Penentuan Produksi Kelapa Sawit: Prinsip Dasar

BAB IV

PENENTUAN PRODUKSI KELAPA SAWIT: PRINSIP DASAR

Kees Breure

Oil Palm Consultant, Agricultural Services & Development (ASD), PO Box 30-1000, San Jose, Costa Rica.  E-mail: cj_breure@yahoo.com

PENDAHULUAN

Kelapa sawit membentuk biomassa melalui fotosintesis (assimilasi CO2) seperti tanaman pada umumnya.  Fotosintesis berasal dari CO2 di udara dan air (H2O) dari dalam tanah yang menghasilkan karbohidrat (CH2O).   Karbohidrat yang dihasilkan terutama digunakan untuk mendukung fungsi dari tanaman. Bagian sisa digunakan untuk perpindahan dan konversi CH2O menjadi struktur bahan kering dan untuk pengambilan nutrisi aktif dari tanah dan keseimbangan yang tersedia untuk produksi bahan kering dari vegetatif (daun, batang, akar) dan generatif (tandan).  Apabila suplai CH2O tidak mencukupi karena faktor lingkungan, maka ditekankan untuk produksi bahan kering vegetatif.

Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh bahwa suplai CH2O per tanaman dipengaruhi oleh kepadatan penanaman dan permintaan CH2O untuk produksi tandan dapat dikurangi dengan membuang pembungaan yang tidak baik.  Hal ini penting untuk menentukan produksi tandan kelapa sawit di bawah kondisi lapangan atau aktivitas pembuahan yang menyebabkan terjadinya fluktuasi hasil pada siklus berikutnya. Pada prinsipnya, suplai CH2O berpengaruh terhadap produksi tandan dan pertumbuhan kelapa sawit.  Selama pertumbuhan, perkembangan kanopi terjadi pada 3 fase.  Kapasitas penangkapan cahaya di permukaan daun hijau yang terjadi sangat diperlukan untuk interpretasi efek perkembangbiakan dan kultur teknis pertumbuhan serta pengukuran dalam penambahan pupuk dan nutrisi setelah satu tahun kelapa sawit ditanam.

ASIMILASI CO2 KOTOR

Transformasi CO2 ke CH2O dimulai dari difusi CO2 di udara yang masuk ke kloroplas di jaringan mesofil daun hijau. Ada 3 (tiga) fase dari penghalang difusi CO2 dalam kloroplas, yaitu:

  • Lapisan penghalang bagian atas permukaan daun,
  • Stomata yang ditentukan oleh tingkat pembukaan stomata, dan
  • Jaringan mesofil yang merupakan jalur transfer CO2 dari rongga stomata ke kloroplas.

Fase selanjutnya adalah proses fotokimia dimana cahaya diserap sebagian besar oleh klorofil dan dikonversi menjadi energi listrik yang memicu pembentukan energi yang kaya akan bahan kimia ATP (adenosine triphosphate) dan NADPH (nicotinamide adenine dinucleotide phosphate). Fase terakhir adalah proses biokimia dimana CO2 diubah menjadi CH2O menggunakan energi ATP dan NADPH.

I.                   Penyerapan Radiasi

Laju asimilasi CO2 kotor adalah proses awal dari semua yang bergantung pada jumlah kemampuan radiasi matahari dan ukuran permukaan daun untuk menangkap cahaya.  Area satu daun diukur dengan mengambil panjang dan lebar posisi daun sampel terpanjang dan menggandakan jumlah nilai dari setiap helai daun dan faktor koreksi (Hardon et al., 1969).  tengah Hanya radiasi sinar matahari dengan panjang gelombang antara 400-700 nm (Photosynthetically Active Radiation = PAR) yang berkontribusi untuk fotosintesis. PAR mempresentasikan 50% total radiasi, dimana dapat diukur dengan alat Solarimeter Kipp.  Fraksi PAR yang diserap oleh daun (f) dapat diperkirakan dengan persamaan:

………………………………………………… (1)

Dimana:

Iint = Fluks PAR yang tertangkap kanopi

Io  =  Fluks PAR di atas kanopi

K  =  Koefisien pengurangan intensitas cahaya

L  = Indeks luas daun (total permukaan daun per unit area bagian bawah daun), dan a  = Konstanta

II.                Konversi PAR yang Terserap

Laju konversi PAR dalam CH2O disebut efisiensi kanopi (e), yaitu jumlah CH2O yang tersedia untuk produksi struktur bahan kering per unit PAR yang terserap.  Efisiensi penangkapan radiasi oleh daun tunggal dikonversi menjadi CH2O tergantung pada intensitas cahaya dan laju difusi CO2 di dalam kloroplas. Efisiensi konversi radiasi sinar matahari yang diterima tanaman kelapa sawit menjadi CH2O adalah yang paling besar ketika bagian dari permukaan daun yang menangkap cahaya matahari pada intensitas cahaya yang lebih rendah adalah maksimal.  Laju asimilasi CO2 juga dipengaruhi oleh temperatur daun untuk asimilasi CO2 yang terletak antara 30-35oC, kira-kira temperatur naungan maksimum dalam kelembaban tropis. Penerimaan level intensitas cahaya, temperatur daun dan laju difusi CO2, efisiensi kanopi dapat dimanipulasi dengan kultur teknis dan kegiatan pemuliaan.

PEMBAGIAN ASIMILASI

Proses fotosintesis adalah proses untuk menghasilkan oksigen (O2) dan CH2O.  CH2O digunakan untuk pemeliharaan respirasi, respirasi pertumbuhan, dan produksi bahan kering struktural.

H2O + CO2           CH2O + O2…………………………………………………… (2)

I.                    Pemeliharaan Respirasi

Pemeliharaan pengeluaran biomassa atau pemeliharaan respirasi memberikan prioritas dalam pengalokasian CH2O. Keperluan pemeliharaan respirasi tanaman kelapa sawit sulit ditentukan secara empiris tetapi telah diestimasi dalam model simulasi pertumbuhan dan produksi kelapa sawit dari kandungan protein dan mineral serts aktivitas metabolisme jaringan kelapa sawit. Menurut model Van Kraaligen, pemeliharaan respirasi dipertanggungjawabkan sekitar 50% dari produksi CH2O kotor.  Proporsi respirasi membutuhkan pemeliharaan yang terlihat oleh jumlah asimilasi CH2O. Hal ini dapat diduga dari kerapatan tanaman dimana peningkatan kepadatan tanaman menurunkan pemeliharaan respirasi per kg produksi biomassa dan CH2O kotor (kg/tanaman) dalam pembagian yang sama.

II.                Respirasi Pertumbuhan

Masalah yang dihadapi dalam pasokan CH2O adalah respirasi pertumbuhan yang dibutuhkan untuk membentuk produk akhir dari bahan struktural, seperti selulosa, lignin, protein, asam organik dan lemak.  Dalam komponen utama kelapa sawit, jumlah CH2O diperlukan untuk produksi bahan kering yang dapat dihitung secara terpisah untuk batang, daun, akar dan tandan. Kandungan buah tandan memiliki proporsi lemak terbesar yang kaya energi (lipid) di bagian serabut dan karenanya dalam hal efisiensi konversi, sehingga biaya terbesar terdapat dalam hal produksi (Tabel 1a).

Jumlah kerugian akibat respirasi pertumbuhan dihitung dengan mengurangi jumlah bahan kering yang terbentuk dari jumlah CH2O diperlukan untuk pembentukannya. Perlu diketahui bahwa jika kita meningkatkan rasio ekstraksi, misalnya 57% minyak untuk tandan kering (Mesocarp 30% plus minyak inti untuk tandan segar), seperti yang dapat dicapai dengan bahan tanam unggul, maka dapat meningkatkan konversi biaya untuk 2,49 kg CH2O kg-1 tandan kering dan proporsi CH2O digunakan untuk respirasi pertumbuhan akan meningkat menjadi sekitar 25% (Gambar 3).

Produksi tandan kering kelapa sawit diperkirakan oleh Corley sebagai berikut:

Tandan bahan kering = Buah tandan segar x 0,53………………… (3)

Batang produksi bahan kering dihitung dari produk kenaikan volume dan kepadatan batang (g / L).  Kepadatan jaringan batang baru akan meningkat seiring dengan usia kelapa sawit dan diperkirakan sebagai berikut:

Kepadatan batang = 7.62 T + 83……………………………………… (4)

Dimana T adalah jumlah tahun setelah tanam. Perhitungan kepadatan batang ini akan meningkat dari pengukuran bagian sebelumnya karena dipengaruhi oleh ukuran batang dan usia.

Daun bahan kering dihitung dari jumlah daun yang berproduksi dan berat rata-rata seluruhnya. Berarti berat daun diestimasi dengan menggunakan hubungan antara petiole cross-section (PCS), yang diukur sebagai produk dari tangkai daun lebar dan tinggi tangkai daun pada titik penyisipan dari first true pinnae, dan berat kering daun. Corley dkk memberikan rumus:

Berat daun kering = 0.1023 PCS + 0.2062…………………………..  (5)

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang lebih baik yang dijelaskan secara kuadratik dimana:

Berat daun kering = -0.0007 PCS2 + 0.1245 PCS2 PCS – 0.0826…..  (6)

Perhitungan terhadap jumlah produksi bahan kering akar sulit diukur.  Asumsi yang dapat dilakukan untuk menghitungnya bahwa bahan kering akar mewakili 10% dari total produksi bahan kering, berdasarkan pada pengukuran di Malaysia (Corley et al., 1971b; Ng et al., 1968), dan telah dikonfirmasi Henson and Chai (1997).

III.             Tandan dan bahan kering vegetatif

Produksi yang tersisa dari bahan kering secara struktural setelah persyaratan pertumbuhan (25%) dan pemeliharaan (50%) untuk respirasi telah dipenuhi adalah 25% dari produksi CH2O kotor, yang sesuai dengan perkiraan Henson.   Produksi bahan kering di bawah kondisi pertumbuhan yang menguntungkan adalah hasil pembagian antara produksi tandan dan bagian-bagian vegetatif di atas tanah (lihat tabel 1b, gambar 3). Ketika kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan membatasi asimilasi CO2, maka persyaratan untuk pertumbuhan vegetatif didahulukan produksi tandan yang berlebih. Dengan demikian, CH2O dialokasikan untuk produksi tandan hanya setelah persyaratan minimum untuk pertumbuhan vegetatif telah terpenuhi. Adalah penting bagi petani untuk menunjukkan bahwa produksi tandan dikorbankan sebelum pertumbuhan vegetatif sesegera setelah kondisi stress ditingkatkan sebagai hasil dari manajemen lapangan yang buruk.

Dalam pembahasan tentang produktivitas, tanaman dilihat sebagai ‘sumber terbatas’ atau sebagai ‘pengguna terbatas’. Dalam konteks ini, ‘sumber’ mengacu pada jumlah CH2O tersedia untuk produksi bahan kering, dan adalah produk dari proporsi radiasi matahari dihalangi oleh kanopi dan efisiensi dari kanopi itu sendiri. Sink merujuk kepada bagian sawit di mana ada penggunaan untuk CH2O.  Hubungan yang kuat antara suplai CH2O dan hasil menunjukkan bahwa produksi tandan adalah sumber-terbatas’ dan tidak ‘pengguna-terbatas’. Jadi ada kemungkinan bahwa potensi hasil produk ekonomi (kelapa sawit dan kernel) ditentukan oleh laju asimilasi CO2 bruto (aktivitas sumber) kecuali kelapa sawit muda (tanaman belum menghasilkan), dimana ‘penggunaan’ ukuran tandan dapat membatasi hasil (Henson, 1990).

PRODUKSI MINYAK POTENSIAL

Produksi potensial adalah produksi maksimum yang dapat diperoleh oleh tanaman sebagai simulasi model yang menggunakan asumsi fisiologis dan agronomi.  Potensi produksi adalah produksi yang dihasilkan dari kultivar yang disesuaikan dengan lingkungan yang ditanam, dengan pasokan nutrisi dan air yang cukup tanpa gangguan hama penyakit (Evans and Fischer, 1999).  Hal ini penting untuk membedakan antara produksi potensial dan potensi produksi.

Pembahasan mengenai potensi produksi, kita mengasumsikan bahwa radiasi matahari adalah satu-satunya faktor yang membatasi asimilasi CO2 kotor dan karenanya produksi bahan kering. Untuk tingkat radiasi tertentu, potensi produksi CH2O yang merupakan persyaratan dasar untuk menghasilkan minyak, adalah dimulai dari fungsi jumlah radiasi matahari yang diserap oleh permukaan daun. Sementara untuk nilai L 10-12 dapat diperoleh (Corley, 1973), nilai yang tinggi tersebut tidak menghasilkan produksi maksimal. Sebaliknya, kita akan melihat bahwa hasil per hektar cenderung menurun di nilai L yang lebih besar dari sekitar 6 (Gambar 6). Nilai L di mana produksi optimum per hektar dapat terjadi meningkat oleh kegiatan pemuliaan dan dapat dianggap sebagai tujuan dalam program pemuliaan tersebut.

Penggunaan model simulasi Van Kraalingen dan nilai L 6,5, Henson diperkirakan produksi CH2O 150 ton / ha / tahun untuk daerah dengan sinar matahari tinggi di Asia Tenggara. Hal ini sesuai dengan Dufrene (1990). Jika kita berasumsi bahwa 75% dari produksi kotor CH2O digunakan untuk respirasi pertumbuhan dan pemeliharaan, dan sisa 25% tersedia untuk produksi bahan struktural kering (gambar 3), hal ini sesuai dengan produksi bahan kering 37,5 ton / ha / tahun. Dari jumlah ini, sekitar 50% tandan bahan kering adalah perkiraan yang realistis. Faktor 0,53 digunakan untuk mengkonversi bahan tandan kering dengan berat tandan segar (persamaan 3), yang akan menghasilkan tandan buah menjadi:

Produksi (ton tandan buah ha-1) = 37.5×0.5/0.53 = 35.4

Jika kita menggunakan minyak: rasio tandan segar dari 0,30, seperti yang dapat dicapai pada tingkat hasil tandan, potensi produksi minyak dapat dihitung pada 10,6 t / ha / th untuk lokasi adalah Asia Tenggara yang mendapatkan radiasi matahari tinggi. Beberapa komentar yang diperlukan terhadap produksi potensial yang tinggi secara signifikan telah disebutkan dalam literatur (Corley, 1985, 1988; Henson, 1992b).

Dalam studi awal, Corley (1985) diperkirakan potensi hasil minyak 17,4 t / ha / thn berdasarkan pada asumsi sebagai berikut:

  • Produksi bahan kering 35 gr.m2/d setara dengan 128 ton / ha / th, ditarik untuk bekerja sama dengan beberapa tanaman tropis C3 tahunan yang tumbuh di lokasi percobaan dan diukur selama periode tertentu dengan rata-rata pertumbuhan maksimum (Monteith, 1978).
  • CH2O bruto produksi 256 ton / ha / tahun, dengan asumsi bahwa 50% dari asimilasi CH2O kotor hilang oleh respirasi berdasarkan karya Monteith (1972) dengan tanaman tropis tahunan (yaitu 2 x 128 = 256).
  • Sebanyak 75% respirasi hilang untuk tanaman keras tropis (yaitu 256 – (256 x 75%) = 64).
  • Bahan kering produksi 64 ton / ha / tahun (64 x 0,019) ekuivalen dengan 1.2 TJ  /ha / tahun (64 x 0.019) mengasumsikan kadar energi rata-rata 0,019 / TJ / jumlah tahun pada bahan kering (yaitu tanpa disesuaikan dengan kandungan energi yang lebih tinggi dari minyak).

Hitungan Corley:

Berdasarkan partisi 39.7% dari bahan kering di atas tanah untuk produksi minyak dan sisanya (keragaan terbaik individu terbaik pada saat itu), dan kandungan energi 0,040 TJ / t untuk minyak dan 0,019 TJ / t untuk bahan kering lainnya.   Tiga asumsi yang digunakan untuk menghitung potensi hasil minyak 17.4 ton / ha / thn perlu dipertanyakan. Pertama, hal itu mungkin tidak dibenarkan untuk ekstrapolasi seperti tingkat besar produksi CH2O (256 CH2O t / ha / thn) dari pengukuran yang dilakukan pada tanaman tahunan selama periode waktu yang singkat untuk kelapa sawit. Kedua, respirasi yang tinggi menghilangkan 75% kemungkinan untuk biaya sintesis minyak yang tinggi (tabel 1b).  Corley menerapkan penyesuaian tambahan berdasarkan kebutuhan energi untuk sintesis minyak 0.04 TJ / t. Karena energi sintesis yang lebih tinggi 0,04 TJ / t telah digunakan untuk menghitung produksi minyak, maka produksi bahan kering total berkurang dari 64 ke 43,9 t / ha. Ketiga, indeks panen 39.7% dihitung tanpa memperhitungkan produksi bahan kering akar, sementara nilainya digunakan untuk produksi CH2O kotor termasuk bahan kering baik di atas maupun di bawah tanah.  Perhitungan ini dijelaskan untuk menggarisbawahi bahaya penggunaan nilai dari tanaman lain untuk memperkirakan potensi hasil kelapa sawit.

Menurut Corley (1998), perhitungan produksi potensial minyak 18.1 ton/ha/ th berdasarkan pada hasil 36.6 ton tandan buah per ha dan proporsi 0.5 untuk minyak dari tandan segar, diperoleh dari nilai maksimum yang diamati saat ini untuk komponen individu rata-rata ekstraksi minyak (seperti 0.80 buah tandan, 0.95 mesocarp buah, dan 0.65 minyak dari mesocarp buah).  Henson (1992b) mengemukakan bahwa potensial produksi 14 ton/ha/th dengan asumsi:

  • Produksi CH2O kotor 162 ton/ha/th untuk kondisi sinar matahari yang tinggi di Asia Tenggara
  • Respirasi menghilangkan 67% (50% pemeliharaan dan 17% respirasi pertumbuhan) dan 33% sisanya digunakan untuk bahan kering, yang diadaptasi dari Dufrene et al. (1990).
  • Total minyak dari bahan kering 26%.

Sehingga, kita menghitung besarannya, 162.8 x 0.33 x 0.26 = 13.97, atau mendekati 14.0 ton minyak /ha/th.

Memaksimalkan hasil

Potensi hasil minyak di lingkungan yang menguntungkan secara realistis menunjukkan rata-rata pada periode umur ekonomi dari penanaman setelah penutupan kanopi, yaitu sekitar 10 hingga 11 t / ha / tahun. Karena hasil minyak dari perkebunan komersial terbaik adalah sekitar 6 t / ha / tahun (Corley, 1983), sehingga terdapat ruang besar untuk menjembatani kesenjangan antara hasil aktual dan potensial bahkan ketika dugaan potensi hasil digunakan.   Terdapat dua pilihan untuk meningkatkan hasil minyak, yaitu untuk:

  • Meningkatkan asimilasi CO2 kotor, dan penyediaan CH2O
  • Meningkatkan proporsi CH2O dialokasikan untuk produk-produk ekonomi.

Oleh karena itu, hasil akan meninjau dari segi persamaan berikut (Monteith, 1972)

Y= S x f x e x Hlc…………………………………………………………… (7)

Dimana Y= hasil minyak (t/ha), S = total energi matahari yang diterima pada permukaan tanaman (MJ/m2), f = fraksi radiasi matahari yang dicegah oleh permukaan daun, e = efisiensi kanopi, dan Hlc = indeks panen (proporsi total CH2O yang terkandung dalam produk ekonomi).  Dengan demikian, hasil minyak dipengaruhi total radiasi yang diterima, efisiensi kanopi, dan index panen.

PENGEMBANGAN KANOPI

Terdapat tiga fase dalam pengembangan kanopi, yaitu pertama periode tanam lapangan ke penutupan kanopi, kedua dari penutupan kanopi hingga daun termuda diperluas sepenuhnya mencapai ukuran maksimum, dan fase ketiga dimulai ketika ukuran daun mahkota baru telah mencapai maksimal (gambar 4).

Fase 1

Fase 1 berkisar antara 5-7 tahun dimana kondisi pertumbuhan yang menguntungkan untuk kelapa sawit yang ditanam dengan jarak penanaman kepadatan komersial.  Periode segera setelah tanam di lapangan, perluasan area daun memiliki prioritas tertinggi selama CH2O dialokasikan untuk produksi bahan kering, dan proporsi asimilasi CO2 kotor meningkat seiring perluasan permukaan daun yang menghalangi cahaya matahari.  CH2O pertama kali untuk respirasi pemeliharaan dan pertumbuhan vegetatif hingga CH2O yang dihasilkan cukup mendukung perkembangan primordia perbungaan. Bunga jantan muncul pertama diikuti bunga betina. Pengukuran daun dapat menunjukkan bahwa ukuran dari total permukaan daun menentukan awal produksi tandan.

Hubungan positif antara L dan fraksi radiasi matahari yang dicegah oleh permukaan daun (f) adalah asimtotik (persamaan 1), yang menyiratkan bahwa keuntungan dalam asimilasi tanaman CO2 kotor per ha secara bertahap berkurang dan pendekatan maksimal apabila kanopi praktis ditutup. Pada tahap ini sekitar 80% cahaya dicegah (Breure, 1987), dan ini menandai awal terjadinya fase 2.

Fase 2

Fase 2 dimulai sejak akhir fase 1 hingga tanaman mencapai kepadatan tertinggi.  Menurut Breure,  pengamatan yang berpengaruh terhadap fase 2 adalah daerah rata-rata daun ke 17, indeks luas daun (L), fraksi PAR yang dicegah (f), efisiensi kanopi (e), dan banyaknya hasil per pohon dari percobaan tingkat kerapatan x pupuk yang dilakukan di Papua Nugini (gambar. 4).  Intersepsi cahaya diperkirakan dari persamaan 1 berdasarkan:

  • Nilai L untuk usia kelapa sawit yang berbeda dan jumlah daun hijau
  • Nilai K

Rata-rata luas daun baru yang diproduksi terus meningkat setelah penutupan kanopi hingga sekitar sepuluh tahun setelah tanam (Gambar 4a). Intersepsi cahaya diduga berasal dari nilai L dan koefisien ekstriksi (k) (Persamaan 1), mengikuti trend yang sama dan lebih besar dari kepadatan penanaman yang tinggi (gambar 4b).  Indeks luas daun tidak hanya tergantung pada daerah rata-rata daun tombak dan kerapatan tanam, tetapi juga pada jumlah daun hijau di dalam daun tombak. Karena pemotongan daun yang lebih besar saat pemanenan tandan di pelepah tua yang dibandingkan dengan tingkat pembentukan daun yang lebih rendah, maka nilai L mencapai maksimum lebih awal daripada daerah rata-rata per daun. Namun demikian, sebagai akibat dari peningkatan nilai K, intersepsi cahaya fraksional terus meningkat selama fase 2 (Gambar 4b).  Intersepsi cahaya di penanaman komersial dari berbagai usia di Papua Nugini dan NS, Breure menemukan banyak peningkatan dalam K dari 0.37 di tahun ke-6 hingga tahun ke-8 menjadi 0.45 di tahun ke-9 hingga ke-11. Seperti perubahan nilai K dapat meningkatkan intersepsi cahaya sekitar 5% untuk nilai L dalam kisaran 5 hingga 6.

Peningkatan intersepsi cahaya setelah kanopi tertutup lebih dibatasi pada daun muda yang muncul pada kanopi.  Selanjutnya, cahaya tambahan yang diterima dibuang dan tidak meningkatkan asimilasi CO2 kotor.  Kebutuhan pemeliharaan respirasi sedikit lebih meningkat sebagai hasil dari jumlah yang lebih besar terhadap metabolisme aktif biomassa daun sampai daun baru mendekati ukuran maksimum. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan tambahan untuk respirasi pemeliharaan tidak dikompensasikan dengan peningkatan asimilasi CO2 kotor. Dengan demikian, kekurangan CH2O digunakan untuk produksi bahan kering, meskipun intersepsi hidup terus meningkat.  Efisiensi kanopi (e) menurun dan mencapai minimum tak lama setelah ekspansi tajuk selesai.

Fase 2 merupakan fase dimana tanaman kekurangan CH2O tersedia untuk produksi bahan kering total, sehingga menyebabkan terjadi peningkatan permintaan CH2O dan sekelompok indeks menurun hingga sekitar delapan tahun setelah tanam di lapangan.  Efek samping dari fase 2 yang tidak diinginkan dari peningkatan intersepsi cahaya oleh kanopi kelapa sawit yaitu vegetasi tanah secara bertahap menghilang. Kondisi tanah yang tidak tertutupi vegetasi atau hanya sedikit vegetasi dapat meningkatkan risiko erosi tanah, limpahan permukaan air yang berlebihan, hara pupuk mineral terbawa dari lapangan, akar berada di atas tanah, dan pengurangan habitat predator penting dari hama pemakan daun kelapa sawit. Menutupan tanah dengan tandan buah kosong dapat mencegah erosi dan membantu dalam pemulihan vegetasi tanah ketika penetrasi cahaya meningkatkan luas daun setelah mencapai ukuran akhir pada akhir fase 2.

Fase 3

Penetrasi cahaya pada fase 3 lebih besar terutama karena perbedaan yang muncul di kanopi daun.  Tajuk daun kelapa sawit saling berdekatan ketika efek dari variabilitas genotipe dan adanya selisih ketinggian karena bertambahnya umur kelapa sawit.  Sebagai hasil dari perubahan posisi daun, nilai k menurun dan stabil pada fase 1.  Distribusi cahaya meningkat di atas kanopi dan proporsi cahaya matahari meningkat dengan rata-rata asmilasi maksimum di atas permukaan daun. Kedua efek ini mengakibatkan peningkatan nilai e, terutama pada kerapatan tanam yang lebih tinggi dimana nilai e mencapai minimum yang lebih rendah pada fase 2.  Hasil produksi tandan mengikuti tren analog dengan nilai e (gbr. 4d) dan dalam jangka panjang meningkatkan nilai e yang lebih seimbang dari pengurangan pengaruh intersepsi cahaya yang disebabkan oleh penurunan nilai K dan nilai L).  Kerapatan tanam yang tinggi menyebabkan penurunan hasil produksi pada akhir fase 2, namun pada fase 3 mengalami peningkatan dan pemulihan hasil produksi yang lebih besar.  Sehingga, ini merupakan hal penting yang terus diperhatikan ketika dilakukan pemangkasan pada fase 2.

KERAPATAN TANAM DAN PENATAAN INDIVIDU KELAPA SAWIT

Untuk memaksimalkan hasil produksi awal, penutupan kanopi harus dicapai secepat mungkin setelah ditanam di lapangan. Tujuan ini dapat dicapai dengan meningkatkan kerapatan tanam dan jarak tanam yang dapat meningkatkan nilai L serta kemudian hasil yang lebih rendah di tahun kemudian (gambar 6).  Sejumlah CH2O yang dialokasikan untuk produksi tandan bahan kering (CH2O/ha kg) dapat meningkatkan nilai L hingga (L = 5.6), dan cenderung menurun pada nilai L yang lebih tinggi.  Kerapatan tanam yang optimal untuk hasil maksimal merupakan kerjasama antara penutupan kanopi sedini mungkin saat tanaman masih muda dan meminimalkan kompetisi antar kelapa sawit terhadap cahaya saat kanopi tertutup di penanaman tanaman yang lebih tua.

Iklim mikro yang gelap dan sejuk di kanopi disebabkan oleh kompetisi cahaya yang lebih besar pada kondisi penanaman kerapatan yang tinggi dapat meningkatkan efektivitas kumbang penyerbuk (Elaedobius kamerunicus). Kondisi tersebut meningkatkan satuan buah, minyak, dan rata-rata ektraksi kernel.  Serangga penyerbuk dapat meningkatkan produksi tandan buah yang lebih banyak pada kondisi kerapatan tanam yang optimal. Penurunan pertumbuhan vegetatif akibat dari penyerbukan merupakan salah satu pendapat untuk kerapatan tanam optimal yang lebih tinggi.

Hasil produksi dipengaruhi oleh pengaturan geometri tanaman kelapa sawit di lapangan. Tajuk kelapa sawit membentuk secara sirkular, berbeda dengan pohon dikotil pada umumnya, dan tidak dapat tumbuh simetris. Tanaman kelapa sawit di tanam menggunakan susunan segitiga standar.  Kerapatan tanam yang tinggi dan intervensi pemangkasan ketika kompetisi antar tanaman kelapa sawit sangat tinggi lebih bermanfaat di lahan dimana tingkat ekpansi tajuk rendah.  Penanaman di jarak triangular dan kemudian dilakukan pemangkasan daun tak teratur menjadi metode yang sangat efektif (Nazeeb et al. 1990).  Peningkatan hasil produksi dapat diketahui setelah fase 2 dimana kerapatan tanam optimal untuk mencapai hasil maksimal selama fase ini lebih rendah daripada di fase 1 dan 3.

PEMULIAAN

Tujuan program pemuliaan adalah mengembangkan bahan tanam yang dapat memaksimalkan konversi radiasi surya yang ada menjadi produk ekonomi. Pemuliaan menyiratkan seleksi untuk meningkatkan intersepsi cahaya (f), kanopi efisiensi (e) dan indeks panen (HI).

Intersepsi cahaya (f)

Mengurangi kejadian penyakit tajuk merupakan metode efektif untuk meningkatkan intersepsi cahaya per pohon. Gangguan ini biasanya muncul saat daun baru membuka dan terjadi selama periode dari awal penanaman hingga penutupan kanopi.  Penyakit tajuk merugikan hasil produksi dan efeknya yang paling terlihat pada tahun pertama produksi (Breure dan Soebagyo 1991). Program pemuliaan diarahkan untuk resisten terhadap gangguan penyakit tajuk. Pemuliaan juga diarahkan untuk kanopi yang cepat menutup karena asimilasi CO2 bruto maksimum dicapai ketika kanopi tertutup (fase 1) dikombinasikan dengan mengurangi periode ekpansi tajuk setelah tertutup (fase 2) dan meningkatkan awal produksi dan indeks tandan yang lebih tinggi.

Breure menggambarkan luasan daun termuda yang membuka sebagai fungsi dari waktu setelah tanam di lapangan dengan kurva pertumbuhan logistik dari mana luas daun maksimum (LAmax) dan periode mencapai 95% maksimum (T0.95) dapat diduga.  Interval pendek ini (T0.95) merupakan salah satu tujuan seleksi dalam program pemuliaan.  Sehingga, nilai LAmax dapat digunakan sebagai acuan dalam menetapkan kerapatan tanam optimal yang merupakan perpaduan antara bahan tanam dengan lingkungan.  Peningkatan kerapatan tanam dapat memicu intersepsi cahaya, tetapi ketika nilai L melebihi nilai optimal (L=6) hanya akan menguntungkan produksi bahan vegetatif kering total dan hasil produksi per hektar cenderung menurun.

Efisiensi Kanopi (e)

Pemuliaan kelapa sawit memiliki peranan dalam peningkatan produksi minyak yang terjadi antara tahun 1950 hingga 1990 dengan menggunakan efisiensi kanopi (Corley and Lee, 1992).   Laju asimilasi CO2 bruto secara langsung berkaitan dengan sejauh mana cahaya menembus tajuk.  Seperti disebutkan sebelumnya, bagian atas tajuk daun menjadi cahaya-jenuh pada tingkat yang relatif rendah radiasi matahari, khususnya di daerah tropis yang bersuhu lembab, daun bagian atas seringkali melebihi level optimum untuk asimilasi CO2 kotor.

Bagian dari radiasi yang tersedia dengan demikian menjadi sia-sia, dan efisiensi kanopi berkurang, kecuali penetrasi cahaya melalui lapisan atas kanopi meningkatkan asimilasi CO2 kotor di permukaan daun.  Salah satu pilihan untuk meningkatkan efektivitas kanopi yaitu dengan menanam beberapa genotipe atau klon yang berbeda ketinggian.  Klon kelapa sawit berbeda dalam kepekaan terhadap suhu tinggi dan defisit tekanan uap atmosfer (Lamade and Setiyo, 1996).  Hal ini dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan kelapa sawit yang toleran terhadap suhu tinggi dan kekeringan, terutama untuk progeni yang ditanam di lahan rawan kekeringan, karena perlakuan ini meningkatkan nilai e.

Magnesium (Mg) adalah komponen penting klorofil, dan defisiensi Mg menyebabkan berkurangnya fotosintesis berkurang dan nilai e. defisiensi Mg mudah diidentifikasi dalam kelapa sawit dan pemupukan merupakan cara efektif untuk mengatasi defisiensi Mg. Namun, pupuk Mg tidak efektif memperbaiki defisiensi Mg pada kelapa sawit yang ditanam di tanah vulkanik muda di PNG (Breure and Rosenquist, 1977), dimana tingkat Mg daun dan hasil minyak menunjukkan korelasi r=0.70 dari progeni persilangan DxP.  Menurut analisis regresi berganda, Mg daun progeni tenera dari tetua pisifera dan dura berkisar 80%.  Sehingga, pemuliaan untuk meningkatkan hasil produksi dapat menggunakan karakter Mg daun yang tinggi dimana lingkungan tumbuh sulit meningkatkan Mg daun dengan pupuk mineral.

Indeks Panen (HI)

Indeks panen adalah rasio antara produk ekonomi dengan produksi bahan kering total.  Indeks panen telah meningkat signifikan melalui kegiatan pemuliaan 50 tahun terakhir, terutama disebabkan peningkatan produksi tandan. Pemulia berpendapat bahwa ada ruang untuk meningkatkan HI dengan mengurangi jumlah pertumbuhan vegetatif.   Breure (1998) menyebutkan untuk fokus pada pengurangan bagian-bagian vegetatif di atas tanah dari kelapa sawit yang tidak berkontribusi terhadap fotosintesis.  Daun kelapa sawit dapat dengan mudah membagi hasil fotosintesis dan bagian-bagian yang aktif dalam mendukung non-photosynthetically.  Kegiatan pemuliaan tanaman kelapa sawit untuk meningkatkan hasil produksi produk ekonomi melalui komponen indeks panen adalah dengan  1) mengurangi daun terakhir untuk luas daun yang tinggi atau rasio luas daun; 2) mengurangi pertumbuhan vegetatif dengan cara mengurangi rata-rata produksi daun; 3) menyeleksi pertumbuhan meninggi yang rendah untuk mengurangi biaya panen dan memperlambat penanaman ulang (replanting); 4) melakukan persilangan untuk mendapatkan progeni tenera yang memiliki kandungan minyak dan kernel lebih tinggi.

Metode Pemuliaan dan Seleksi

Tujuan utama pemuliaan dan seleksi adalah memilih dura betina dan pisifera jantan untuk mendapatkan keturunan tenera dengan produksi minyak tinggi. Selain pemilihan langsung untuk hasil tandan dan tingkat ekstraksi minyak, tujuan untuk mencapai hasil minyak besar dapat ditingkatkan dengan seleksi untuk sifat yang berkaitan dengan asimilasi CO2 tinggi kotor dan persyaratan CH2O kecil untuk produksi bahan kering vegetatif non-photosynthetically.

Karakter sekunder yang secara tidak langsung berhubungan dengan produksi digunakan sebagai ciri-ciri tambahan dalam program pemuliaan kelapa sawit, terutama karena perkembangan pengukuran non-destruktif yang digunakan untuk menduga luas daun dan produksi bahan kering (Hardon et al., 1969; Corley et al., 1971b).  Karakter sekunder seperti pertumbuhan vegetatif dan tingkat Mg daun, berguna untuk memilih tetua pisifera dari dura steril, dan hal ini tidak dapat dipilih langsung untuk menghasilkan minyak. Seleksi masa pertumbuhan vegetatif tidak efektif dilakukan karena heritabilitas rendah, keragaan famili diperkirakan dengan menambahkan daya gabung umum (DGU) dari kedua tetua.  Nilai DGU diperoleh dari progeni dari persilangan DxP.

Peningkatan efisiensi seleksi adalah eksploitasi bahan genetik tingkat molekuler.  Langkah pertama dalam pendekatan ini adalah untuk menentukan polimorfisme kandidat untuk seleksi. Kemudian mengidentifikasi setiap karakter polimorfisme sebagai penanda.  Kandidat dikarakterisasi dasar materi genetiknya dan jaringan tanaman dapat digunakan untuk percobaan.  Genotipe yang diuji dapat dievaluasi pada tahap awal perkembangan, sehingga dapat mengurangi siklus seleksi.  Keuntungan lain menggunakan penanda molekuler adalah data penanda independen terhadap kondisi pertumbuhan.  Penanda DNA diharapkan dapat melengkapi data percobaan konvensional program pemuliaan.

 

 

FAKTOR PEMBATAS

Pembahasan sebelumnya adalah potensial produksi kelapa sawit dimana sistem budidaya berada pada kondisi optimum, seperti radiasi cahaya, temperatur, karakteristik tanaman, bentuk kanopi, fisiologi tanaman, dan progeninya.  Namun, di sisi lain terdapat faktor pembatas untuk memperoleh potensial produksi yang tinggi.  Faktor tersebut antara lain ketersediaan hara tanah, akses mendapatkan air, keberadaan gulma, hama, dan penyakit yang dapat menurunkan produksi.  Faktor-faktor tersebut tidak dapat dihilangkan namun bagaimana cara mengurangi atau mencegah faktor-faktor tersebut mempengaruhi penurunan produksi yang lebih besar.

Ketersediaan hara

Aplikasi pupuk dapat meningkatkan nilai e bila ada kekurangan hara yang dibutuhkan selama pertumbuhan. Hara esensial yang dibutuhkan tanaman yitu nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K).  Nitrogen (N) sebagai status N daun menentukan tingkat asimilasi CO2 kotor pada radiasi cahaya.   Hara N berpengaruh terhadap fase bibit hingga fase 1 dari ekpansi tajuk.  Kelebihan hara N dapat meningkatkan fotosintesis pertumbuhan fase bibit menjadi lebih besar.  Kekurangan  hara N menyebabkan penutupan kanopi lebih lama dan produksi tandan terlambat.  Fosfor (P) memiliki peranan penting dalam pertumbuhan kelapa sawit karena terdapat pada senyawa ATP dan NADP yang terlibat dalam perpindahan energi di dalam sel.  Perkembangan sel tanaman tergantung pada rasio N daun dan P daun.  Ochs and Olivin (1976) menyebutkan bahwa:

 P daun= 0.04857 N daun + 0.039      ..…………………………………….. (8)

Dengan pendekatan yang berbeda, Foster and Prabowo (2003) menyarankan menggunakan rasio optimum N dan P adalah 15 : 8.

Kalium (K) berperan dalam mempertahankan perbedaan potensial listrik di membran dan berkontribusi terhadap status osmotik sel. Hara K terlibat dalam penutupan dan pembukaan stomata pada kelapa sawit, sehingga mempengaruhi difusi CO2. Selain hara esensial tersebut, terdapat magnesium (Mg), boron (B), tembaga (Cu), dan sulfur (S) yang berpengaruh terhadap pertumbuhan optimal.

Corley and Mok (1972) menyebutkan bahwa pupuk N dan K meningkatkan produksi bahan kering vegetatif dan indeks luas daun (L).  Hal tersebut disebabkan adanya hubungan antara nilai L dan intersepsi cahaya yang asimtotik (Persamaan 1).  Pupuk lebih efektif meningkatkan intersepsi cahaya, efisiensi kanopi dan produksi bahan kering vegetatif pada tanaman muda dibandingkan dengan tanaman tua.  Faktor lain yang berinteraksi dengan efek pupuk adalah nilai e yang lebih tinggi pada permukaan daun, sebagai pengaruh dari kerapatan tanam dan umur tanaman.  Kesuburan tanah berpengaruh terhadap daun hijau pada tajuk, meningkatkan indeks luas daun (L), kerapatan vegetasi tanah, meningkatkan petiole cross-section, produksi ekstraksi minyak dan kernel.  Penambahan pupuk K berpengaruh terhadap rata-rata ektraksi minyak dan kernel kelapa sawit (Foster et al., 1988).

Cekaman kekeringan

Kekeringan, kekurangan air, dan sistem drainase yang buruk mengurangi tingkat pertumbuhan kelapa sawit. Kekeringan menyebabkan penutupan stomata yang mencegah kerugian transpirasi lebih lanjut, tetapi menghambat difusi CO2 ke dalam daun dan menghasilkan pengurangan nilai e.  Efek kekeringan dapat dikurangi dengan irigasi dan respon hasil yang signifikan dapat dilakukan pada beberapa uji coba sistem irigasi.

Perlakuan irigasi mikro sprayer menghasilkan produksi optimum hanya 22 t/ha/th dengan defisit air hingga 600 mm/tahun.  Hasil tersebut jauh lebih kecil jika kita memperoleh air di daerah curah hujan cukup dan terdistribusi baik.  Hal ini diduga karena semprotan mikro tidak meningkatkan kelembaban cukup di atmosfer.  Smith (1989) dan Dufrene and Saugier (1989) menyebutkan stomata tidak hanya menutup ketika tanah menjadi kering, tetapi juga ketika air dalam jaringan dipengaruhi oleh defisit tekanan uap yang besar di atmosfer.  Henson (2000) juga menekankan pentingnya defisit tekanan uap atmosfer sebagai faktor penting pembatas produksi.

Sejumlah air yang berlebihan di dalam tanah (drainase buruk) mengakibatkan kekurangan oksigen. Oksigen diperlukan untuk respirasi CH2O pada akar, yang menyediakan energi yang dibutuhkan untuk penyerapan air serta untuk aktif serapan hara melalui endodermis dan membran sel. Selain itu, kelebihan air dan genangan air menginduksi kekurangan N karena denitrifikasi.  Sistem drainase yang tepat sangat penting pada penanaman tanaman muda, dimana hara N berpengaruh terhadap periode awal pembentukan tandan buah.

Gulma, hama, dan penyakit

Persaingan gulma dan tanaman kelapa sawit terjadi di atas maupun di bawah tanah.  Persaingan di bawah tanah terjadi untuk mendapatkan sumber daya tanah, seperti kelembaban dan hara (misalnya Imperata cylindrica) dan di atas tanah untuk cahaya (misalnya Mikania cordata). Tingkat pertumbuhan tanaman muda meningkat dengan meningkatkan penetrasi cahaya ke pelepah kanopi dengan menebang atau memangkas tanaman yang merambat dari daun kelapa sawit.  Pemotongan gulma tinggi yang berbatasan dengan lingkaran sawit juga meningkatkan pertumbuhan tanaman muda.

Intersepsi cahaya mengurangi infeksi jamur dan serangan ulat pemakan daun kelapa sawit.  Hama dan penyakit mempengaruhi hasil secara langsung, seperti asimilasi tungau menghisap dan nematoda, burung pemakan buah, tikus, atau gajah. Sebuah sistem yang tepat pengendalian hama dan penyakit oleh karenanya sangat penting untuk kinerja kanopi efisien dan untuk mengurangi kerugian tanaman.  Pengelolaan hama penyakit perlu dilakukan untuk keragaan efisiensi kanopi dan mengurangi kehilangan hasil yang lebih besar.  Pada akhirnya, manajemen gulma dan hama terpadu mensyaratkan bahwa keseimbangan antara akses pemanen dan mengurangi kompetisi gulma dengan mempertahankan kecukupan tanaman penutup dan habitat predator hama kelapa sawit.

Penyerbukan

Bunga kelapa sawit dipengaruhi adanya ketersediaan CH2O untuk produksi tandan buah.  Pembentukan buah sangat rendah dan secara merata di dunia terjadi sebelum ditemukan identifikasi dan keberhasilan kumbang penyerbuk Elaedibius kamerunicus. Namun, walaupun terdapat kumbang penyerbuk, polinasi alami tidak cukup efektif untuk pembentukan buah.  Perlu dilakukan penyerbukan buatan untuk mendapatkan buah yang maksimal.  Peningkatan pembentukan buah mengakibatkan peningkatan permintaan CH2O untuk menghasilkan tandan dan pengurangan CH2O yang sia-sia terhadap pertumbuhan vegetatif, yang mengakibatkan peningkatan indeks panen (Breure, 1982).

HASIL PRODUKSI DAN RESPON PERTUMBUHAN VEGETATIF UNTUK MERUBAH KETERSEDIAAN CH2O

            Apabila CHO yang ada digunakan untuk produksi bahan kering dikurangi untuk meningkatkan kerapatan tanam, pembentukan buah, persentase buah jadi, dan jumlah tandan, maka dapat menurunkan persentase pelepah daun aksil jantan dan tandan kosong.  Jumlah buah aborsi dan bungan jantan muncul sebagai akibat sedikitnya CH2O karena digunakan untuk meningkatkan aktivitas pembuahan yang lebih tinggi dibandingkan peningkatan kerapatan tanam.  Kondisi lingkungan yang tidak baik menyebabkan bunga jantan muncul lebih banyak.  Kekurangan CH2O dapat mengurangi berat tandan karena jumlah spikelet dan bunga per spikelet yang dihasilkan lebih sedikit, namun berat per individu buah tidak berpengaruh besar.

Rasio minyak dan kernel per tandan buah meningkat pada kerapatan tinggi sekitar umur 13-14 tahun setelah penanaman, namun mengurangi ukuran aktivitas buah.  Hal ini dikarenakan CH2O digunakan untuk produksi bahan kering dan peningkatan tahun tersebut lebih dipengaruhi oleh aktifitas polinator alami pada kondisi gelap dan dingin di sekitar tanaman kelapa sawit.  Namun, Corley and Breure (1992) menyebutkan bahwa peningkatan pembentukan buah lebih dipengaruhi pembuangan bunga jantan oleh polinator buatan untuk memudahkan melakukan persilangan atau penyerbukan buatan.  Squire and Breure (1987) dan Breure et al. (1990) menemukan rasio minyak tandan tidak berpengaruh oleh ketersediaan CH2O.

Kekurangan CH2O dapat menurunkan luas daun, diameter batang, rata-rata produksi daun, produksi bahan kering, dan tandan untuk kegiatan kastrasi.  Berat daun berdasarkan pada PCS meningkatkan kastrasi 100% dan tidak dipengaruhi oleh kerapatan tanam.  PCS lebih sensitif daripada rata-rata produksi daun untuk merubah ketersediaan CH2O.  PCS meningkatkan perubahan yang disebabkan oleh adanya kultur teknis dengan adanya penambahan pupuk dan hal ini tidak disebabkan radiasi cahaya yang diterima oleh setiap tanaman.  Faktor-faktor yang mempengaruhi sumber asimilasi pada kondisi lingkungan tetap adalah bahaya serangga atau ulat pemakan daun, pemangkasan.  Kondisi perubahan lingkungan antara lain irigasi dan gulma).

Aktifitas ‘source and sink’ dan efeknya perlu diketahui terhadap komponen hasil dan pertumbuhan bagian vegetatif tiap individu tanaman kelapa sawit.  Respon produksi tandan tergantung dari stadia perkembangan pembungaan ketika komponen buah belum diketahui.

PERKEMBANGAN PEMBUNGAAN

            Primordia bunga dapat dilihat sekitar daun ke-4 dari titik tumbuh.  Tanaman dewasa memiliki sekitar 45 primordia bunga yang berkembang antara inisiasi hingga periode membuka penuh (daun aksil yang membuka penuh +1).  Tandan buah matang biasanya ditemui sekitar daun ke-30 (+30).  Rata-rata produksi dua daun per bulan pada tanaman dewasa dan butuh lebih dari 3 tahun untuk proses inisiasi hingga panen tandan buah matang.  Proses perkembangan primordia bunga yaitu 1) inisiasi primordia bunga (daun -52, 39 bulan); 2) inisiasi bractea (seludang) awal subtending spikelet (daun -48, 24 bulan); 3) inisiasi spikelet awal (daun -24, 24 bulan); 4) awal diferensiasi spikelet (daun -2, 16 bulan); 5) awal ekspansi yang cepat dari bunga (daun +8, 11 bulan); 6) antesis (daun +18, 6 bulan); 7) perkembangan tandan (daun 26, 3 bulan).

Periode masing-masing stadia perkembangan sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan tumbuh.   Lingkungan tumbuh di Nigeria dan Ivory Coast yang kekurangan unsur hara menunjukkan inisiasi dan diferensiasi spikelet pada aksil muda primordia daun terjadi pada daun -20 dan daun -10 hingga -18 dan kondisi lingkungan di Asia Tenggara menunjukkan pada daun -10 dan -2 (Beirnaert, 1935; Broekmans, 1957; Henry, 1960).  Hal ini juga berpengaruh tehadap diferensiasi bunga jantan dan betina (Corley, 1976a), periode ‘spaer stage’ dan antesis (Lamade et al., 1998).

KOMPONEN HASIL

Komponen hasil kelapa sawit sangat dipengaruhi oleh proses pemangkasan pelepah daun kelapa sawit, distribusi hasil fotosintesis, kerapatan tanam, peran serangga polinator alami.  Pemangkasan pelepah daun berpengaruh terhadap jumlah daun dan jumlah daun berpengaruh terhadap perkembangan bunga.  Komponen hasil terdiri dari jumlah tandan dan berat tandan.              Jumlah tandan potensial biasanya terdapat pada daun -52.  Rata-rata inisiasi bunga awal adalah bunga betina.  Jumlah primordial menjadi buah matang biasanya sedikit.  Hal ini disebabkan karena 1) hanya bunga betina yang akan menjadi buah, 2) banyaknya bunga betina yang aborsi sebelum antesis, 3) hanya beberapa bunga betina yang mampu berkembang hingga buah matang.  Berat tandan buah adalah jumlah antara bunga partenokarpi dengan buah fertile (jumlah spikelet per tandan, jumlah bunga per spikelet, persentase buah jadi, rata-rata berat per buah, dan berat stalk dan spikelet kosong.  Tiga fase yang mempengaruhi perkembangan stalk dan spikelet kosong adalah jumlah bunga per spikelet adalah tetap, perkembangan meristem pada aksil pusat aksil adalah tetap, ekspansi stalk dan spikelet komplit.  Berat stalk dan spikelet diketahui pada daun -18 (fase 1), daun -2 (fase 2), dan dari daun +8 hingga +17 (fase 3).  Berat per buah diketahui selama ekspansi setelah polinasi (sekitar daun +18 hingga +24).

KESIMPULAN

            Terdapat gap/selisih antara hasil hasil produksi secara ekonomi dan perkiraan potensial produksi.  Selisih ini disebabkan sebagian disebabkan kondisi agro-ekologi.  Produksi yang tinggi dapat diperoleh dengan meningkatkan total produksi bahan kering dan proporsi yang digunakan untuk produk ekonomi.  Tujuan tersebut dapat dicapai dengan meningkatkan fraksi radiasi matahari melalui intersepsi kanopi (f), meningkatkan efisiensi kanopi (e), dan meningkatkan indeks panen (HI).  Selain itu juga peningkatan terhadap metode pemuliaan dan respon waktu produksi.

 

POIN PENTING UNTUK PEKEBUN

  1. Memilih bahan tanam, seperti produksi tandan besar dan rata-rata minyak tinggi, tajuk cepat membuka, bebas penyakit tajuk, toleran kompetisi terhadap cahaya, dan fotosintesis yang rendah pada produksi bahan kering vegetatif.
  2. Memperhatikan faktor budidaya, yaitu manajemen pembibitan, penanaman di lapang, dan pemeliharaan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s