih yang berproduksi tinggi dan projeni yang tersedia dalam program pemuliaan. Peningkatan produksi dapat dilakukan namun disertai penyempitan lebih lanjut dari dasar genetik di mana beberapa progeni ditanam dalam skala besar. Sehingga, sebaiknya pekebun disarankan untuk mempertahankan keragaman yang cukup sebagai sumber material genetik.

a. Benih kecambah dan persiapan pembibitan

  1. Pengepakan, pengiriman, dan tindakan pencegahan fitosanitasi

Menanam bahan pembibitan kelapa sawit komersial biasanya disertakan sebagai bibit pra-berkecambah yang dikemas dalam kotak terisolasi. Benih yang dikemas dengan baik dapat disimpan sampai sepuluh hari, tetapi seharusnya tidak mengalami panas berlebihan (di bawah sinar matahari penuh selama beberapa hari) atau dingin (disimpan dalam freezer untuk waktu yang lama).  Benih tetap dikemas untuk periode yang lama dan segera dikirim setelah perkecambahan.

Benih biasanya dikirimkan dalam kondisi berkecambah ketika melewati perbatasan internasional di mana peraturan fitosanitasi memerlukan sterilisasi permukaan. Dalam kasus tersebut, benih harus dipanaskan tetapi tidak berkecambah. Tindakan pengamanan harus dilakukan untuk menghindari perpindahan penyakit. Persyaratan internasional fitosanitasi biasanya dipenuhi apabila biji dicuci selama dua menit dalam larutan ThiramTM (0,2%, 75% bahan aktif) dicampur dengan ajuvan 0,1% pada tahapan sebagai berikut.

  • Setelah de-pericarping dan sebelum perlakuan panas;
  • Segera sebelum pengiriman;
  • Saat tiba di tujuan (benih direndam untuk menginduksi perkecambahan). Perendaman disertai dengan agitasi kuat untuk meningkatkan penetrasi solution antara serat micropyle dan karakteristik pericarp serat benih Tenera pada benih pemuliaan.

Jika peraturan fitosanitasi menghendaki, ThiramTM bisa diganti dengan mencelupkan benih dalam larutan CloroxTM (1%) dalam perlakuan predispatch. Larutan ini terkadang menyebabkan browning pada pertumbuhan tunas dan akar, tetapi tidak mempengaruhi pertumbuhan bibit.  Transmisi serangga hama melalui biji sulit terjadi, namun DisterexTM (0,1%) dapat dimasukkan ke dalam larutan fungisida.

  1. Pengecambahan 

Benih yang mendapatkan perlakuan ­pemanasan dan tidak dikecambahkan, apabila telah sampai ke tempat tujuan harus direndam dalam air selama dua hari untuk menaikkan kadar air 22%.  Benih ini kemudian kembali dicelupkan ke dalam fungisida, dikering-anginkan hingga permukaan kering dan disegel di dalam kantong polietilen. Perkecambahan biasanya dimulai 7-10 hari setelah perlakuan panas dan akan berlangsung hingga 40 hari. Biji yang gagal berkecambah, sakit, atau rusak harus diafkir. Selama proses perkecambahan, pemilihan benih harus dilakukan secara teratur untuk memisahkan benih berkecambah.  Biji yang telah berkecambah harus dibasahi dan disimpan dalam kantong tertutup.  Ketika radikula dan prumula dapat dibedakan dengan jelas, maka bibit siap ditanam.

II. Perencanaan dan persiapan Pembibitana

a. Pemilihan lokasi pembibitan 

Pembibitan pada umumnya tahap tunggal atau dua tahap. Tahap tunggal jika biji ditanam langsung ke polibag besar dan dua tahap apabila tanaman dipindahkan dari polibag pembibitan awal (prenursery) yang kecil ke polibag besar di pembibitan utama pada tahap daun ke-3 atau ke-4). Pembibitan dua tahap memungkinkan kontrol manajemen lebih intensif pada tahap awal perkembangan bibit dan memberikan kesempatan tambahan untuk menyeleksi bibit saat dipindahkan dari prenursery (pembibitan awal) ke pembibitan utama.  Tahap tunggal lebih sederhana untuk mengelola dan lebih cocok apabila terdapat pegawai manajemen yang berpengalaman dan benih yang digunakan handal dan berkualitas tinggi.

Lokasi pembibitan sebaiknya dekat sungai atau waduk dengan debit minimal 100.000 L/ha/hari untuk ketersediaan air dan irigasi yang memadai sepanjang tahun, terutama antisipasi musim kering yang terjadi. Kualitas tanah merupakan kriteria sekunder dalam pertimbangan pemilihan lokasi, kecuali sangat sulit untuk membawa tanah dari luar lokasi pembibitan.  Faktor ketiga adalah keamanan, karena pembibitan skala besar dengan irigasi mahal dan peralatan pompa harus dilindungi dari vandalisme dan pencurian.

Pembibitan direncanakan untuk menyediakan jumlah bahan tanam yang dibutuhkan pada musim tanam dan tahap pertumbuhan yang tepat, yaitu 11-13 bulan untuk pembibitan tahap tunggal dan 12-14 bulan untuk pembibitan dua tahap.  Jumlah benih yang diperlukan mungkin tidak tersedia pada waktu yang dibutuhkan, tetapi sejak tanam di lapangan berlangsung 11-14 bulan setelah pesemaian, biasanya ada banyak waktu untuk menyesuaikan program penanaman dan menghindari akumulasi jumlah bibit yang berlebih karena umur.  Bibit dengan umur yang berlebih rentan terhadap shock tanam, yang menyebabkan pertumbuhan lebih lambat 6-12 bulan dan kehilangan produksi pada waktu yang sama karena keterlambatan kematangan dan pertumbuhan kelapa sawit yang tidak merata.

Pembibitan tahap tunggal yang disusun benar telah terbukti memiliki keunggulan dalam pertumbuhan dan hasil awal lebih dari pembibitan dua tahap. Bibit tidak terpengaruh oleh goncangan yang terjadi saat bibit dipindahkan dari prenursery ke pembibitan utama.  Dengan perencanaan yang tepat, pembibitan tahap tunggal menggunakan material kualitas benih yang tinggi dengan tingkat pemusnahan rendah akan lebih murah dari pembibitan dua tahap. Di sisi lain, pembibitan dua tahap yang lebih fleksibel dapat mengurangi waktu di pembibitan utama dan dapat disesuaikan umur fisiologisnya.  Selain itu, terdapat banyak waktu untuk mengisi kantong dan tata letak pembibitan utama saat benih masih ditanam di prenursery.

b. Tanah dan sistem irigasi

Air sangat penting untuk proses fisiologis bibit. Pemeliharaan pasokan air membutuhkan kewaspadaan terus menerus untuk mencegah kelebihan dan kekurangan air. Proses pergerakan air di polibag mengikuti aliran irigasi sebagai berikut.

  • Infiltrasi, yaitu gerakan air melalui permukaan tanah ke dalam polibag;
  • Perkolasi, yaitu gerakan air melalui profil tanah; dan
  • Run-off, yaitu meluapnya air di polibags dimana laju infiltrasi lebih kecil dari laju penambahan air.

Dari sudut pandang praktis, air berguna untuk penyemaian adalah jumlah air yang meresap di sekitar sistem akar bibit, dan ini tergantung pada jenis tanah yang digunakan untuk pengisian kantong. Beberapa tanah liat dan tanah salin rentan terhadap permukaan pengerasan tanah dan retak sehingga hampir tidak ada infiltrasi dan terjadi runoff. . Sebaliknya, tanah bertekstur ringan menyerap dan menyimpan air dengan bebas seperti spons. Infiltrasi yang cepat di tanah berpasir, yang menyimpan air yang sangat sedikit, sementara tanah organik dan asam sulfat rentan terhadap pengeringan dan mempertahankan air yang sangat sedikit. Hal penting untuk mengukur kebutuhan air pada setiap jenis tanah, jumlah air bersih, dan intervalnya ialah dengan memeriksa ketersediaan air dengan menekan jari 10 cm dari dasar tanah dan menilai kadar air tanah di dalamnya. Cara ini merupakan hal sederhana untuk menerapkan air pada laju aliran rendah selama periode air berlebih, infiltrasi dan penyerapan yang lebih besar, dan kehilangan air akibat runoff.

Untuk pembibitan kecil, penyiraman menggunakan tangan dapat dilakukan dengan bantuan pipa selang. Namun, untuk pembibitan ≥ 5.000 bibit, sistem irigasi pompa harus dilakukan. Sistem irigasi memudahkan proses pengawasan dan mengurangi kebutuhan tenaga kerja. Di sisi lain, sistem irigasi membutuhkan perawatan berkala, terutama karena penumpukan bertahap dari kotoran yang berasal dari dalam sistem. Penyiram harus memeriksa alat sebelum penyiraman dan mengontrol kerusakan alat.

Jumlah sistem sprinkler hujan yang tersedia untuk data dengan rata-rata ketersediaan air telah dihitung untuk sistem pemompaan tertentu. Sistem yang paling umum dihadapi adalah sebagai berikut:

  • Sistem sprinkler tetap, baik menggunakan pipa terkubur permanen atau pipa selang aluminium dengan alat kelengkapan camlock snap yang dapat diambil dan dipindahkan ketempat baru dengan lebih mudah. Sistem ini paling sering ditemukan dalam persemaian permanen;
  • Irigasi berjalan (‘sistem hujan’) diberikan dengan air dalam gulungan selang fleksibel yang bergerak pada jalur tetap, biasanya diikat dengan kawat atau selang. Irigasi berjalan biasanya dirancang bertepatan dengan jalan akses pada interval tetap melalui pembibitan. Interval antar pola tergantung pada ukuran penyemprotan dan tekanan air;
  • Penyiraman selang dirancang untuk tertanam di tanah jika tidak digunakan dan menyediakan semprotan air dari lubang-lubang kecil menembus di bagian atas selang ketika berada di bawah tekanan. Ada beberapa jenis dan spesifikasi, tetapi yang paling terkenal adalah merek SumisansuiTM dihasilkan oleh Sumitomo Chemical Company.
  • Sistem overhead, yaitu seperti hujan tetap dan sistem pusat pivot yang dapat digunakan untuk kondisi tertentu;
  • Sistem irigasi trickle, ialah menggunakan air yang sangat efisien dan juga digunakan untuk menyediakan unsur hara yang dibutuhkan bibit. Sistem ini cukup rumit, memerlukan manajemen yang teliti dan tidak banyak digunakan.

c. Persiapan pembibitan

Lokasi pembibitan ideal adalah pada tanah yang landai, dekat sumber air dn jauh dari potensi banjir, serta memiliki sumber tanah yang cocok untuk mengisi polibag. Tempat harus dibebaskan dari segala penghalang, seperti tunggul pohon, puing-puing bebatuan, dan tanah diratakan kasar. Sekitar tempat untuk budidaya diratakan lapisan tanah atas dengan mesin berat dan persiapan pengisian tanah ke polibag. Tanah yang tidak cocok untuk pengisian polibag adalah tanah yang langsung terpapar sinar matahari langsung dan tanah gambut karena kerapatan tanah rendah. Tata letak pembibitan harus mempertimbangkan jenis peralatan irigasi yang akan digunakan, dan jarak tanam di persemaian.

Bibit yang ditanam diatur dalam blok. Antar blok diberi akses jalan untuk mempermudah pemeriksaan dan proses pekerjaan pembibitan. Pembibitan juga harus menyediakan sistem jalan yang memadai untuk lintas kendaraan saat bibit dikeluarkan untuk penanaman lapangan. Bibit dibesarkan dalam polibag hingga mencapai 11-14 bulan. Polibag yang digunakan selama proses pembibitan adalah memiliki layflat dimensi 0,4 x 0,5 m, ukuran plastik 120 mikron, perforasi 5 mm pada interval 5 cm dalam baris dan dalam 15-20 cm untuk memungkinkan drainase, dan bahan politen hitam tahan ultraviolet.

Kantong Gusseted lebih disukai karena membentuk dasar yang cukup datar dan stabil. Jika kantong non-gusseted digunakan, baik sudut bawah masing-masing atau terselip terbalik. Kantong yang telah diisi tanah biasanya diletakkan pada jarak 0,9 m triangular (segitiga) yang memberikan ruang yang efektif (14.000 kantong/ ha) tanpa mengakibatkan kepadatan bibit. Polibag kecil (layflat 0,3 m x 0,4 m) berjarak lebih dekat (0,7 m) dan menghasilkan 23.000 polibag/ha dan digunakan untuk memproduksi bibit untuk penanaman setelah 10 bulan. Jika ada keterlambatan dalam program penanaman, jarak tanam harus direposisi untuk mencegah etiolasi.

Daerah yang diperlukan untuk pembibitan dapat dihitung dari jarak tanam dan kerapatan tanam, serta menambahkan 5% untuk jalan. Sekitar 5% dari kebutuhan bibit harus ditanam di polibag besar (layflat 0,45 m x 0,6 m) berjarak segitiga 1,2 m untuk menyediakan bibit berumur 14-19 bulan setelah tanam di lapangan utama. Hal ini dapat mengurangi variabilitas antara lahan tanam dengan tanaman pada saat tanaman mengalami stadia dewasa. Bibit yang ditanam pada lahan yang luas tidak mengalami etiolasi, shock tanam, atau kerusakan angin apabila ditanam pada waktu yang tepat dan tidak terpengaruh cuaca buruk.

Ukuran pembibitan tergantung pada tipe peralatan sprinkler yang digunakan dan sejauh air dapat terdistribusi ke seluruh individu tanaman. Jalur irigasi utama harus diletakkan sebelum polibag ditempatkan di pembibitan. Jarak yang dianjurkan untuk segitiga 0,9 m, jarak antara baris adalah 0,8 m dan lebar bagian 50 m. Baris tengah harus dibiarkan terbuka untuk memberikan akses pemeriksaan ketika kanopi daun bibit telah menutup (10-12 bulan dari tanam). Pembibitan diberi garis pembatas agar penempatan polibag selaras dan rapi pada setiap bagian dari blok atau sub blok. Baris bibit harus diperhatikan timur-barat untuk meminimalkan pemanasan sinar matahari.   Jika ruang pembibitan terbatas, polibag dari empat baris dapat dikelompokkan bersama-sama untuk beberapa waktu sampai terdapat ruang yang tersedia. Polibag harus selalu diatur dalam jarak yang tepat hingga daun menyentuh bibit d sebelahnya. Polibag harus diperlakukan hati-hati untuk menghindari gangguan pada saat bibit dipindahkan.

d. Kantong pengisian (polibag)

Tanah yang digunakan untuk pengisian polibag memiliki pH antara 4,5 hingga 6. Penyerapan kelembaban tanah dan retensi lebih penting daripada kesuburan kimia tanah (yang dapat diubah dengan mudah dengan menggunakan pupuk mineral). Campuran tanah atau tanah yang memiliki infiltrasi air cepat tetapi retensi air yang cukup harus dipilih untuk mengisi polibag. Dalam pembibitan dua tahap, apabila tanah yang tersedia tidak sesuai kriteria, maka dapat didatangkan dari tempat lain. Biaya akan lebih besar namun dapat meningkatkan pertumbuhan bibit. Tanah yang digunakan untuk pengisian polibag dapat berasal dari tanah lempung, tanah di dasar lembah, tanah di sekitar lereng bukit atau lereng, humus tanah liat, atau campuran antara tanah liat padat dengan pasir sungai yang kasar dengan perbadingan 3 : 2 (tergantung konsistensi tanah liat). Tujuannya agar massa tanah dan akar tetap utuh ketika polibag dipotong. Pertumbuhan tanaman tidak maksimal bila menggunakan tanah yang miskin unsur hara dan struktur fisik yang buruk.

Polibag pembibitan utama harus diselesaikan setidaknya satu minggu sebelum benih dijadwalkan tiba atau bibit untuk penanaman. Setiap polibag ukuran 0,4 m x 0,5 m berisi 15 kg tanah dan stiap pekerja mampu mengisi 150-200 polibag besar per hari. Praktek terbaik adalah untuk mengisi polibag dari tumpukan tanah ialah dengan menggunakan traktor yang dilengkapi pisau grader. Perawatan dilakukan untuk menghindari masuknya tanah lapisan atas dan partikel >2.5 cm dihilangkan dengan saringan.   Hal ini umum dilakukan untuk mengisi polibag pada skala besar. Polibag yang telah diisi tanah, kemudian dipantulkan ke tanah agar memadat, disiram hingga jenuh air, dan didiamkan 2-3 hari. Polibag berisi tanah siap digunakan.

III. Penanaman benih dan naungan

Permukaan tanah dibuat lubang 25 mm dan benih ditanam agar prumule sejajar dengan permukaan tanah dan posisi prumule vertikal ke atas. Jika benih ditanam dengan cara dan posisi yang salah, bibit berkembang abnormal atau memutar dan kemudian harus diafkir.

a. Naungan prenursery

Meskipun progeni bervariasi dalam kerentanan terhadap sinar matahari, bibit kelapa sawit tetap diberi naungan untuk bibit muda. Bibit yang tidak diberi naungan menyebabkan kerugian yang tinggi karena mati, pertumbuhan abnormal, atau tumbuh kecil. Pertumbuhan abnormal dimungkinkan dapat normal bila diberi naungan. Bibit yang baru ditanam sangat rentan terhadap kondisi awan, curah hujan, sinar matahari, dan angin. Pemberian naungan dimaksudkan untuk mencegah kondisi tersebut selama 8-10 minggu setelah tanam. Namun, dalam pembuatan naungan perlu diperhatikan sirkulasi udara dan akses cahaya matahari untuk mengurangi efek etiolasi dan kejadian penyakit.   Naungan di prenursery dihilangkan setidaknya dua minggu sebelum penanaman ke pembibitan utama. Sebaiknya naungan tidak dibawah tegakan kelapa sawit dewasa karena bibit dipengaruhi sinar matahari yang diterima. Naungan yang digunakan dapat berupa paranet, pelepah daun nipah, pelepah daun sagu, atau dedaunan pakis. Pembibitan dibangun menggunakan bambu atau bahan lain yang lebih permanen. Sekitar 50-60% bahan naungan mudah disediakan atau kain tenun SarlomTM 50% dapat digunakan kembali berkali-kali.

b. Naungan Pembibitan Utama

Biji berkecambah dalam pembibitan tahap tunggal harus ditanam langsung ke polibag besar dan diatur jarak 0,9 m triagonal. Hamparan bibit yang tidak diberi naungan dapat tumbuh baik, namun kerugian akibat pemusnahan bibit akan lebih besar. Untuk menghindari hal tersebut, perlu dilakukan naungan per individu bibit. Beberapa baris dapat pula diberi naungan seperti pada pembibitan dua tahap.

Untuk menekan biaya pembibitan dan metode naungan yang baik, naungan dapat menggunakan pelepah daun nipah atau sagu yang dibengkokkan di atas pembenihan. Ujung pelepah ditekan kuat ke dalam tanah dan beriorientasi timur-barat dan utara-selatan untuk memberikan keteduhan maksimal setiap hari pada semua bibit. Naungan orientasi timur-barat satu persatu dibuang pada tahap 2 daun. Bibit hanya ternaungi pada saat tengah hari hingga naungan tersebut semua terbuang. Metode alternatif adalah dengan menggunakan jarring atau paranet yang disambung dengan kawat, dalam keadaan setengah bola memanjang timur-barat untuk keteduhan maksimal. Namun, selembar naungan paranet 50% (10 cm x 15 cm) dan dua potong kawat memiliki biaya yang lebih besar dari penggunaan daun nipah.

IV. Pemeliharaan rutin

Pembibitan yang memiliki tanah mudah gugur sebaiknya diberi mulsa cangkang inti kelapa sawit untuk mencegah keguguran tanah dan erosi tanah di sekitar pembibitan. Apabila cangkang inti tidak ada (seperti area bukaan baru), maka dapat digunakan kulit atau kayu kapal. Serbuk gergaji tidak dianjurkan digunakan sebagai mulsa karena menyebabkan imobilisasi tanah dan pupuk N, yang mengakibatkan munculnya gejala defisiensi N pada bibit.

Penyiangan dilakukan sebulan sekali. Permukaan tanah bagian atas polibag dipecah lebih kurang 1 cm. Tanah dibersihkan dari rumput dan ditambahkan tanah bila akar terlihat. Paraquat dan herbisida lainnya dapat digunakan untuk mengendalikan gulma dan menjaga tanah dan jalan tetap bersih. Peralatan semprot harus disimpan dalam keadaan baik untuk menghindari tetesan herdisida atau hanyut yang akan mempengaruhi bibit. Kipas yang sempit (sudut semprot 60-80º) atau nozel kerucut padat lebih diutamakan untuk mengurangi resiko hanyut dan penyalahgunaan penyemprotan bibit.

a. Aplikasi Pupuk

Hanya pupuk majemuk bermutu 12-12-17-2 yang digunakan dalam pembibitan dan memberikan hasil yang memuaskan. Kesalahan cenderung lebih mudah dilacak jika menggunakan satu atau dua jenis senyawa pupuk yang digunakan selama periode pembibitan. Semprotan Foliar atau pupuk N tinggi dapat digunakan sebagai pilihan untuk 2-3 bulan pertama.

Kekurangan unsur hara dapat diperbaiki dan diperlukan apabila seorang pengawas lapangan sudah terlatih mengidentifikasi gejala defisiensi. Pupuk harus tersebar di atas tanah di polibag sekitar pangkal bibit tanpa menyentuh sekitar daun tombak, karena dapat menyebabkan pembusukan. Aplikasi pemupukan harus diawasi dengan hati-hati agar tidak terjadi kelebihan atau kekurangan pupuk yang diberikan. Kelebihan pupuk dapat menyebabkan daun terbakar, busuk dan kadang-kadang kematian tanaman. Kekurangan pupuk dapat meningkatkan pencapaian waktu dewasa yang lebih lama. Kelebihan pupuk N dapat menyebabkan penyakit daun dan menjadi penyebab spot daun. Daun yang sehat menunjukkan daun hijau tua.

b. Hama di Pembibitan

Serangan sporadik hama pembibitan dapat terjadi dan terkadang memerlukan perlakuan khusus. Salah satu hama yang merusak pembibitan adalah tungau laba-laba merah (Oligonycus spp. atau Tetranychus spp.). Hal ini sangat umum dan menyebabkan kerusakan yang dapat dengan mudah diduga sebagai defisiensi Mg. Lesio muncul sebagai bintik klorosis pada permukaan atas daun. Bintik-bintik kemudian menyatu, menjadi kuning dan kemudian menjadi berwarna perunggu. Penelitian terbaru mengungkapkan adanya tungau di bagian bawah daun. Tungau laba-laba merah dapat dikontrol dengan Rogor 40TM, Tedion 2TM (suatu ovacide) atau acaricides lainnya yang sesuai.

Ulat pemakan daun kelapa sawit (Darma trima, Ploneta diducta, Thosea spp., Setora nitens), bagworms (Mahasena corbetti, Metisa Plana, Cremastopsyche pendula), dan ulat lainnya biasa ditemui dan dapat dihilangkan dengan handpicking (pemungutan dengan tangan), atau disemprot dengan pestisida piretroid sintetis.   Hama pemakan duan yang lain adalah kumbang cockchafer (Apogonia spp., Adoretus spp.) dan grass-hopper (Valaga spp.) yang dapat dikontrol dengan cara yang sama. Jangkrik (Gryllotal spp.), kumbang papuana (atau kumbang talas) di Pacific, dan kumbang (Temnoschoita spp.) di Afrika adalah semua jenis hama yang dapat merusak dasar pohon kelapa sawit. Umpan balik merupakan metode yang efektif untuk mengendalikan jangkrik.   Kumbang penggerek dapat dibuang dengan tangan atau dengan menggunakan butiran pestisida klorpirifos. Ulat penggorok (Sesamia sp.) dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan pelepah dan dapat tembus hingga jaringan meristem serta menyebabkan kematian. Dalam insiden tersebut, perlakuan dengan insektisida sistemik seperti Orthene dianjurkan.

c. Penyakit di Pembibitan

Secara umum, bibit yang telah diberi pupuk yang memadai, irigasi baik, dan terpelihara dengan baik tampaknya tidak akan terpengaruh oleh penyakit daun. Penyakit daun mungkin hadir sebagai gejala sekunder penyebab lain dari bibit yang tidak sehat. Untuk itu, dilakukan pemeriksaan terhadap tungau laba-laba merah, dosis pemupukan, dan pengairan sebelum pengamatan gejala penyakit daun.

Terdapat sejumlah penyakit daun yang serius, termasuk Corticium (mungkin disebabkan oleh Corticum solani), curvularia, cercospera (mungkin disebabkan oleh Cercospera elaeidis), dan Helminthosporium. Fungisida seperti ThiramTM, dan ThibenzoleTM efektif untuk pengendalian penyakit daun kelapa sawit.

Penyakit blast yang disebabkan oleh dua jamur, Phytium spp. dan Rhizoctonia spp. Serangan blast merupakan penyakit paling serius di pembibitan kelapa sawit, khususnya di Afrika dan Amerika Selatan meskipun serangan tinggi terjadi di Asia Tenggara. Penyakit ini terjadi dengan pengairan yang tidak memadai, misalnya kegagalan sistem irigasi yang mengakibatkan kelembaban tanah cukup dan suhu tanah yang tinggi. Collante juga disebabkan oleh air yang tidak memadai. Daun bibit yang gagal membuka, penyempitan di bagian tengah dari helaian daun (lamina), dan lipatan tajam di seluruh daun merupakan gejala collante. Bibit yang telah terpengaruh penyakit ini sangat sedikit yang dapat dipulihkan walau sistem irigasi telah diperbaiki.

V. Persiapan tanam di lapangan

Perencanaan pekerjaan di pembibitan dilakukan agar kegiatan pemangkasan bibt dapat di minimalkan. Pemangkasan akar tetap dilakukan untuk persiapan penanaman. Akar yang menembus bagian bawah polibag dan masuk ke tanah harus dipecah dengan memutar atau menggoyang bibit tiga minggu sebelum ditanam di lapangan. Hal ini dapat merangsang pembentukan akar baru dalam polibag dan mengurangi stress pada saat pemindahan ke lapang. Sebelum bibit di tanam di lapang, bibit harus di beri air hingga jenuh untuk mengurangi stress sebelum di muat dan ditanam di lapang. Jika penanaman tertunda dan menyebabkan pelepah daun tumbuh memanjang (etiolasi) di pembibitan, maka, kondisi stress saat penanaman harus dikurangi dengan pemangkasan akar yang telah dilakukan seperti dijelaskan di atas. Selain itu, pada saat pengangkutan, daun harus diikat dengan benang dan dipotong horizontal 1m dari atas, sehingga mempertahankan 1 m daun hijau. Ini lebih baik untuk pemangkasan berbentuk berlian, yang dapat menghilangkan lebih banyak permukaan daun muda yang aktif berfotosintesis. Apabila kondisi cuaca sangat kering atau berangin, tanaman dibiarkan dengan daun-daun yang diikat selama 2-3 minggu pertama di lapangan untuk mengurangi kehilangan air pada saat transpirasi. Penyiraman juga dapat dilakukan untuk mengurangi stress pada saat penanaman dan kehilangan hasil akhir.

VI. Seleksi di Pembibitan

Tujuan seleksi di pembibitan yaitu untuk membuang tanaman kelapa sawit berpotensi hasil rendah dan abnormal sebelum bibit ditanam di lapangan. Dengan pilihan yang tepat, hanya 0.5% dari populasi Dura x Pisifera yang steril dengan penampilan morfologi normal. Proporsi kelapa sawit steril dapat meningkat hingga 25% pada biji yang dipalsukan. Kelapa sawit steril harus dibuang karena tidak menghasilkan tandan buah segar (TBS).

Proporsi bibit dibuang selama pemilihan di pembibitan yang terawat baik pada bahan tanam dari sumber yang memiliki reputasi harus <20%. Jika bahan tanam tidak baik atau pemeliharaan pembibitan diabaikan, proporsi bibit yang dibuang dapat mencapai >35%. Praktek pembibitan yang tidak baik berkontribusi terhadap kerugian akibat banyak bibit yang dibuang. Kesalahan praktek dalam pembibitan, antara lain:

  • Salah penanaman benih (yang mengakibatkan pembentukan tunas bengkok),
  • Pengisian polibag yang tidak baik atau diisi dengan tanah di bawahnya yang mengakibatkan pertumbuhan tidak merata dan adanya runts karena kondisi pertumbuhan yang buruk,
  • Penyiraman yang tidak teratur, terutama bibit muda yang mengakibatkan collante dan perkembangan bibit tidak sempurna,
  • Kurangnya naungan yang diberikan selama tahap awal yang dapat mengakibatkan daun sempit dan perkembangan daun tidak merata),
  • Miskin hama dan pengendalian penyakit pada bibit muda di pembibitan, dan
  • Kehilangan pupuk akibat aplikasi pupuk yang tidak sesuai prosedur penggunaan.

Pemusnahan bibit yang tidak digunakan direkomendasikan melalui 2 tahap. Tahap pertama, pemusnahan dilakukan pada tahap daun ke-3 atau ke-4 atau sebelum dipindahkan ke pembibitan utama. Tahap kedua, pemusnahan terjadi setelah 6-7 bulan di pembibitan utama, atau setelah 8-9 bulan di pembibitan satu tahap. Kondisi tersebut menunjukkan tanaman kelapa sawit yang telah tumbuh normal dan daun membuka penuh, namun kanopi tidak tertutup. Pemusnahan tambahan atau tahap ketiga dan keempat dapat dilakukan ketika tanaman dikeluarkan dari pembibitan untuk tanam di lapangan, namun ini mungkin tidak diperlukan jika putaran pemusnahan sebelumnya telah dilakukan secara menyeluruh.

Jenis bibit-bibit berikut harus dibuang 6-8 minggu setelah penanaman bibit:

  • Daun sempit. Helaian daun datar dan seperti rumput, yang menyebabkan seperti daun rumput,
  • Daun berkerut. Daun rusak karena garis dan lipatan melintang, khususnya di ujung daun. Daun yang berkerut, menggulung, meruncing, dan gagal membuka harus di afkir di pemusnahan tahap awal.
  • Daun menggulung. Daun menggulung ke dalam sepanjang daun dan berkerut. Daun menggulung dan berkerut dapat disebabkan faktor non-genetik seperti serangan serangga dan kekeringan secara fisiologis atau permanen.
  • Daun memutar. Ini disebabkan karena penanaman benih berkecambah terbalik. Posisi prumula berada di bawah dan pada saat tumbuh ke atas yang menyebabkan daun menjadi sebagian menggulung.   Bibit tersebut harus dibuang.

Bibit yang menunjukkan vigor abnormal pada bentuk dan karakteristik daun harus diafkir pada tahap pemusnahan kedua setelah daun sepenuhnya membuka dan sebelum di tanam di lapangan. Penampilan ‘off-types’ yang sering muncul di pembibitan antara lain:

  • Pertumbuhan terhambat atau kerdil. Secara morfologis bibit mirip dengan bibit lainnya yang umurnya sama, namun pertumbuhannya jauh lebih kecil.   Bibit tersebut tampaknya cenderung diserang jamur Curvularia spp.   Bibit kerdil harus di afkir.
  • Flat top. Daun baru semakin pendek dan pertumbuhan tidak sepadan dengan daun yang lebih tua serta memberikan penampilan bibit yang tidak berkembang.
  • Tumbuh tegak. Pertumbuhan bibit sangat tegak. Jika dewasa, tanaman menghasilkan produksi sangat rendah dan terkadang steril atau jantan.
  • Daun terkulai. Daun terkulai ke bawah dan ketegakan daun berbeda dengan bibit normal. Bibit menunjukkan abnormalitas dan diafkir.
  • Bentuk juvenile.   Pinnae terlambat berkembang pada perkembangan daun tua dan daun tidak membuka sempurna.
  • Ruas pendek. Daun sangat banyak di rachis, seolah-olah daun sepanjang rachis.
  • Ruas lebar. Daun lebar sepanjang rachis yang menunjukkan bibit membuka sangat lebar. Ini mungkin disebabkan etiolasi di pembibitan dimana jarak antar bibit sangat dekat. Bibit yang tidak berkembang normal akibat etiolasi harus diafkir.
  • Daun sempit. Daun sempit karena memutar ke arah lamina daun pada aksis daun. Kondisi ini sering ditemukan dengan kelainan bibit lainnya. Daun sempit seringkali diikuti rachis yang tidak sempurna.
  • Penyisipan daun akut. Ini merupakan karakteristik umum dari bibit yang dinyatakan normal pada morfologi umum.
  • Daun pendek. Bagian atas lamina daun tumpul dan tidak lancip. Daun cenderung pendek dan agak luas.

Jika benih yang dibeli bermutu dan teknik pembibitan yang tepat, maka bahan tanam siap di tanam di lapangan 12-14 bulan selama tidak terdapat gangguan hama penyakit.

LAND-CLEARING (PEMBUKAAN LAHAN) DAN PERSIAPANNYA

I. Penanaman baru

a. Perencanaan

Penanaman kelapa sawit yang terburu-buru seringkali tidak dilakukan survei tanah atau lahan. Akibatnya, perkebunan kurang memiliki informasi dasar yang diperlukan untuk desain penanaman dan perkembangan kebun. Syarat pertama untuk perencanaan penanaman baru adalah peta lahan yang akurat, yang menunjukkan jenis tanah, topografi, dan drainase (Paramanthan, buku ini).   Hal ini akan membantu dalam pembuatan desain perkebunan untuk topografi. Citra satelit yang tersedia di sebagian besar wilayah di dunia, dapat digunakan untuk menyediakan peta dasar (misalnya skala 1:10.000 atau kurang) bahkan untuk daerah-daerah masih tertutup oleh hutan. Peta lahan dapat membantu mengidentifikasi daerah yang tidak cocok berdasarkan topografi atau drainase yang buruk. Pengintaian udara dengan helicopter atau pesawat terbang rendah dapat membantu mengidentifikasi daerah yang memerlukan pemerikasaan lebih dekat.

Tim survei tanah melakukan perincian jenis tanah dan kondisi drainase dengan memotong garis rentis atau jalur pada grid paralel melalui pengembangan wilayah. Garis rentis harus dipotong pada frekuensi minimum 1,000 m x 1,000 m, tetapi daerah dengan medan yang sulit dan area drainase yang berbeda sangat kompleks harus disurvei pada intensitas yang lebih besar. Setelah garis rentis telah selesai, tim survei yang kompeten dan ahli tanah memeriksa grid tersebut. Contoh-contoh tanah harus diambil pada setiap grid atau lebih jika diperlukan. Di daerah gambut, kedalaman dan komposisi gambut harus dinilai.

Posisi dan arah aliran drainase secara alami, serta derajat dan arah lereng yang terdapat di medan tersebut harus dicatat di peta. Semua informasi kemudian dipindahkan ke peta wilayah tersebut dan harus tersedia sebelum dimulainya pekerjaan pembangunan. Hal ini untuk mencegah kesalahan besar dalam desain pembangunan dan kegagalan total yang sering terjadi saat langkah awal penting yang diabaikan.

Gambaran konvensional untuk tanah datar adalah dengan membangun sub-jalan utama atau sekunder yang bercabang ke jalan-jalan utama pada interval beberapa kilometer. Jalan panen bergabung dengan jalan sekunder untuk membentuk grid dengan interval yang mengakomodasi jarak yang layak saar transportasi tandan buah oleh pemanen atau peralatan mekanis (Gambar 1.). Jarak maksimum yang dapat ditempuh adalah jarak antara garis pusat di blok penanaman dan jalan panen dan rata-rata jarak setengah dari garis pusat dan jalan panen.

Pertimbangan harus diberikan pada poin ini, karena kemungkinan mekanisasi pemanenan tandan buah dan operasi perkebunan lainnya. Transportasi buah secara mekanik dan aplikasi pupuk yang akan dilakukan, maka perlu dirancang tata letaknya untuk meminimalkan lalu lintas kendaraan. Kerusakan tanah akan diminimalkan jika perjalanan kendaraan satu arah, yaitu sampai ke garis tengah dan kemudian kembali ke jalan sepanjang jalan panen berikutnya atau sekali melalui blok dari jalan ke jalan. Pada kasus tersebut, jalur konvensional dengan panjang 320 m setiap dua baris pokok kelapa sawit akan menyediakan akses ke 70 pokok kelapa sawit. Saat panen puncak, di perkebunan dapat menghasilkan 30 ton TBS/ha dengan interval panen 10 hari. Transportasi yang dibutuhkan 570 kg TBS setiap jalan. Sehingga, kendaraan yang diperlukan memiliki kapasitas ≥750 kg untuk meminimalkan pemadatan tanah. Jangka ideal untuk kendaraan besar atau lebih kecil dapat dihitung dengan cara yang sama.

Jalan panen biasanya memiliki blok terpisah dengan lebar 300-330m. Lebar jalan 10 m, garis pusat jalan panen 300-340 m secara terpisah, dan blok perkebunan 30-33ha. Jarak antara jalan-jalan utama memiliki banyak jarak tanam yang digunakan. Sebagai contoh, pada jarak 9 m (143 pohon/ha) lebar blok dapat mencapai 37 pohon atau 333 m. Ini merupakan kepadatan sekunder jalan ideal dan jalan panen 40 m/ha. Kepadatan jalan yang tinggi dan tidak biasa biasanya beberapa perkebunan memiliki interval terkecil 160 m dan kepadatan jalan >100 m/ha. Tujuannya untuk merancang jalan yang menyediakan akses memadai tanpa mengakibatkan biaya pemeliharaan jalan yang berlebihan.

Lereng harus diukur di dataran rendah di mana drainase akan diperlukan. Jalan sekunder mengikuti arah outlet pembuangan utama, yang sedekat mungkin dengan drainase alami. Aliran drainase harus mengikuti arah jalan panen, yaitu sepanjang blok garis pusat membentuk batas, atau sepanjang sisi jalan untuk mempertahankan jalan panen. Tata letak saluran drainase tidak mengganggu jalan pemanen dan kehilangan hasil penen, serta harus mengikuti arah baris tanaman kelapa sawit, yaitu tegak lurus terhadap jalan panen. Desain ini memberikan kondisi yang sesuai untuk pengendalian banjir atau luapan air dari saluran irigasi.

Hal ini sering digunakan untuk menyediakan air di musim kering di daerah alluvial dan menjadi penting di lahan gambut dan tanah asam sulfat. Rencana layout lapangan untuk jalan dan drainase perlu mempertimbangkan poin nyaman untuk kontrol air di jembatan atau gorong-gorong di persimpangan jalan panen atau jalan sekunder. Pada umumnya, tanah dengan asam sulfat (tanah liat) >70 cm di bawah permukaan tanah tidak harus dikembangkan untuk kelapa sawit. Kedalaman Gambut >4 m juga dianggap tidak cocok. Paramanthan (volume ini) memberikan penjelasan rinci tentang teknik pengelolaan air untuk tanah gambut.

Di daerah berbukit, pola jalan grid yang pertama dilakukan di atas peta topografi untuk menentukan di mana jalan grid harus disesuaikan. Penyimpangan ditandai untuk mencapai standar maksimum gradien 10º untuk jalan yang tidak ditandai. Di daerah bertingkat yang sangat curam, jalan panen harus membelah garis kontur. Frekuensi jalan dirancang untuk mempertahankan jarak daerah bertingkat sepanjang garis bertingkat 100-150 m.   Jika bentuk lahan merupakan pegunungan, maka jalan panen dibuat membagi dua tingkat secara berkala. Bukit individu diperlakukan secara terpisah dengan membangun jalan spiral dan berputar hingga ke puncak bukit. Kebutuhan untuk penyimpangan pola standar akan meningkatkan kepadatan jalan hingga 50%. Dengan demikian, tipe 1,000 m x 330 m grid dasar dapat menyebabkan kepadatan jalan meningkat dari 40 m/ha menjadi 60 m/ha.

b. Pembukaan lahan

Karena tanah lapisan atas di tanah tropis dataran tinggi biasanya tipis dan rapuh, pembukaan lahan harus melibatkan pencampuran tanah. Kerusakan bahan organik (termasuk sisa kayu) dengan membakar juga harus dihindari. Pengolahan tanah secara mekanik dilakukan untuk memecah bongkahan tanah yang terjadi secara alami maupun sebagai hasil dari penggunaan lahan sebelumnya. Meskipun demikian, akar kelapa sawit biasanya dapat tumbuh melalui bongkahan tanah karena dapat menembus jauh lebih besar dari akar tanaman dikotil lainnya. Tanah mengalami perubahan selama pembangunan struktur pengendalian erosi atau kontruksi bangunan, sehingga perlu pengawasan staf manajemen yang berpengalaman untuk meminimalkan gangguan struktur tanah tersebut.

Dalam segala situasi, drainase utama dan jalan harus diidentifikasi dan dibersihkan terlebih dahulu. Jika drainase intensif diperlukan, eskavator atau buldoser dapat digunakan. Saluran drainase alami harus dibersihkan dan dialirkan. Saluran utama biasanya digali sejalan dengan jalan sekunder dan digunakan untuk membangun fondasi jalan.

c. Pembukaan lahan sisa hutan

Saat ini, hutan asli yang digunakan untuk penanaman kelapa sawit sulit temui. Biasanya, untuk membuka lahan sisa hutan, hutan dibabat habis hingga akarnya, bahkan dibakar. Hal ini menyebabkan kesuburan tanah berkurang, LCP hilang, dan terjadi erosi atau runoff. Di Asia Tenggara, tanaman dibabat dengan tangan, kemudian dibakar. Teknik ini menyebabkan terganggunya bahan organik di tanah, erosi air dan tanah selama LCP belum tumbuh hingga menutupi permukaan tanah.

Terdapat teknik yang lebih baik yang telah di lakukan pertama kali di Papua Nugini. Empat langkah untuk zero-burn land clearing (pembukaan lahan tanpa pembakaran):

  1. Tandai sistem jalan dan bersihkan vegetasi.
  2. Tandai baris pokok. Jika pokok berupa garis lurus, tandai garis berapa rata-rata lebar sepanjang sisi jalan. Jika jalan tidak lurus, tandai garis utama dan jalan tengah jika jalan berdasarkan pola grid.
  3. Bersihkan semua kotoran dari baris penanaman lebar ±2 m. Jika ini dilakukan, ini dapat menghindari kegiatan pembakaran dan melindungi tanaman. Jalan dapat dibersihkan dengan pemandu bendera yang dipasang pad sisi jalan atau mengikuti garis tanda utama yang menandakan baris penanaman. Tanda ini akan memandu bulldozer untuk memudahkan bekerja dan meminimalisasi gangguan tanah dan struktur tanah.
  4. Tanam kembali LCP pad tiap sisi dan membuang gulma selama LCP belum menutupi seluruh bagian permukaan tanah. Garis tanam tetap terjaga untuk akses selama periode dewasa hingga panen.

Sebagai alternatif, dapat juga dilakukan pembersihan dengan mesin untuk membersihkan baris tanaman. Metode ini banyak digunakan oleh pekebun untuk meningkatkan akses mesin itu bekerja. Untuk area tanah yang tidak kompak, dapat dilakukan kombinasi antara mesin dengan tangan menggunakan cangkul. Prosedur yang sama dilakukan juga untuk tanah dengan berkontur atau terasering. Walaupun kondisi tanah ini memerlukan biaya yang lebih tinggi, namun dapat membantu mengurangi erosi tanah akibat banjir atau hujan.

d. Pembersihan Gulma

Pembersihan tanah dari gulma biasanya dilakukan dengan pembakaran. Beberapa gulma tumbuh setelah hutan dibersihkan dan dibakar, antara lain alang-alang (Imperata cylindrical) and beberapa gulma adaptif yang tidak bersifat ekonomi. Pembakaran gulma dilakukan pada selama musim kemarau. Akibat dari pembakaran ini adalah struktur tanah yang memburuk, kesuburan tanah berkurang, terjadi erosi, dan pada beberapa kasus, tidak cocoknya peralatan yang digunakan. Perubahan tanah tidak terjadi apabila kita melakukan pembersihan gulma dengan herbisida sistemik. Herbisida lebih efektif diaplikasikan pada gulma yang tumbuh ke atas dan efek pembakaran. Saat gulma mati, LCP ditanam dan tumbuh hingga menutupi permukaan tanah. LCP menunjukkan permukaan yang lembab, meningkatkan biota tanah, kehidupan bawah tanah meningkat, dan melindungi tanah dari runoff.

Alasan penyebab tidak seluruh bagian tanah tertutupi oleh LCP, antara lain 1) perbedaan tingkat kesuburan, yaitu tanah berpasir atau tanah liat yang tertutupi gulma atau vegetasi yang sehat dan tidak cocok untuk perkembangan kelapa sawit, 2) defisiensi akut unsure hara (misal K), ini dapat diperbaiki dengan aplikasi pupuk mineral, 3) tidak umum, maksudnya tanah sangat sedikit atau tanah liat yang berbatasan dengan batas air tanah (misal tanah kongga di pulau Solomon).

e. Lahan Terasering

Setelah tahap pembersihan, LCP harus dipertahankan untuk terus tumbuh menutupi permukaan tanah. Jika pertumbuhannya tidak optimal, erosi dapat terjadi. Tanah dengan kemiringan ≤10º dan kondisi ≥500m/ha, erosi dapat dicegah dengan membuat terasering yang akan mencegah erosi dan meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah. Jika penanaman dilakukan pada kemiringan 10-20º, maka desain penanaman harus memperhatikan 1) kontrol ketersediaan air dari erosi dan runoff, 2) peningkatan produktivitas pekerja dengan meningkatkan area kerja pemanen, 3) pencegahan tandan yang terpotong akibat proses pemanenan, dan 4) pengurangan kehilangan aplikasi pupuk mineral.

Model terasering dapat dilakukan untuk 1) meningkatkan akses panen termasuk alat pembawa hasil panen, 2) meningkatkan konservasi air dan mengurangi runoff, dan kelembaban tanah di musim kemarau, 3) mengurangi atau meminimalkan erosi, dan 4) program konservasi bahan organik dan 4) peningkatkan penggunaan efisiensi pupuk.

II. Replanting (Penanaman Kembali)

Replanting dilakukan apabila tanaman sudah tua, terserang hama penyakit, produktivitas tidak ekonomis, dan tinggi tanaman sudah menyulitkan proses pemanenan tandan buah. Replanting dapat dikatakan peremajaan kembali tanaman kelapa sawit yang telah ditanam dan LCP. Pokok kelapa sawit ditebang atau diracun dengan gliposat dan menata ulang infrastruktur yang ada di dalam kebun. Sebelum replanting dilakukan, terlebih dahulu di buat layout atau peta lahan sebelum lahan tersebut ditanami kembali. Calopogonium caeruleum dibiarkan tetap berada di kebun sebagai vegetasi tanah. Terkadang LCP dapat tumbuh dari benih yang mengalami dormansi.

Prinsip dari replanting adalah memusnahkan tanaman lama dan diganti dengan tanaman baru. Pemusnahan tersebut dapat dilakukan dengan eskavator, suntikan racun pad batang pokok, atau dengan penebangan manual. Lahan kosong tersebut kemudian dibuat lubang tanam dan ditanam tanaman baru. Namun, metode replanting ini terdapat kelemahan, yaitu tidak adanya pengolahan lahan sebelum penanaman kecuali daerah lubang tanam, terdapat kemungkinan adanya Ganoderma yang dapat menginfeksi tanaman baru, dan batang yang telah lapuk dapat menjadi breeding sites (tempat perkembangbiakan) Oryctes. Kendala tersebut dapat diatasi dengan menaman LCP yang menutupi seluruh permukaan tanah (misal Mucuna puriens var. utilis) dengan meningkatkan dekomposisi atau proses pelapukan batang dan mencegah tempat perkembangbiakan Oryctes. Selain itu, tanah di sekitar lubang tanam baru di biarkan beberapa waktu dan memperbaiki saluran drainase.

LAHAN UNTUK PENANAMAN

I. Kerapatan Tanam

Jarak tanam kelapa sawit harus dipilih setelah persiapan lahan mengingat jarak tanam akan mempengaruhi tatanan jalan dan pengaturan terasering. Penyedia benih adalah pihak yang paling baik untuk merekomendasikan kerapatan tanam yang sesuai karena mereka tentunya sudah mengamati terlebih dahulu karakter tumbuh benih yang mereka jual pada berbagai macam lingkungan dan pada jarak tanam yang berbeda, bahkan mungkin pada kebun percobaan yang berbeda. Sejumlah kesimpulan dapat dibuat dari masukan berbagai pihak yang telah berpengalaman.

Kondisi rata-rata hasil panen pada saat matang panen tidak akan banyak berbeda jika kerapatan berkisar 110-160 kelapa sawit/hektar. Jarak tanam yang sangat rapat menghasilkan panen yang lebih besar pada beberapa tahun panen pertama yakni saat hasil yang panen besar bisa dipergunakan untuk membayar/menutupi pinjaman dengan cepat. Namun, jarak tanam yang rapat menghasilkan kanopi yang sangat rapat sehingga cahaya matahari sangat sedikit masuk ke permukaan tanah antara 8 dan 14 tahun setelah tanam (Breure, volume ini). Hal ini mengakibatkan berkurangnya keragaman tanaman berbunga (populasi predator hama juga menjadi lebih kecil) dan kondisi tanah yang gundul. Setelah periode ini, penetrasi cahaya ke permukaan tanah meningkat dikarenakan adanya perbedaan tinggi tanaman, dan vegetasi penutup tanah biasanya akan langsung tumbuh dengan cepat.

Variabilitas didalam kecepatan pertumbuhan tanaman lebih kecil diantara bahan induk yang sangat seragam (misalnya klon, tanaman hasil persilangan D x P dari background genetik yang sempit) dan cenderung berdampak pada rendahnya intensitas sinar matahari yang masuk, meskipun setelah melewati fase kanopi. Oleh karenanya, penting untuk menanam klon baik pada kerapatan yang rendah di awal penanaman maupun melakukan thin-out (penjarangan) klon sawit pada kerapatan yang tinggi (von Uexkull, volume ini).

Adalah suatu aksioma bahwa tanah yang semakin subur akan menghasilkan hasil panen yang lebih besar, sehingga kerapatan tanam optimal memiliki hubungan terbalik dengan kesuburan tanah. Menanam dengan jarak yang rapat diikuti dengan penjarangan ketika kanopi menjadi terlalu rapat terkadang disarankan, namun hal ini tidak disukai oleh banyak pekebun. Seringkali terlihat bahwa pada saat penjarangan dilakukan hingga 30% dari kerapatan tanam awal (143-160/hektar), tidak ada penurunan maupun peningkatan hasil panen yang signifikan. Akan tetapi, respon yang drastis dari penjarangan pernah tercatat pada area lahan curam yang tidak disertai usaha mempertahankan jarak sawit di areal yang horisontal (von Uexkull, volume ini) dan pada pertanaman dengan kerapatan tertentu (misalnya kebun percobaan dengan jarak tanam ganda). Pendekatan praktis adalah menanam pada tepi yang tinggi dengan jarak tanam optimal (~145 sawit/hektar) dan menjarangkan satu sawit di setiap kelompok yang terdiri dari 7 tanaman sawit ketika kompetisi antar tanaman sawit meningkat.

II. Pengaturan Baris

Pendekatan yang tepat terhadap pengaturan barisan tanaman kelapa sawit adalah melihat keseluruhan area yang akan ditanam berdasarkan titik-titik jarak tanaman kelapa sawit yang berbentuk segitiga. Titik penanaman ditiadakan hanya jika : pertama, untuk pembuatan jalan-jalan utama (selebar satu baris tanaman kelapa sawit) dan jalan-jalan untuk panen (ukurannya selebar sudut pertama daris segitiga penanaman); kedua, di wilayah yang tidak bisa ditanami (misalnya, sungai, air terjun atau rawa yang tidak bisa dikeringkan) (Gambar 2).

Jarak antara titik-titk penanaman pada area landai harus selalu diukur pada bidang datar. Lokasi jalan harus diubah dari bentuk standar untuk mengakomodasi area berbukit atau lahan curam; di daerah seperti ini, jalan-jalan lah yang harus disesuaikan dengan titik-titik penanaman, dan bukan sebaliknya. Di beberapa perkebunan, sudah menjadi kebiasaan menandai blok secara asal dan kemudian mengisi titik-titik penanaman, namun ini bisa menyebabkan pengaturan baris yang tidak tepat dan tidak rapi sehingga kerapatan tanam yang direncanakan tidak bisa diterapkan. Untuk menghasilkan tegakan-tegakan kelapa sawit yang teratur rapi dengan jarak tanam yang tepat, baris utama atau raja harus ditandai dengan sangat tepat, akurat dan permanen, sebelum menandai layout jalan dan titik-titik penanaman didalam barisan.

Jarak tanam segitiga mudah diperoleh dengan pertama kali menghitung lebar jalan (0.866 x jarak tanam segitiga) dan kemudian menandai tiap titik tanam pada sudut kanan jalan menggunakan kawat baris sehingga menghasilkan pola petak-petak reguler. Baris yang berselang-seling digunakan untuk memperoleh jarak segitiga yang diinginkan. Pada kondisi dimana jalan-jalan tidak berada pada jalur penanaman, baris tanaman diatur pada sudut kanan ke arah tengah atau baris raja.

Tegakan-tegakan sawit dengan jarak yang rapi dapat dibuat pada area berkontur atau terasering dengan menggunakan formula sederhana dan metode ‘ready reckoner’. Kontur baru diperlukan ketika jarak antara dua terasering lebih dari 1.33 kali lebar jalan utama. Dengan kata lain, tersering tidak diperluas (dilanjutkan) ketika jarak antara terasering yang ditambahkan dan terasering terdekat kurang dari 0.66 kali lebar jalan utama. Ketika pengaturan baris disepanjang terasering dilakukan, jarak antara tanaman sawit bervariasi didalam rasio yang berkebalikan terhadap jarak horisontal diantara barisan penanaman pada terasering yang sedang ditata dan terasering disekitarnya yang lebih rendah. Setelah itu, metode ‘ready reckoner’ diterapkan pada jarak tanam yang telah dipilih (Tabel 3).

III. Penanaman Kelapa Sawit

Penanaman sebaiknya dilakukan selama periode awal musim penghujan. Kebun seluas 10 ribu hektar tidaklah sulit untuk menanam kembali ~4% area yang ditanami per tahun selama tahap ini. Merencanakan pembukaan areal baru adalah masalah lain, tetapi biasanya penting untuk menanam di sepanjang tahun kecuali bulan-bulan yang paling kering. Perencanaan kebun yang baik dan perhatian yang serius terhadap detail pengelolaan lahan selama penanaman memungkinkan kita untuk melakukan hal ini dengan sedikit resiko. Pada kondisi apapun, penanaman kelapa sawit tidak boleh dilakukan pada tanah yang kering. Berkaitan dengan ini, bahkan kelapa sawit yang ditanam di kondisi lingkungan yang ideal sekalipun akan mengalami stres penanaman (transplating) jika secara ceroboh menanam bibit dengan kualitas buruk. Perhitungan/pengukuran yang tepat juga harus dilakukan untuk mengendalikan hama mamalia (misalnya babi, tikus) sebelum penanaman dimulai.

Penanaman yang tepat dimulai dengan menyiapkan sebuah lubang yang cukup besar sehingga tanah galiannya bisa menutupi sekeliling bibit. Pada tanah yang sangat subur, mungkin akan sedikit lebih baik jika menanam di lubang yang lebih besar. Akan tetapi, pada areal di belakang terasering yang luas, kelapa sawit sebaiknya ditanam didalam lubang yang besar (diameter 1 m, kedalaman 1 m). Lubang tersebut harus diisi kembali dengan topsoil dari tanah di atas terasering dicampur dengan residu tanaman sawit dari pabrik (misalnya residu yang kering dari pabrik minyak kelapa sawit) dan diberi mulsa TBK (tandan buah kosong) dengan rata-rata berat 250-300 kg/sawit pada radius 2 m disekeliling bibit. Pada metode ini, excavator diperlukan untuk menggali lubang.

Fairhurst et al. (1998) mengajukan metode pembuatan lubang untuk tanah gambut, menggunakan alat tambahan yang dipasang ke eskavator sehingga bisa langsung memadatkan gambut untuk memperbaiki stabilitas tanah. Alat tersebut juga dapat mempercepat penyusutan gambut. Metode alternatif lain adalah memadatkan tanah dengan buldozer dan menggali lubang dengan diameter 1 m dan kedalaman 0.5 m dan menanam sawit didalam lubang ini sehingga gambut yang ada disekitarnya bisa mengering (menyusut).

Lubang digali sesaat sebelum bibit diletakkan sehingga tanah didalam lubang tidak mengering sebelum penanaman. Penanaman yang terlalu dalam dapat menyebabkan pertumbuhan yang jelek, khususnya di tanah liat. Sebaliknya, penanaman yang terlalu dangkal dapat menyebabkan kelapa sawit rebah karena tidak kokoh (khususnya di tanah gambut). Bibit kelapa sawit seharusnya ditanam sedemikian rupa sehingga tanah pembibitannya rata dengan permukaan lahan tanam.

Prosedur untuk transplanting adalah sebagai berikut:

  1. Bibit sawit terlebih dahulu disiram sebelum dipindah ke lahan. Bibit tersebut harus langsung ditanam jika sudah dikeluarkan dari pembibitan.
  2. Aturlah kedalaman lubang untuk menyesuaikan dengan batang utama bibit dengan menambah atau mengurangi tanah. Pastikan tanah di dasar lubang cukup padat (namun tidak terlalu padat dan keras).
  3. Lepaskan polibag dan tempatkan kelapa sawit tegak pada lubang.
  4. Campur pupuk rekomendasi (biasanya P dalam bentuk DAP) dengan topsoil untuk mengisi lubang disekeliling batang utama.
  5. Tambahkan tanah sedikit demi sedikit disekitar bibit. Tanah harus memenuhi keliling bibit, bisa menggunakan tongkat berujung bulat dengan diameter 4 cm.

Kelapa sawit yang telah di pindah tanam dengan tepat ditandai dengan susah untuk dicabut (ini penting khususnya untuk daerah dimana banyak babi berkeliaran). Pekebun harus selalu menge-cek beberapa baris setelah pindah tanam untuk memastikan bahwa tanaman sawit telah tertancap dengan baik di lubang tanam untuk menghindari stres setelah pindah tanam. Jika setelah tanam terjadi masa kering, inti tanah akan menyusut/mengerut dan kering. Jika tanah telah bersatu dengan baik pada lubang tanam disekitar bibit, maka stres setelah pindah tanam biasanya ‘hanya’ diakibatkan karena kekurangan air.

Jika tidak ada hujan didalam seminggu setelah tanam, sawit harus segera disiram (2 L/tanaman) dan 1 minggu berikutnya. Polibag bekas pembibitan bisa digunakan sebagai mulsa plastik menutupi dasar tanaman. Di hampir semua kondisi terkecuali tanah organik, terdapat beberapa keuntungan menggunakan mulsa dengan EFB, jika ada, untuk sawit yang baru ditanam, atau dengan bahan organik lainnya (misalnya potongan rumput seperti yang dilakukan di Afrika). Respon terhadap pemulsaan biasanya sangat terlihat pada tanah yang telah kehilangan BOT.

Sebelum memulai penanaman, sangat penting melakukan beberapa langkah untuk memastikan bahwa hama mamalia pengganggu (misalnya babi, monyet, gajah, pemakan rumput (Thryonomys spp.) [di Afrika] ) sudah tidak ada di lahan, bisa juga dengan memasang penghalang agar tidak masuk ke lahan.

PENANGANAN TANAMAN SAWIT MUDA DAN IMMATURE (DEWASA)

Selama periode penanaman, keputusan pengelolaan harus dibuat berdasarkan ‘hari per hari’ dan mengikutsertakan manajer senior sebagai ‘input’ masukan terbesar didalam program penanaman. Segera setelah penanaman selesai, diperlukan usaha-usaha untuk mengatur lahan agar bisa diawasi dibawah manajemen secara rutin. Usaha tersebut bisa berupa penyediaan teknisi penyisipan (supply-planting operations) untuk menjaga pertumbuhan sawit tetap serentak dan bisa mencapai kanopi LCP yang optimal, sehingga dapat mengurangi kebutuhan untuk pembersihan gulma (penyemprotan herbisida selektif dalam baris, pembersihan gulma manual, dan pembersihan jalan setapak). Di saat pengendalian hama sudah dilakukan dengan tepat, maka jumlah tanaman mati/terserang akan berkurang dan penyisipan (supply-planting) dilakukan si saat tiga bulan setelah tanam. Tanaman kerdil dan off-type dibuang selama periode penyisipan kedua (enam bulan setelah tanam). Penyisipan tidak banyak bermanfaat jika dilakukan > 18 bulan setelah tanam, kecuali terdapat sekelompok tanaman yang memang harus diganti.

Perkebunan yang baru dibuka dan masih dibawah pinjaman bank, sangat penting untuk mencapai panen awal dengan produksi tinggi sehingga keuntungan dapat digunakan untuk melunasi hutang bank dengan cepat dan mengurangi bunga pinjaman. Namun, panen awal dengan produksi tinggi bisa gagal diwujudkan disebabkan kecerobohan manajemen selama 3 tahun setelah penanaman/pindah tanam (Gambar 3).

Selain biaya yang dikeluarkan tetap sama, manajemen yang buruk dapat berakibat pada perkembangan tanaman yang jelek dan akhirnya menghasilkan produksi rendah di masa panen awal. Berikut adalah beberapa masalah agronomi yang umum dijumpai penyebab hasil/panen awal yang rendah :

  • Gagal untuk menyisip tanaman yang mati/terserang penyakit dan hama pada area yang baru ditanami; pembersihan gulma yang tidak optimal; kurangnya drainase; dan kualitas penanaman yang buruk;
  • Pemberian pupuk yang tidak tepat (jumlah yang tidak cukup; teknik aplikasi yang salah; adanya tanaman-tanaman yang terlewatkan; minimnya akses untuk pelaksanaan aplikasi pupuk)
  • Gagal untuk mencapai kanopi LCP (misalnya dikarenakan defisiensi P; pembersihan gulma yang tidak optimal);
  • Pelepah/sisa pangkasan langsung dibuang selama masa pembersihan gulma
  • Tanaman sawit rusak dikarenakan kecerobohan dalam penyemprotan herbisida sistemik (misalnya 2,4-D, gliposfat);
  • Tanaman sawit mengalami kemunduran didalam pertumbuhannya akibat stres transplanting;
  • Bibit terlalu lama di pembibitan tanpa pemangkasan akar terlebih dahulu sebelum transplanting.

Namun, tidak bisa juga dikatakan bahwa panen awal yang besar diperoleh hanya dengan perhatian serius terhadap manajemen lapangan, yang berarti adanya tenaga kerja yang cukup, susunan kerja lapangan yang terencana dengan baik, pemenuhan alat dan bahan yang tepat guna pada waktunya, dan pemeriksaan lapangan yang konstan.

I. Pembersihan gulma di piringan tanaman dan penutup lahan, dan pembuatan jalan setapak

Pada awalnya, pembersihan gulma memiliki dua tujuan: untuk menjaga kebersihan piringan (lingkaran tanam) sawit dan untuk menghasilkan kanopi LCP yang penuh. Namun, selain itu, maka hal penting lainnya adalah akses (jalan) bagi tenaga kerja dan staff manajemen juga harus tersedia. Pada tahap awal sekali, pembersihan gulma dengan tangan lebih dianjurkan, akan tetapi penyemprotan herbisida bisa dimulai secara bertahap sehingga bisa menekan biaya dan kebutuhan akan tenaga kerja.

Herbisida tunggal bisa digunakan baik didalam penyemprotan ‘circle-spray’ maupun ‘spot-spray’. Yang lebih sering dilakukan adalah mengkombinasikan herbisida gulma rumput dengan herbisida gulma daun lebar, sehingga bisa menghambat penyebaran LCP (misalnya 50 mL starene atau 20g 20 g AllyTM [200 L air]). Penyemprotan spot-spray herbisida gulma daun lebar dilakukan terpisah untuk mengontrol gulma merambat (misalnya Mikania micrantha dan Merremia umbellata) di LCP. Herbisida efektif sudah banyak tersedia, namun di dalam 2 tahun pertama setelah penanaman, herbisida kontak (misalnya paraquat) lebih sesuai untuk program circle-spraying karena hanya menimbulkan sedikit resiko kerusakan pada sawit. Mulai tahun ketiga setelah penanaman, herbisida sistemik untuk target umum (misalnya glyphosate) boleh digunakan.

Akses yang memadai untuk para pekerja dan staf manajer adalah hal lain yang tak kalah penting, meskipun tidak perlu memaksakan adanya sistem yang utuh pada permulaan pembukaan kebun. Tanpa jalur-jalur jalan setapak, sangat sulit bagi pekerja untuk mengangkut bahan (misalnya pupuk, herbisida) ke dalam kebun dan bekerja secara efisien. Selain itu, sulit bagi staff manajer untuk melakukan pemeriksaan kualitas dari pekerjaan para buruh. Jalan-jalan setapak harusnya bebas dari halangan (misalnya batang pohon, sampah) dan gulma sehingga lalu lintas (jalan) alat transportasi didalam kebun menjadi lancar.

Bergantung pada tipe pembersihan lahan, pembuatan jalan setapak bisa dilakukan dengan membersihkan area tertentu dengan penyemprotan herbisida (dilakukan 2 kali berturut-turut dengan jarak penyemprotan 3 minggu) dilanjutkan dengan penyemprotan rutin, atau dengan menggunakan alat yang bisa menghilangkan aral/hambatan di area yang akan dibuat jalan setapak (jalur-jalur jalan didalam kebun).

Jalur-jalur didalam kebun dibuat di setiap 8 baris (Tahun 1) dan setiap 4 baris (Tahun 2-3) dan disepanjang garis tengah antara blok sehingga bisa menjadi akses untuk perawatan, pemanenan dan inspeksi lapangan. Akan tetapi, diluar dari metode pengangkutan buah didalam kebun (manual, dengan hewan ternak, traktor mini), sangat penting untuk membuat sistem jalan yang tepat didalam setiap baris yang berselang-seling sehingga kendaraan angkut dapat bebas keluar masuk kebun. Jalur-jalur tersebut biasanya dibuat berselang-seling antara baris, namun lebih disarankan 1 jalan di setiap 3 baris tanaman, khususnya pada area berbukit (terasering).

II. Pemupukan Kelapa Sawit

Pemberian mulsa dengan EFB kepada tanah yang miskin hara dan area berbukit akan memperbaiki penyerapan dan efek pupuk. Bahkan pada kondisi pertumbuhan yang prima, pemberian mulsa dengan EFB meningkatkan kualitas masa awal pertumbuhan tanaman, dan tetap memberikan efek menguntungkan untuk beberapa waktu (Redshaw, volume ini). Namun, pada tanah yang lebih miskin, pemberian mulsa tahap 2 selebar 1-2 m dari dasar tanaman akan memberikan manfaat ekstra jika dilakukan antara 12-18 bulan setelah tanam.

Kebutuhan pupuk mineral dari tanaman sawit yang immature dibuat oleh Fairhurst et al. (volume ini). Sangat penting memberikan pupuk secara tepat. Tidak kalah pentingnya untuk memastikan bahwa ada akses bagi tenaga kerja dan supervisi kedalam kebun, dan bahwa piringan tanaman bebas dari gulma sebelum pemberian pupuk dilakukan. Pada tanaman sawit immature, untuk tahun pertama atau lebih setelah penanaman, pemberian pupuk diluar dari titik penyemprotan, justru akan menguntungkan bagi gulma, bukan tanaman sawit. Sesungguhnya akar tidak mencapai titik penyemprotan selama 6 bulan pertama, dan cenderung terbatas pada area di sekeliling tanah bekas pembibitan dan tanah bagian atas.

Oleh karena itu pupuk seharusnya diaplikasikan disekitar dasar tanaman sawit dari tepi lingkaran penyemprotan sebagai acuan pertumbuhan akar. Pada tanaman sawit yang sangat muda (<6 bulan setelah tanam) akar belum mencapai lingkaran penyemprotan, dan pupuk harus diaplikasikan di lingkaran dalam pada tepi lubang tanam.

III. Pemangkasan dan Penebangan

Penebangan jarang dilakukan, dikarenakan mempertahankan bunga-bunga jantan akan membantu meningkatkan kumbang penyerbuk (Elaedobius kamerunicus) pada tahun kedua dan ketiga setelah tanam. Akan tetapi, pada area dimana tanaman kelapa sawit merupakan tanaman baru, kumbang tersebut mungkin belum ada, dan harus diintroduksi. Untuk kasus seperti ini 1 periode penebangan (atau sanitasi) boleh saja dilakukan untuk persiapan panen dan menghilangkan hama tandan (misalnya Tirabatha).

Pemangkasan rutin tidak dianjurkan selama fase immature; semua pelepah yang aktif berfotosintesa harus dipertahankan. Tentunya, seiring dengan pertumbuhan tanaman, pelepah menjadi lebih datar terhadap tanah sejalan dengan berkembangnya batang dari dasar daun dari pelepah tua. Pelepah-pelepah ini bisa dibuang, beserta pelepah muda yang rusak yang mungkin bisa mempersulit perawatan.

Para pekerja harusnya tidak diizinkan memotong pelepah untuk mengurangi ukuran lingkaran gulma yang harus dibersihkan dengan menggunting ujung pelepah. Petugas penyemprot harus dilatih untuk menaikkan pelepah bawah selama penyemprotan. Seiring tanaman semakin tinggi, hal ini semakin sulit dilakukan sehingga pelepah bawah bisa dibuang agar penyemprotan dan pemberian pupuk menjadi efektif. Hal ini seharusnya dilakukan sebagai program perawatan terencana. Pemangkasan untuk tujuan pembersihan lahan biasanya memang harus diterapkan sehingga memberikan dampak positif sebelum pemanenan, namun ini harus diawasi dengan sangat cermat untuk menghindari pemangkasan pelepah yang tidak semestinya dibuang.

Sabit kecil (ukuran 5 cm, yang diikat ke tombak besi) digunakan untuk panen. Idealnya, tidak ada pelepah yang dibuang pada saat ini. Disarankan melakukan teknik yang dikenal sebagai ‘bunch stealing’ (mengambil tandan buah seperti maling, tanpa merusak pelepah) selama dua tahun pertama setelah panen. Sehingga tanaman sawit dengan tandan buah yang besar tidak dipangkas. Pemangkasan tahap I bisa dilakukan ketika tandan muncul dari ketinggian 1-1.5 m diatas tanah. Pemeliharaan semua pelepah hijau selama 1 tahun panen awal terbukti menjadi hal yang sangat penting. Setelah itu, keuntungan yang diperoleh kurang terlihat. Oleh karenanya, pemangkasan pertama biasanya dilakukan setelah 12 bulan pemanenan.

Dari titik ini hingga kanopi saling menutupi, dua baris daun dibawah tandan buah harus tetap dipertahankan. Buruh panen harus dilatih dengan tepat dan akan sangat penting untuk membuat gaji insentif sehingga hasil kerja mereka bisa memuaskan. Pemeliharaan pelepah yang aktif berfotosintesis selama fase immature dan fase awal pendewasaan perlu dilakukan untuk mencapai potensi panen.

IV. Manajemen Hama dan Penyakit

Tikus merupakan hama yang umum dijumpai di perkebunan baru dan bisa memusnahkan pertanaman sawit hanya dalam semalam. Sehingga sangat perlu menge-cek populasi hama ini dan melakukan pancingan terhadap hama tersebut jika ada gejala pada pertanaman kelapa sawit.

Di Asia dan Pasifik, hama paling serius pada areal pertanaman yang baru dibuka adalah kumbang badak, Oryctes spp. atau Scapanes australis grossepunctatus. Kedua hama tersebut berkembang biak didalam bahan organik (misalnya batang dan serasah tanaman sawit). Langkah-langkah berikut dapat membantu mengendalikan kumbang:

  1. Mencegah perusakan batang kelapa sawit yang lebih parah dengan mengerik, meracun atau memotong bagian yang terkena;
  2. Membuat kanopi penuh LCP untuk meningkatkan kecepatan penghancuran serasah/sisa-sisa tanaman sehingga mengurangi tempat untuk berkembang biak;
  3. Melepaskan Baculovirus dan Metarhizum yang merupakan cendawan penyerang hama/serangga;
  4. Memakai insektisida butiran atau semprot sehingga bisa mengenai jaringan tombak;
  5. Mengumpulkan kumbang-kumbang dari kelapa sawit; dan
  6. Menebarkan feromon untuk menjebak kumbang dewasa (hal ini ditujukan untuk membunuh kumbang dewasa maupun menginfeksi kumbang tersebut dengan patogen penyebab penyakit).

Di Amerika Utara, feromon selama ini digunakan untuk mengendalikan Ryncophorus spp.yang merupakan vektor untuk nematoda Rhadinaphelenchus cocophilus yang menyebabkan penyakit cincin merah.

Untuk semua hama dan penyakit, para pekebun harus sadar masalah potensial dan poin dimana intervensi memang harus dilakukan; dengan syarat munculnya hama tersebut bukanlah yang pertama kali. Namun tidak ada cara efektif untuk menerapkan ini kecuali dengan inspeksi lapangan dan berjalan kaki menyusuri kebun! Pengendalian hama dan penyakit secara biologis pada kelapa sawit masih merupakan objek penelitan yang terus meluas, dan para pekebun harusnya bisa mengikuti perkembangan penelitian tersebut.

Penananman awal yang baik, persiapan lahan yang baik dan standar penanaman yang tinggi, resiko ledakan penyakit yang serius selama fase immature tergolong rendah di wilayah Asia Tenggara dan Pasifik. Di wilayah lain (misalnya Amerika Selatan), munculnya penyakit seperti marchitez (Marchitez sorpresiva, tripanosoma yang ditularkan oleh vektor serangga) menimbulkan kesulitan jika tidak ada varietas yang resisten didalam pertanaman kelapa sawit. Adanya penyakit tropis yang serius memerlukan perhatian khusus para pekebun.

V. INFRASTRUKTUR

Sistem jalan biasanya tidak diselesaikan secara menyeluruh selama fase pengembangan perkebunan. Seringkali, hanya jalan utama dan sekunder yang terlebih dahulu disiapkan sesuai dengan standar untuk berbagai kemungkinan kondisi/cuaca, sementara jalan-jalan untuk memanen diselesaikan pada masa awal fase pengembangan perkebunan. Namun, sangat penting untuk menyelesaikan semua infrastruktur sebelum panen pertama. Saluran drainase dan aliran banjir harus dijaga dan dirawat sehingga menjadi bagian dari program rutin.

PENGELOLAAN PERTANAMAN KELAPA SAWIT MENJELANG PANEN

I. Pembersihan Gulma

Ada 3 tujuan utama dari pembersihan gulma untuk kelapa sawit usia menjelang panen:

  • Untuk kelancaran pengumpulan buah pada saat panen melalui jalan setapak dan piringan yang bersih terawat. Hal ini biasanya dilakukan dengan penyemprotan gulma di areal pemanenan. Yang harus diingat adalah penggunaan herbisida tersebut tidak berlebihan hingga memusnahkan seluruh vegetasi yang ada, khususnya di bagian bawah kanopi tanaman kelapa sawit ;
  • Untuk mempertahankan vegetasi penutuptanah yang membantu mengontrol erosi namun tidak berkompetisi dengan kelapa sawit. Tanaman legum yang toleran terhadap naungan seperti caeruleum, tumbuhan paku-pakuan seperti Nephrolepis biserrata, dan semak berumur pendek harus dipertahankan;
  • Untuk merangsang pembungaan dan semak yang mengeluarkan nektar yang memainkan peran penting didalam siklus hidup predator tertentu bagi hama tanaman kelapa sawit. Ageratum spp., Euphorbia heterophylla, Antigonon leptopus, dan banyak spesies lainnya yang umum dijumpai di perkebunan (namun seringkali secara tidak sengaja dimusnahkan dan justru melakukan penutupan tanah oleh gulma yang merusak) berfungsi sebagai penjaga keseimbangan alami (Tabel 4).

Sebaliknya, ada banyak gulma yang tergolong susah untuk dicabut/dibasmi dan kompetitif yang harusnya dimusnahkan dari dalam baris melalui penyemprotan reguler dengan herbisida selektif. Gulma seperti ini contohnya alang-alang Imperata cylindrica yang biasanya dikendalikan dengan herbisida glyphosate. Aystasia (Aystasia intrusa, A.coromandeliana) adalah contoh semak belukar yang terkadang mendominasi dan dikendalikan dengan herbisida selektif berdaun lebar. Gulma berkayu sangat baik dimusnahkan dengan mencabut seluruh bagian tanaman dengan tanagan atau dengan sabit karena tanaman ini cepat tumbuh kembali. Diperlukan satu hingga 2 tahap pembersihan gulma setiap tahunnya.

II. Perawatan dan Pemangkasan Tanaman Kelapa Sawit

Untuk mencapai potensi panen, tentunya diusahakan untuk mempertahankan sebanyak mungkin area daun yang aktif berfotosintesis. Untuk alasan ini, pemangkasan daun bawah lebih disarankan dibandingkan pemangkasan daun atas. Pada saat pemanenan menggunakan sabit tidak lagi digunakan (misalnya tanaman kelapa sawit dengan tinggi ~4 m), disarankan melakukan pemangkasan tahunan dengan meninggalkan dua lingkar daun dibawah tandan. Daun-daun yang berhadap-hadapan bisa dihilangkan bersamaan dengan pemanenan tandan buah sehingga sumbu daun pada lingkaran daun kedua seringkali ditinggalkan tanpa daun.

Jika pemanenan sudah dilakukan dengan menggunakan sabit, tidak ada metode alternatif untuk melakukan pemangkasan hingga – namun tidak termasuk – daun-daun yang berhadapan dengan tandan buah masak paling bawah. Ini meliputi kanopi yang terdiri dari 40-48 daun (5-6 lingkaran). Prinsip dan petunjuk penting ini harus dijelaskan secara tepat dan didemonstrasikan kepada staf supervisor untuk mencapai standar yang benar di kebun.

Sudah menjadi kebiasaan mengumpulkan dan menimbun pelepah/sisa pangkasan antar baris diantara jalan setapak. Akan tetaoi lebih baik pelepah yang dipangkas disebarkan didalam baris karena dapat memberikan cukup banyak perlindungan terhadap erosi. Tangkai daun yang berduri harus dibuang dan kemudian ditempatkan di bagian tengah di dalam barisan.

Serasah yang terkumpul pada daun bagian bawah menjadi tempat yang cocok untuk saprofit dan anggrek. Hal ini sebenarnya tidak berbahaya, namun beberapa langkah pengendalian dapat dilakukan dengan membersihkan sisi-sisi batang dengan sabit selama pemangkasan pelepah. Biasanya yang menjadi problem adalah tanaman-tanaman yang lebih vigor (misalnya tanaman karet hias liar). Gulma saprofit ini dapat diracun dengan herbisida dan arborisida tanpa merusak tanaman kelapa sawit. Penyemprotan batang seharusnya dilakukan menggunakan penyemprot ‘gendong’ (knapsack sprayer) yang ditambah dengan alat pemotong diujungnya, jika gulma-gulma yang tumbuh diatas tajuk mengganggu proses pemanenan.

III. Pemupukan dan Pemberian Mulsa

Kebutuhan pupuk kelapa sawit, dan persiapan serta pemberian rekomendasi pupuk dijelaskan didalam volume ini (Foster; Goh dan Hardter; Goh, et al.; Fairhurst et al., volume ini). Pada tanah-tanah miskin hara dan area terasering, selalu disarankan untuk dilakukannya pemberian mulsa. Bahkan pada kebanyakan tanah subur, sudah terbukti bahwa pemanfaatan mulsa tandan kosong meningkatkan penyerapan pupuk (redshaw, volume ini). Oleh karenanya, sebaiknya penggunaan tandan kosong lebih sering dilakukan dibandingkan dengan debu tandan itu sendiri. Efek mulsa tandan kosong sangat lama membekas sehingga pemakaiannya dianjurkan beberapa tahun sekali. Trailer dengan wadah berjalan dibawahnya sering digunakan untuk menyebakan mulsa tandan buah kosong di setiap pinggi jalan setapak, dan pemanfaatan trailer seperti ini jika dimodifikasi dengan mesin loading otomatis di pabrik memungkinkan pemberian mulsa tandan buah kosong pada dataran berbukit dengan biaya yang sedikit. Limbah pabrik kelapa sawit, baik basah atau kering, bisa digunakan baik sebagai pengganti pupuk mineral pada area-area tertentu, maupun sebagai kondisioner tanah untuk meningkatkan penyerapan hara.

Biasanya akumulasi terbesar dari akar yang aktif dijumpai pada serasah disekeliling piringan tanaman dan pada tumpukan pelepah atau akumulasi BOT lainnya, seperti mulsa alami. Oleh karenanya disarankan pemberian pupuk dengan tangan pada kelapa sawit dewasa sebaiknya diluar dari pinggir piringan dimana lintasan hara, erosi dan herbisida saling tumpang tindih menghambat pertumbuhan akar dan menimbulkan resiko leaching (pencucian). Pemberian pupuk dengan tangan memerlukan pengawasan yang baik untuk memastikan kerja yang benar. Mesin penyebar pupuk (biasanya berbentuk piringan berputasr) sudah digunakan dengan skala tertentu pada area terasering yang sesuai sejak tahun 1960-an. Alat penyebar pupuk yang sangat akurat dapat berasal dari mesin pada traktor dengan layout lahan yang cocok. Pada budidaya tanaman di areal luas, pengendalian satelit untuk aplikasi di tanah dapat digunakan untuk memastikan pemberian pupuk yang akurat sesuai kebutuhan. Hal ini tentu saja sangat sulit untuk diwujudkan pada tanaman kelapa sawit karena keterbatasan pergerakan alat didalam kebun, namun bisa dilakukan dari pengamatan udara yang akurat, dan kemanan yang baik. Pemberian pupuk dari udara sekarang cukup sering dilakukan di perusahaan besar di Indonesia dan Malaysia.

IV. Hama dan Penyakit

Dua kelompok hama utama pada pertanaman kelapa sawit dewasa adalah serangga pemakan daun dan hama pemakan buah tandan. Pengendalian secara biologis yang efektif bagi keduanya sudah ditemukan.

Hama daun termasuk cacing kantung (Mahasena corbetti, Metisa plana dan Cremastopsyche pendula), ulat api (khususnya ulat bulu yang menyengat/gatal seperti Darna trima, Ploneta diducta, Thosea spp., dan Setora nitens) dan ulat daun loncat (Sexava spp.). Produksi akan menurun secara drastis jika >30% kanopi daun terserang hama ini. Akan tetapi, kerugian yang ditimbulkan oleh hama ini telah dapat ditekan melalui pengendalian agens hayati (biologi).

Seiring dengan digalakkannya pengendalian secara biologis dan pemahaman siklus hidup dan habitat predator hama, maka kebutuhan untuk pestisida semakin berkurang. Misalnya studi mengenai pentingnya tanaman penghasil nektar bagi populasi spesies ngengat menjadi bagian penting didalam pengendalian cacing kantung di daerah Sabah. Contoh lain adalah pemanfaatan Bacillus thuringensis (BT) yang disemprotkan untuk mengendalikan ulat bulu. Ledakan penyakit/serangan hama biasanya berhubungan dengan menurunnya populasi predator hama, jika demikian, maka intervensi manusia sangat diperlukan untuk mengembalikan populasi predator hama seperti sedia kala. Oleh karena itu, pemanfaatan teknik injeksi batang menggunakan monocrotophos untuk membasmi hama pemakan daun biasanya selalu menyertakan mistblower.

Hama pemakan buah yang paling utama tentu saja, tikus (Ratus tiomanicus, tikus kayu; R. agentiventer, tikus sawah; R.diardii, tikus rumah; dan R.exulans (di Papua New Guini). Pengendalian biologis untuk tikus sudah dilakukan di Malaysia dengan menggunakan burung hantu (Tyto alba), yang tampaknya cocok hidup di kebun kelapa sawit (dan sepertinya telah menyebar ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia seiring dengan penggundulan hutan). Namun, burung hantu memerlukan perlindungan dari manusia dan kotak-kotak sarang sehingga populasi dalam jumlah besar tetap bisa dipertahankan. Ular juga predator hama tikus yang efektif, dan sebaiknya para pekerja tidak membunuh ular-ular tersebut.

Saat terjadinya ledakan serangan hama atau tidak adanya pengendalian biologis yang bisa dilakukan, maka program ‘jebakan/pancingan’ menggunakan warfarin atau brodifacoum cukup efektif dalam mengendalikan tikus. Program jebakan ini harus diatur secara tepat dan dilaksanakan secara ketat sehingga populasi tikus bisa dikontrol/ditekan secara efektif. Program jebakan yang dilakukan setengah-setengah justru akan menimbulkan ‘kekebalan’ terhadap rodentisida didalam populasi tikus. ‘Jebakan’ brodifacoum tahap 2 sebaiknya tidak dilakukan jika burung hantu sudah muncul di kebun. Penduduk setempat harus diberi peringatan adanya pemakaian jebakan rodentisida sehingga tidak melepas hewan piarannya didalam kebun.

Ngengat tandan buah sawit (Tirabatha mundella) tampaknya tidak lagi menimbulkan dampak yang signifikan terhadap penurunan hasil, mungkin karena adanya kumbang yang melakukan penyerbukan. Oleh karenanya, jarang dilakukan pengendalian.

Kunci dari semua pengendalian hama adalah sistem peringatan yang terorganisir dengan baik, dan adanya sebuah tim ahli yang terlatih dalam mengidentifikasi semua hama dan masing-masing predatornya. Patroli (inspeksi rutin) seharusnya dilakukan untuk mengkaji hama dan penyakit bahkan dalam kerangka efek hama tersebut terhadap populasi predator alami. Patroli sebaiknya dilakukan secara teratur sehingga ledakan hama & penyakit bisa terdeteksi pada skala yang masih kecil, misalnya beberapa blok. Untuk kasus seperti ini, pengendalian/pembasmian hanya perlu dilakukan terhadap area yang terserang tersebut saja. Sehingga, pembasmian ulat api pemakan daun dengan penyemprotan besar-besaran justru menandakan belum adanya sistem peringatan dini yang efektif! Di lain pihak, suatu ledakan hama/penyakit sebaiknya tidak di-respon secara berlebihan mengingat predator alami memang membutuhkan waktu untuk bisa mengatasi/menekan populasi hama. Sehingga, nilai/ambang batas (misalnya kerusakan 30% kanopi didalam 10% pertanaman) sebaiknya dijadikan titik awas untuk mengadakan intervensi. Sebelum penyemprotan, pendataan terhadap predator hama harus dilakukan dan teknik pengendalian (misalnya suntik batang, penyemprotan) ditunda jika ternyata populasi predator dalam jumlah besar.

Perkebunan yang dikelola dengan baik biasanya tidak akan mengalami kerugian akibat penyakit-penyakit minor yang tidak banyak mengeluarkan biaya, namun penyakit utama yang merugikan seperti Ganoderma di Asia, Armillaria di Afrika dan penyakit cincin merah dan Marchitez di Amerika Utara dan Tengah bisa menjadi masalah utama. Pemusnahan sumber inokulum penyakit sangat penting untuk dilakukan didalam pengendalian penyakit cendawan pada awal penanaman, di samping itu pengendalian terhadap vektor penyakit cicncin merah mulai menampakkan hasil di Amerika Selatan.

V. Pemeliharaan Infrastruktur

Pemeliharaan yang tepat untuk sistem drainase, jalan-jalan masuk dan jalan setapak sangatlah penting untuk produksi tinggi yang berkelanjutan pada perkebunan kelapa sawit. Biaya dari pemeliharaan yang utama dan aktivitas upgrading harus benar-benar diperhitungkan dan dimasukkan kedalam program pemeliharaan tahunan.

PEMANENAN DAN PENGUMPULAN BUAH

Tujuan dari pemanenan cukup sederhana tanpa memandang metode yang diterapkan: Semua buah yang telah matang dan dinilai memberikan hasil maksimum dengan kualitas yang baik – dibawa ke pabrik dalam keadaan baik/utuh/tidak cacat.

I. Tingkat Kematangan

Tingkat kematangan buah agaknya menjadi isu yang kontroversi mengingat penentuan kematangan buah harus merupakan titik temu antara tingkat kematangan pada saat panen dan kondisi buah jikalau dibiarkan hingga hari panen berikutnya. Jika memakai kombinasi yang tepat antara standar kematangan dan interval panen, maka semestinya pada saat panen dilakukan, hanya sedikit buah yang tergolong ‘terlalu matang’ dan jumlah ekstraksi juga akan meningkat.

‘Lima buah yang rontok sebelum panen tandan’ atau ‘satu buah rontok per kilo berat tandan setelah panen’ disebut sebagai standar kematangan buah. Kriteria kematangan ‘5 buah rontok’ sangat sulit untuk diidentifikasi di lapang karena sering diartikan sebagai ‘ 5 buah rontok setelah pemotongan’. Hal ini sering menyebabkan pemanenan buah yang masih mentah sehingga mengurangi jumlah ekstraksi minyak dan kernel. Kebalikannya, untuk kriteria kematangan standar ‘satu buah rontok per kilo berat tandan’, supervisor lapangan harus tahu berat tandan rata-rata di lahan yang akan dipanen.

Beberapa peneliti telah mengklaim bahwa terdapat sedikit kenaikan kandungan minyak ketika 1 buah rontok dari tandan dan untuk mengurangi kebutuhan buruh untuk memanen, standar ‘satu buah rontok per kilo berat tandan setelah panen’-lah yang banyak digunakan di Malaysia. Namun, data dan pengalaman yang ada sekarang tidak mendukung praktik pemanenan ini karena pada tandan yang berukuran besar mungkin hanya ujungnya saja yang matang sebelum bagian utama tandan matang. Kondisi ini menjadi sangat jelas terlihat pada kasus ‘ujung tandan yang pecah’ atau ‘ujung tandan yang busuk’, meskipun tidak terbatas pada hal ini saja. Dalam prakteknya, salah satu masalah didalam standar kematangan yang tidak stabil adalah bahwa ‘satu buah rontok sebelum pemotongan’ sering bergeser menjadi ‘tidak ada buah yang rontok’, khususnya pada kondisi buruh berjumlah sedikit dan kurangnya disiplin.

Penurunan yang drastis didalam ekstraksi minyak terjadi di perkebunan Sumatera Utara ketika diberlakukan standar kematangan buah yang serupa (Gambar 4). Namun, jumlah ekstraksi menjadi normal setelah menerapkan kembali standar ‘lima buah rontok sebelum panen’ (Gambar 4).

Dengan pengecualian faktor standar ‘satu buah rontok per kilo berat tandan setelah panen’, angka ekstraksi minyak dan kernel yang rendah lebih sering dikarenakan gagal/tidak menerapkan standar kematangan, bukan karena penerapan standar yang tidak tepat. Interval panen harus disesuaikan dengan standar kematangan sehingga tandan yang hampir masak dan tidak dipanen, tidak menjadi busuk atau terlalu matang pada saat panen tahap berikutnya. Banyak kebingungan muncul mengenai kualitas buah ketika masa panen dan standar kematangan dibahas secara terpisah.

II. Tingkat ekstraksi minyak

Memanen buah yang terlalu masak harusnya dihindari karena akan menyebabkan pekerjaan tambahan untuk mengutip buah-buah yang rontok, selain konsentrasi asam lemak bebas yang tinggi didalam minyak setelah proses. Sehubungan dengan ini, pemanenan yang terlalu cepat menyebabkan pendapatan perusahaan menurun dikarenakan tingkat ekstraksi minyak yang rendah. Standar kematangan buah dan interval panen sebaiknya ditentukan dengan melihat jumlah tenaga kerja yang ada.

Selama pemanenan dilakukan secara teratur (misalnya dengan frekuensi sekali dalam 10 hari) dan transportasi serta penanganan di pabrik dilaksanakan secara efisien, maka tingkat asam lemak bebas (ALB) bisa terjaga pada kisaran <2% – jika standar pemanenan konvensional diterapkan. Kandungan ALB yang rendah dapat diperoleh dengan mengurangi interval panen dan penggunaan sistem transport dan penanganan yang dapat meminimalkan kerusakan dan cacat pada buah. Semakin cepat buah diproses di pabrik, maka semakin baik. Tingkat ekstraksi kernel tidak terlalu dipengaruhi kematangan kecuali dampak kesulitan mesin pemipil buah di pabrik yang tidak bisa melepas/memipil buah dari tandan yang masih muda.

III. Pemotongan Tandan Buah

Oleh karena buah kelapa sawit dipanen secara manual, maka sangat jarang dilakukan pemakaian mesin untuk memanen Tandan Buah Segar (TBS). Sabit yang digunakan untuk memanen memiliki ukuran < 4 m panjang; untuk tanaman yang lebih tinggi sabit yang sangat tajam diikatkan ke pipa aluminium atau batang bambu. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa pemotongan tandan buah dan berjalan diantara tanaman menghabiskan 40% waktu dari keseluruhan waktu pemanenan; sisa waktu digunakan untuk pengumpulan buah dan mengutip buah yang rontok dan pengangkutan didalam kebun. Berdasarkan hal ini, seorang pemanen mampu untuk mengambil ~5 ton TBS per hari (bergantung pada areal pertanaman, tinggi dan kondisi tanaman kelapa sawit) dan pekerja yang kurang ahli lainnya dapat ditugaskan untuk mengumpulkan buah. Sebaliknya, waktu untuk pekerja memotong dan membawa buah ke pinggir jalan kurang lebih sama dengan waktu untuk mengumpulkan buah sebanyak ~1.5 atau 2 ton/hari. Terkadang hasil yang diberikan oleh pemanen bisa lebih besar dari itu, namun hal ini mungkin dikarenakan pemanen ada yang membantu.

Beberapa pekebun menyatakan bahwa panen akan lebih efektif jika buruh panen bekerja secara berkelompok dan digaji berdasarkan tim. Output sebanyak 3-2 ton per orang per hari pernah dicapai ketika panen dilakukan secara berkelompok dan diberikan insentif yang sesuai. Namun, hasil penelitian justru menunjukkan output sebesar itu mustahil karena mengingat buruh panen bekerja selama 7.5 jam/hari dan mengikuti kriteria panen, kecuali para pemanen memang dibantu oleh orang-orang yang tidak dibayar.

PENGANGKUTAN BUAH

I. Pengangkutan buah di dalam kebun

Metode konvensional pengangkutan buah didalam kebun meliputi pengumpulan TBS dan buah yang rontok oleh pekerja, setelah itu diangkut dengan (semacam) gerobak mesin ke titik-titik pengumpulan. Pengumpulan TBS yang dibantu dengan tenaga hewan, kendaraan bermotor tentunya akan meningkatkan produktivitas pekerja (sehingga bisa mengurangi jumlah buruh yang diperlukan). Penghematan 30-40% input buruh pernah tercatat pada sistem pemanenan yang menggunakan kendaraan mesin sebagai alat pengangkut buah didalam kebun. Di Malaysia, juga pernah tercatat penghematan sebesar 7-10%, namun ini ditujukan untuk meningkatkan produktivitas di perusahaan yang mengalami permasalahan serius mengenai buruh. Pengangkutan buah didalam kebun dengan kendaraan bermesin mungkin tidak ekonomis di sebagian negara dengan areal perkebunan yang luas, kecuali di Malaysia yang kekurangan tenaga kerja.

Namun, terkadang sama produktifnya jika memanfaatkan tenaga hewan untuk mengangkut buah, khususnya ketika hal tersebut sudah menjadi kebiasaan setempat dan jarak di dalam kebun yang cukup jauh. Gerobak yang ditarik oleh sapi dan kerbau cukup banyak dimanfaatkan dan pengaruhnya terhadap produktivitas buruh sama dengan efek alat pengangkut bermesin, yakni dari segi peningkatan pendapatan per orang dan juga perusahaan. Pemanfaatan tenaga kuda dan (semacam) keledai sering dilakukan di Amerika Selatan dah Filipina.

II. Pengangkutan buah dari kebun ke pabrik

Kotoran, kontaminasi dan bekas-bekas panen harus dibersihkan dari TBS untuk memaksimalkan kualitas minyak dan kernel. Juga tak kalah pentingnya adalah memperpendek waktu antara panen dan pengolahan di pabrik. Namun, pertimbangan seperti ini seringkali diabaikan untuk mempermudah manajemen dan menekan biaya, dan alat pengangkut seringkali dilimpahkan kepada kontraktor yang tidak perduli kepada kualitas buah.

Pengisian TBS ke dalam kontainer pada era dulu sering dilakukan dengan memanfaatkan jalur rel sehingga kerusakan TBS bisa diminimalisir; namun pembuatan jalur rel tidak ekonomis. Contoh sistem pengangkutan buah ditemukan di United Plantations di Perak Selatan, Malaysia.

Sistem pengisian dengan jaring (dikembangkan oleh Kulim Group), ketika dikombinasikan dengan alat pensteril kontainer (dikembangkan oleh New Britain Palm Oil Limited) memungkinkan pengangkutan TBS pada kontainer, sehingga tidak perlu untuk menangani tandan ganda dengan tangga-tangga panen. Beberapa referensi mengemukakan alat transportasi berupa kotak kontainer. Akhir-akhir ini, truk terbuka dengan kapasitas 8 hingga 14 ton digunakan didalam kebun untuk mengumpulkan TBS, dan ini sangat cocok untuk jarak yang jauh. Kontainer truk diletakkan di titik pengumpulan didalam kebun, kemudian TBS diisikan kedalamnya dengan menggunakan semacam alat pengangkut (lifter), hal ini dilakukan baik secara langsung didalam kebun maupun setelah dikumpulkan terlebih dahulu oleh traktor di pingir jalan. Truk pengangkut kemudian menaikkan kontainer tersebut dan membawanya ke pabrik.

Akan tetapi, bagi kebanyakan pengusaha kebun, sistem pengisian TBS kedalam kontainer dengan menggunakan tangan atau lori masih tetap dipertahankan dan hasil (kualitas) buah masih cukup baik – jika buah dipanen dan diangkut pada hari yang sama.

POIN PENTING UNTUK PEKEBUN

  1. Pembibitan
    • Belilah bibit/benih hanya dari penyedia bibit yang memiliki reputasi baik dan lakukan pemeliharaan sanitasi (kebersihan) di pembibitan.
    • Pilih lokasi pembibitan yang baik dengan melihat kepada luas, kemiringan, suplai air dan akses masuk kedalam kebun.
    • Lakukan penanaman benih dengan benar dan buatlah jarak antar polibag.
    • Berikan hara berdasarkan jadwal pemberian pupuk.
    • Lakukan monitor dan kontrol hama dan penyakit.
    • Buang bibit yang off-type.
  2. Pembersihan dan Persiapan Lahan
  • Lakukan survei dasar (terasering, kemiringan lahan, drainase).
  • Rancang kerapatan tanam dan sistem jalan.
  • Tandai sistem jalan secara akurat dan bersihkan vegetasi yang ada.
  • Rancang barisan tanaman pada garis-garis lurus.
  • Bersihkan semua kayu-kayu gelondongan dan serasah dari barisan penanaman, hindari pemadatan tanah dengan mesin berat.
  • Pada daerah curam, buatlah platform (17-36%) atau terasering (>36%) di sepanjang garis kontur.
  • Terapkan LCP dan tanaman penutup tanah.
  1. Penanaman Di Lapangan
  • Lakukan penanaman berdasarkan jarak tanam ideal (pada batas akhir jarak tanam optimal).
  • Hindari penanaman bibit yang sudah terlalu tua.
  • Lakukan penanaman selama bulan pertama musim hujan.
  • Buatlah lubang tanam yang cukup besar yang dapat diisi kembali dengan topsoil, tandan kosong atau residu pabrik lainnya. Perhatikan dengan cermat kedalaman lubang tanam di areal gambut.
  1. Fase Immature
  • Berikan perhatian khusus untuk mencapai target produksi tinggi pada panen awal bagi perkebunan yang baru dibuka. Hal ini bisa dicapai dengan pelaksanaan manajemen yang baik.
  • Lakukan penyisipan untuk bibit yang mati atau rusak.
  • Lakukan pemberian pupuk dengan jumlah dan waktu yang tepat.
  • Jangan membuang/menghilangkan pelepah yang produktif.
  • Jaga kebersihan piringan tanam, jangan gunakan herbisida yang bisa mengenai pelepah bagian bawah.
  • Lakukan monitor dan pengendalian hama dan penyakit.
  1. Fase Dewasa
  • Pertahankan tanaman penutup tanah yang baik dan hindari pemakaian herbisida yang berlebihan.
  • Kembangkan habitat alami bagi predator hama.
  • Sebaiknya lebih memilih pemangkasan under-pruning (pelepah tua) dibandingkan dengan over-pruning (pelepah muda/atas) untuk menjaga luas area daun yang aktif berfotosintesa.
  • Sebarkan potongan pelepah yang dipangkas di dalam barisan untuk mencegah erosi.
  • Pelihara infrastruktur perkebunan yang menyediakan akses masuk dan keluar kebun serta kelancaran lalu lintas dalam kebun.
  • Lakukan panen pada umur matang (standar ‘5 buah rontok’) dan kumpulkan juga buah yang rontok.
  • Persingkat waktu pengangkutan baik antar kebun maupun dari kebun ke pabrik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s