MANAJEMEN KANOPI UNTUK HASIL YANG OPTIMAL

BAB VIII

MANAJEMEN KANOPI UNTUK HASIL YANG OPTIMAL

Helmut von Uexküll

Hegelstrasse 2, 53177 Bonn, Germany. E-mail: H.R.von. Uexkuell@t-online.de

Ian E. Henson

Malaysian Palm Oil Board (MPOB), Biological Research Division, No. 6 Persiaran Institusi, Bandar Bangi, Kajang, Selangor 43000, Malaysia. E-mail: Henson@mpob.gov.my

Thomas Fairhurst

Potash & Phophate Institute/ Potash & Phospate Institute of Canada – East & Southeast Asia Programs, 126 Watten Estate Road, Singapore 287599. E-mail : tfairhurst@eseap.org

PENDAHULUAN

Manajemen kanopi adalah aspek yang penting dalam memaksimalkan hasil kelapa sawit. Pasokan karbohidrat (CH2O) untuk pertumbuhan vegetatif dan generatif ditentukan oleh permukaan daun hijau total dan efisiensi radiasi yang terserap atau efisiensi kanopi. Manajemen kanopi tidak hanya menjadi tanggung jawab agronomis, tetapi juga petani kebun. Hal ini berdampak pada pemangkasan pelepah daun (pruning: penunasan), penjarangan, dan aplikasi pemupukan. Tujuan dari bab ini adalah untuk membahas aspek praktikal yang tepat untuk mengoptimalkan kanopi di lahan kelapa sawit.

Manajemen untuk Indeks Luas Daun (L)

Indeks luas daun merupakan rasio luas daun terhadap area tanah.   Indeks luas daun adalah metode standar untuk menentukan ukuran kanopi dan memberikan hasil yang paling besar. Nilai L yang optimal bukan nilai yang pasti tetapi tergantung pada lamanya cahaya matahari efektif, perbedaan temperatur malam, kelembaban tanah dan karakteristik genetik dari bahan tanaman. Hasil yang maksimum secara teori hanya diperoleh ketika nilai optimal untuk L dicapai seluruh area tanaman selama siklus penanaman.

Indeks luas daun dipengaruhi oleh tidak adanya tanaman karena terinfeksi penyakit (seperti Ganoderma sp.), tanah yang miskin hara, tanaman off-types, dan kerapatan yang tidak optimal. Selain itu juga disebabkan oleh berkurangnya daun karena pemangkasan (pruning), tanaman yang sedikit karena faktor nutrisi atau bahaya hama penyakit. Pengembangan kanopi sangat berpengaruh pada waktu penanaman baru. Perkembangan kanopi akan meningkat seiring dengan panjang pelepah daun dan umur tanaman. Kerapatan tanam yang optimal sangat berhubungan dengan umur tanaman. Nilai L adalah fungsi dari jumlah pelepah, luasan pelepah, dan kerapatan tanaman, yaitu:

Nilai L juga dipengaruhi oleh penutupan kanopi. Penutupan kanopi terjadi apabila 80% radiasi telah ditangkap oleh tanaman atau tiga pelepah saling berhimpitan (overlap). Kanopi efektif menutup sebelum pelepah daun mencapai ukuran maksimum. Standar kerapatan tanam berkisar antara 136-143 pokok/ha. Hal ini tergantung pada kesuburan tanah, aplikasi pemupukan, iklim, dan tipe bahan tanaman (turunan atau ideotipe. Penutupan kanopi terjadi lebih cepat dengan kerapatan tanaman yang tinggi. Penutupan kanopi yang semakin besar membuat jumlah pelepah semakin banyak per tanaman kelapa sawit. Manajemen kanopi mengimplikasikan bahwa terdapat keseimbangan antara areal lahan, umur tanaman, dan jumlah daun yang tetap dijaga pada kelapa sawit.

Secara agronomi, indeks luas daun dapat diartikan sebagai kemampuan untuk memaksimalkan potensi hasil tanaman. Ada 2 (dua) pendekatan untuk mengoptimalkan indeks luas daun (L) melalui masa hidup tanaman, yaitu:

  • Kerapatan tanaman yang tinggi, dipilih untuk memaksimalkan hasil yang lebih cepat dengan mengurangi persaingan tanaman kelapa sawit setelah penutupan kanopi.
  • Kerapatan tanaman yang rendah, dipilih agar kemungkinan persaingan antar tanaman kelapa sawit setelah penutupan kanopi diminimalkan.

FAKTOR-FAKTOR IKLIM YANG MEMPENGARUHI INDEKS LUAS DAUN (L)

  1. Radiasi Sinar Matahari

Radiasi matahari merupakan faktor penting untuk menjabarkan nilai L optimum untuk areal yang mendapatkan radiasi tersebut. Semakin besar radiasi sinar matahari, semakin besar pula nilai indeks luas daun (L) optimum, tetapi tutupan awan dan naungan yang alami akan mengurangi nilai L optimum. Kerapatan tanam yang tinggi dapat terjadi pada areal dengan intensitas curah hujan tinggi, tetapi hujan tersebut terjadi pad siang atau sore hari.   Kondisi tersebut terjadi areal pegunungan Ophir Sumatera Utara, dimana terjadi kombinasi antara radiasi sinar matahari yang tinggi, curah hujan tinggi dengan penutup awan rendah, dan struktur tanah vulkanik. Hal ini berarti kerapatan tanam yang lebih tinggi dapat digunakan di area-area yang memiliki radiasi sinar matahari yang tinggi. Kerapatan tanam yang lebih renggang dipertimbangkan pada area dengan curah hujan yang tinggi dimana awan menutupi area tersebut.

  1. Kelembaban

Radiasi sinar matahari yang tinggi seringkali diikuti curah hujan yang tidak cukup dan kelembaban tanah yang rendah. Radiasi sinar matahari yang intensif, terdapat kecerendungan untuk memberikan nilai L yang tinggi. Kelembaban yang dapat mengurangi nilai L optimum.

  1. Temperatur yang Tinggi

Temperatur tinggi dapat meningkatkan kehilangan respirasi dan mempresentasikan pelengkap yang lain untuk nilai L yang optimum. Kanopi yang tebal (nilai L tinggi) diduga dapat menurunkan temperatur kanopi bagian dalam dan dapat meminimalkan kehilangan akibat respirasi.

FAKTOR-FAKTOR TANAH YANG PENGARUHI PERKEMBANGAN KANOPI

Tanah mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap laju pertumbuhan dan panjang pelepah kelapa sawit. Semakin baik struktur tanah vulkanik, semakin cepat pertumbuhan dan produksi pelepah daun yang berlebih. Kondisi tersebut dapat menyebabkan hasil produksi lebih awal, namun kompetisi antar tanaman menjadi lebih besar. Di sisi lain, ekspansi kanopi pada tanah yang terbakar bagian dalam dan tanah berpasir biasanya lambat, dimana kerapatan tanam lebih tinggi atau lebih dari 160 pokok/ha.

FAKTOR-FAKTOR MANAJEMEN YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN KANOPI

  1. Jenis Bahan Tanaman

Turunan kelapa sawit dapat memiliki deskripsi yang berbeda-beda pada struktur ekspansi kanopi. Penanaman dengan kerapatan yang lebih kecil dapat diseleksi tipe tanaman kompak dengan pelepah pendek, dan jarak tanam yang lebar digunakan untuk tipe tanaman dengan pelepah daun yang panjang. Tanaman kelapa sawit muda yang berbeda berubah dengan cepat pada masa ekspansi kanopi. Kondisi agroklimat kelapa sawit mendukung kecocokan bahan tanaman dalam ekspansi tajuk yang dikombinasikan dengan waktu yang singkat terhadap ekspansi pelepah daun.

  1. Jarak Tanam

Jarak tanam adalah faktor yang paling mempengaruhi perkembangan kanopi. Pemilihan kerapatan tanam cocok setelah mempertimbangkan kondisi tanah dan iklim dan jenis bahan tanaman yang digunakan adalah suatu kunci dari keputusan manajemen. Kerapatan tanam yang lebih rendah biasanya lebih disukai dimana kondisi tanah lebih baik, dimana dipilih jumlah radiasi sinar matahari dikurangi oleh kondisi iklim. Kerapatan tanam lebih tinggi biasanya dilakukan apabila radiasi sinar matahari sangat tinggi dan kelembaban tanah berkurang. Pemilihan kerapatan tanam yang cocok tergantung dari tahap awal manajemen kanopi. Penanam harus membuat dengan pasti bahwa penggarisan dan penanaman dilaksanakan secara akurat di lapangan seperti setiap tanaman kelapa sawit mempunyai akses yang sama pada cahaya, air dan nutrisi.

Kerapatan tanam, jarak tanam, dan jarak antar baris (Tabel 1) adalah peubah interdependen yang dapat dijelaskan dengan persamaan:

Corley et al. (1973) mengembangkan persamaan untuk kerapatan tanaman optimum berdasarkan rata-rata panjang pelepah dewasa pada tanaman lebih dari 10 tahun.

Tabel 1 Kerapatan tanam, jarak antar baris dan panjang pelepah optimum untuk jarak penanaman umum kelapa sawit

Kerapatan

(pokok/ha)

Jarak baris (m) Jarak antar

baris (m)

Panjang pelepah optimum > 10 tsp*
158 8.5 7.4 9.1
148 8.8 7.6 9.8
138 9.1 7.9 10.8
129 9.5 8.2 12.0
121 9.8 8.5 13.5

Keterangan: * tsp = tahun setelah penanaman

  1. Pemangkasan (pruning)

Pruning adalah hal yang sangat menentukan dalam penyeimbangan kanopi dan besatnya nilai L. Pruning kelapa sawit dan hubungannya antara luas pelepah daun dan hasil produksi dijelaskan oleh Henson (2002). Pruning bertujuan untuk:

  • Memperbaiki kanopi kelapa sawit dan indeks luas daun (L),
  • Menyediakan akses untuk buah matang pada saat panen,
  • Memangkas pelepah daun tua untuk memudahkan pemanenan tandan,
  • Mengurangi kehilangan buah yang tertinggal di pelepah daun aksil
  • Mengurangi pertumbuhan tanaman epifit,
  • Membuang pelepah daun yang mati, rusak dan sakit untuk meningkatkan laju perbaikan kelapa sawit setelah timbulnya hama dan penyakit, dan
  • Mengoptimalkan kondisi kanopi dengan mengurangi kompetisi antar tanaman.
  1. Hama dan Penyakit

Pruning pelepah daun muda bagian atas kelapa sawit membuat kehilangan hasil lebih besar daripada pembersihan pelepah daun yang lebih tua. Penurunan hasil akan lebih besar dimana hama dan penyakit mempengaruhi bagian atas kanopi kelapa sawit. Dengan demikian, perlu adanya intervensi berkala untuk pengendalian hama penyakit yang membahayakan kanopi. Hal ini merupakan aspek yang sangat penting dari manajemen kanopi.

  1. Status nutrisi daun

Pruning berefek pada status nutrisi daun dimana nitrogen (N) dan potasium (K) pada pelepah daun meningkat tetapi magnesium (Mg) daun menurun ketika pruning dilakukan secara besar-besaran.

  1. Ablasi

Ablasi adalah proses pembersihan bunga betina pada tanaman kelapa sawit muda untuk periode tertentu sampai fase dewasa. Hal ini dapat meningkatkan pertumbuhan vegetatif karena CH2O diserap dari penggunaan hasil pertumbuhan vegetatif dalam laju peningkatan produksi pelepah, meningkatkan panjang dan berat pelepah daun. Ablasi dilakukan pada bunga betina dari ketiak pelepah daun setelah tampak 50% berdiri. Ablasi dapat dilakukan selama periode dari 12–18 bulan setelah penanaman.

  1. Pupuk

Dalam berbagai kondisi lingkungan, pupuk mempunyai pengaruh yang besar pada pertumbuhan kelapa sawit dan perkembangan kanopi. Diantara nutrisi utama, natrium (N) dan potasium (K) mempunyai efek yang paling kuat pada rata-rata pertumbuhan dan area daun kelapa sawit. Penggunaan pupuk nitrogen (N) secara besar dan sering dapat meningkatkan laju ekspansi pelepah daun dan hasil produksi lebih awal. Namun, aplikasi pupuk nitrogen (N) yang tinggi dapat menghasilkan pertumbuhan kanopi berlebih, kompetisi antar tanaman tinggi untuk mendapatkan sinar matahari, mengurangi hasil dan pertumbuhan tinggi tanaman. Tanaman kelapa sawit yang ditanam pada P (phospor) rendah dan tidak diperbaiki nutrisi tanahnya, akan menunjukkan bentuk pyramid dan pelepah daun kecil.

  1. Pemanenan

Pemanenan yang tidak sesuai prosedur dapat menyebabkan deplesi pelepah daun yang tidak diinginkan, terutama terjadi pada tanaman kelapa sawit muda. Kegiatan meminimalkan pembersihan pelepah daun dan pemanenan buah matang dengan bersih tanpa memotong pelepah yang terawatt diperlukan untuk memelihara kondisi kanopi optimal pada tanaman muda. Pembersihan daun berlebih dapat meningkatkan hasil kelapa sawit.

Pemanenan kelapa sawit yang lebih tua hampir selalu disertai dengan pembersihan pelepah daun. Pengaruh pelepah daun selama penanaman menjadi lebih kritis pada kelapa sawit lebih tua dimana hasil yang tinggi dihubungkan lebih pada berat tandan daripada jumlah tandan per pohon kelapa sawit. Dengan demikian, satu pelepah daun menahan bagian bawah tandan paling tua atau total kanopi dari 40 pelepah daun cukup untuk mempertahankan tanaman kelapa sawit lebih dari 8 tahun setelah penanaman.

PENJARANGAN

Penjarangan merupakan isu yang sangat kontroversial pada manajemen kelapa sawit karena belum ada bukti-bukti ilmiah yang menunjukkan kalau penjarangan ini bemanfaat pada waktu yang lama. Namun, bagaimanapun penjarangan ini dapat menjadi cara efektif untuk mencegah kehilangan hasil dengan cepat dimana kelapa sawit ditanami dengan kerapatan yang tinggi atau ini merupakan bagian dari strategi penanaman untuk mengoptimalkan kerapatan tanam. Efek penjarangan dapat menjadi efektif untuk mencegah penurunan hasil produksi dimana tanaman di tanam pada kerapatan yang tinggi atau kondisi tanah dan iklim yang baik untuk pertumbuhannya.

Indikator kompetisi antar tanaman kelapa sawit terbagi menjadi dua, yaitu secara kuantitatif dan kualitatif. Secara kuantitatif adalah intensitas radiasi matahari berkurang di penanaman, hasil yang tidak seragam karena perbedaan posisi penanaman, mengurangi hasil produksi, etiolasi batang, dan meningkatkan panjang racis. Indikator kualitatif antara lain vegetasi lahan karena penerimaan radiasi matahari yang rendah, pelepah daun yang berlebihan atau sangat jarang, munculnya pelepah daun yang tegak, buah tandan yang kecil karena terdapat gangguan pada saat pembentukan buah, dan kematian pelepah daun bagian bawah yang lebih awal.

Ooi et al. (1989) menunjukkan bahwa terjadi peningkatan hasil produksi pada penjarangan dengan sistem heksagonal, bahkan pada tanaman dengan kerapatan yang sangat rendah (110 pokok/ha). Lanjut Ooi et al. (1989) menjelaskan penjarangan berakibat pada penurunan hasil pada tahun pertama setelah penanaman, tetapi pada tahun berikutnya hasil tersebut meningkat. Penjarangan adalah suatu cara alternatif untuk tanaman kelapa sawit yang memproduksi hasil yang rendah. Prosedur penjarangan tanaman kelapa sawit adalah sebagai berikut:

  • Inspeksi lapangan untuk gejala-gejala kompetisi atau persaingan antar tanaman kelapa sawit,
  • Menghitung kepadatan optimal berdasarkan ukuran panjang pelepah daun,
  • Menandai semua kelapa sawit yang menempati posisi tengah dari setiap heksagonal di lapangan selama pengoperasian sensus tanaman kelapa sawit,
  • Menandai 3 tanaman kelapa sawit yang memiliki keragaan tidak baik dalam setiap grup 7 tanaman kelapa sawit,
  • Mengulang sensus tanaman kelapa sawit setelah 6 bulan dan memilih 1 dari 3 tanaman kelapa sawit yang teridentifikasi sebagai tanaman berkeragaan tidak baik untuk dipindahkan, dan
  • Meracuni semua tanaman kelapa sawit yang bertanda untuk penjarangan.

Prosedur ini berhasil dalam membuang tanaman kelapa sawit yang memiliki hasil rendah, menghilangkan kompetisi antar tanaman kelapa sawit dan menyediakan geometri kanopi kelapa sawit yang dapat diterima.

Kandidat tanaman kelapa sawit yang dibuang dalam seleksi penjarangan adalah tanaman:

  • Pisifera steril,
  • Sakit, kecil, dan produksi rendah,
  • Menunjukkan karakteristik abnormal,
  • Sangat tinggi dan penggunaan nutrisi yang tidak efisien, dan
  • Pertumbuhan awal sangat cepat dan selanjutnya tidak menunjukkan perkembangan berarti.

Disamping itu juga, penjarangan dilakukan untuk meningkatkan respon pupuk, mengurangi pekerja pemanenan, mengurangi pemangkasan, dan mengurangi biaya merumput.

MANAJEMEN KANOPI PADA SAAT REPLANTING

Replanting dilakukan ketika tanaman telah sangat tinggi dan tidak mampu dipanen lagi, hasilnya sangat kecil dan produksi secara ekonomi tidak seimbang dengan pemeliharaan tanaman kelapa sawit. Investigasi biasanya dilakukan untuk penanaman bibit di bawah kanopi tua, melakukan pruning hingga akhirnya meracuni kelapa sawit tua dengan tetap melakukan perawatan pada beberapa tanaman yang masih produktif melalui periode replanting. Replanting harus mempertimbangkan resiko dari Ganoderma dan kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros) karena dapat menyebabkan terjadinya daerah endemik hama penyakit tersebut.

KESIMPULAN

Bab ini menunjukkan pentingnya perbaikan manajemen terhadap ukuran kanopi tanaman kelapa sawit untuk meningkatkan hasil produksi secara eknomi. Kegiatan yang beragam dan pengaruhnya telah dibahas dan rekomendasi dapat dibuat untuk memperbaiki implementasi dalam usah peningkatan produktivitas kelapa sawit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s