Purwokerto kota ngapakku

Hiii sobatttt….. Pernah datang ke Purwokerto? Kalau belum, datanglah ke kota kecil yang damai ini.  Banyak cerita setelah datang ke kota asri ini.  Kalau sudah, apa sudah makan mendoan, keripik? soto khas Sokaraja? Ke Baturraden? Berbicara gaya ngapakers? Kalau belum, itu sama saja belum ke kota ini.  Kota Purwokerto adalah kota administratif kabupaten Banyumas.  Kabupaten Banyumas memiliki 14 kecamatan, yaitu Jatilawang, Ajibarang, Cilongok, Wangon, Pekuncen, Kedung Banteng, Purwojati, Rawalo, Kebasen, Baturraden, Purwokerto Barat, Purwokerto Utara, Purwokerto Timur, dan Purwokerto Selatan.

Kota Purwokerto cocok untuk berkuliner, wisata keluarga, hiking, backpackeran, dan bercerita gaya ngapakers.  Makanan enak yang disajikan di kota Purwokerto dan kabupaten Banyumas sangat banyak.  Gak usah khawatir kelaparan di kota ini.  In sya Allah semua makanan yang ditawarkan halal, kecuali ada tulisan Cinanya dan tak ada lebel halal. Yahh, walaupun sangat minoritas.  Soto Sokaraja, gethuk goreng mendoan, keripik tempe, leper, gachol, mie desa, ayam goreng kampung, pecak terong, pecak jantung pisang, pecak belut adalah makanan khas daerah ini.  Mau soto khas Sokaraja? Gak perlu ke Sokaraja untuk bisa mencicipi soto ini.  Cukup datang ke warung yang jualan soto, pasti menjual soto Sokaraja.  Soto khas Sokaraja adalah makanan berkuah kaldu yang isinya ketupat, tauge, daun bawang, gorengan bawang merah, kecap, kerupuk, dan yang menjadi ciri khas soto ini dibandingkan soto-soto yang lain adalah kaldu bening dan bumbu kacang.  Semakin banyak bumbu kacangnya, soto semakin enak, pedas, dan buket.  Coba saja, awalnya heran, tapi lama-kelamaan pasti nyari dan mau makan lagi.  Satu lagi yang terkenal di Sokaraja adalah gethuk goreng Sokaraja.  Untuk mendapatkan getuk goreng ini telah banyak dijual di sekitar daerah ini, yaitu banyak dijual di Sokaraja, Sawangan, Buntu, dan Kemranjen.  Getuk goreng ini cocok untuk oleh-oleh khas dari Purwokerto dan kabupaten Banyumas.

Mendoan? Nahh, inilah makanan gorengan yang wajib disantap saat ke Purwokerto atau Banyumas dan sekitarnya.  Bisa dipastikan, gak ada yang gak kenal mendoan.  Asal kita sebut mendoan, orang daerah ini pasti akan menunjukkan dimana kita bisa beli.  Atau, praktisnya, datang saja ke gerobak yang jualan gorengan, pasti ada camilan ini.  Oiyaa, jangan lupa, makannya paling enak kalau masih panas-panas dan nyigit cabai rawit (cengis).  Mendoan adalah gorengan dari tempe khusus yang dibungkus menggunakan daun pisang atau daun pisang yang dilapisi daun kunyit (kunir).  Tempe ini sangat tipis, ketebalannya gak sampai 1 cm, dan saking tipisnya, biasanya dalam satu bungkusan tempe mentah berisi 2 hingga 4 lapis lembaran tempe.  Cara buat gorengan tempe mendoan adalah pertama-tama tempe dibaluri adonan tepung terigu yang diberi bumbu kunyit, ketumbar, bawang putih, garam, dan irisan daun bawang (muncang, trompet).  Kemudian, tempe dicelupkan pada minyak panas, segera bolak-balik tempe dan angkat.  Gorengan tempe mendoan diangkat dari minyak dengan irisan daun bawang yang masih hijau dan adonan gak sampai berwarna coklat.  Inilah ciri khas mendoan, sepertinya belum matang tapi saat disantap, hemmm, yummiiii… pasti ketagihan.   Keripik tempe lebih tipis dengan mendoan, hanya saja digoreng hingga berwana coklat dan cocok untuk camilan dan oleh-oleh khas dari Purwokerto dan sekitarnya.

Bergerak dari Purwokerto ke arah selatan, terdapat kecamatan Jatilawang yang menawarkan macam-macam makanan. Tak lengkap rasanya mencoba makanan leper, karag, gachol, mie desa, krupuk soto, dan ayam goreng kampung.  Semua makanan ini banyak diproduksi dan dijual di Jatilawang.  Leper, karag, dan gachol adalah makanan dari ketela pohon yang diolah sedemikian rupa sehingga saat digoreng menjadi makanan yang sangat renyah dan enak.  Makanan inipun bagus juga untuk oleh-oleh khas Jatilawang.  Mie dan krupuk desa adalah usaha menengah kecil sebagian besar warga di Desa Kedungwringin Jatilawang.  Mereka memproduksi mie dan krupuk desa sebagai usaha kecil menengah.  Yang paling menarik dari usaha kecil ini adalah saat mie-mie dan kerupuk-kerupuk dijemur di depan atau samping rumah mereka.  Warna mie dan krupuk yang berwarna-warni membuatku serasa berjalan di jalan pelangi.

Aku punya cerita seru dengan pelangi-pelangi ini. Saat aku melintasi jalan pelangi ini untuk berangkat dan pulang sekolah SD, seringkali kami sengaja mencari kerupuk-kerupuk yang jatuh dari widig (para-para, saringan) dan disimpan.  Kalau sudah banyak, bersama teman-teman kerupuk itu dikumpulkan dan digoreng di atas penggorengan spesial kami yaitu potongan seng yang berisi pasir.  Potongan seng dan pasir itu diletakkan di atas bara api dari daun-daun kering, ranting, dan potongan kayu.  Rasanya bahagia sekali, pulang sekolah berkumpul dan makan bersama kerupuk dan mie hasil jerih payah kami.  Dikatakan jerih payah karena kami mendapatkan mie dan kerupuk ini berebut dan berlarian.  Walaupun mendapatkannya berebut, tapi jika sudah matang, kami makan bersama dan tidak berebut karena panas.   Pengalaman ini membuatku menjadi mengerti, segala sesuatu yang kita dapatkan sebaiknya tidak dinikmati sendirian karena saat kebersamaan membuat usaha pencarian kita menjadi berarti.

Beralih ke makanan lagi, ayam goreng kampung Margasana Jatilawang sangat enak.  Ini makanan dari aku kecil hingga dewasa masih tetap sama rasanya.  Jika melintasi jalur selatan dan memasuki daerah Jatilawang, mampir saja ke ayam goreng di daerah Margasana.  Tempat ini cocok untuk beristirahat, makan dan menikmati angin sawah yang sejuk.  Ciri khas Margasana ialah jika kita melewati sawah panjang selama di perlintasan jalur Wangon-Banyumas.  Angin sepoi-sepoinya sangat sejuk kita nikmati, dan jangan lupa minum dawet ayu dingin di daerah ini ya…

Sobat, masih ingin berkuliner di Purwokerto dan Banyumas? Cobalah mencicipi segala macam pecak.  Pecak adalah makanan rumahan yang sangat menggugah selera makan kita bertambah.  Cara membuat pecak sangat mudah dan sehat.  Bahan dasar utam pecak antara lain terung, belut, jantung pisang, lele, atau ikan lainnya.  Bumbu yang digunakan adalah jahe, cabe rawit dan merah, bawang merah dan putih, santan, gula jawa dan garam.  Bahan utama dan semua bumbu dibakar ya, kecuali gula jawa (gula merah) dan garam.  Pertama, masukkan semua bumbu ke cobek (jawa: ciri), gerus hingga halus, kemudian penyet bahan utamanya, dan siram dengan santan matang. Aduk-aduk perlahan dan sajikan dengan cobeknya. Sangat sederhana, praktis, dan rasanya mantapppp……

Nah sobat, itulah ciri khas kota kami, kota yang sejuk dan damai, beragam kuliner dan makanan khas membuatku tak pernah ingin berpaling ke kota lain.  Tetapi, apalah daya kita kalau harus merantau ke tanah orang.  Inilah hidup, seindah dan setinggi apapun tanah kelahiran kita, kenangan tak terlupakan telah terukir di sanubari.  Damailah terus Purwokerto-ku. Aku pasti akan kembali kepadamu, suatu saat !!

2 responses to “Purwokerto kota ngapakku

  1. leper, gachol kayak gimana ya?

    • leper bentuknya seperti opak, lebih kecil dengan diameter sekitar 10 cm mba..
      kalau gachol, dipotong kecil-kecil sekitar 0.5 cm3. Semakin renyah semakin enak.
      Keduanya dari bahan ketela pohon, rasanya asin agak manis dan biasanya warnanya merah muda atau warna asli ketela.
      Sangat enåk dimakan bareng pecel, hehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s