Demi kau, Meranti dan Palang Merah

Cittt…. Tiba-tiba ada sebuah becak motor (bentor) yang menghampiriku.  “mau kemana kak?” Bapak Bentor tanya kepadaku.  “Pak, ke Palang  Merah berapa yah?” tanyaku. Sambil mendengarkan pertanyaanku, Bapaknya dengan sigat mengelapi jok penumpang yang basah karena hujan deras.  Kutunggu dan gak ada kata terucap dari Bapaknya.  “15 ribu ya Pak?” tanyaku.  “iya, ayoo masuk kak, hujan” lanjut bapak itu sambil terus mengelapi jok penumpangnya.  “maaf Pak, sebelum ke Palang Merah, kita mampir sebentar yaa ke Bolu Meranti yang dekat hotel Garuda Plaza” pintaku.  “iya..” Jawabnya.  Tak lama kemudian, aku masuk ke bentor dan becak melaju cepat.  Setelah beberapa meter, bapak itu bertanya, “Mau kemana, Kak?” dalam hatiku, gubrakkk. “Palang Merah Pak, Jalan Palang Merah.. kita mampir sebentar beli bolu Meranti ya Pak” Jawabku.  “ohhh, iya.. itu dimana yah?tanyanya lagi.  “Dekat Hotel Garuda Plaza Pak”. Jawab singkatku.  “iya, yang di Sisingamangaraja ya Kak?”Lanjutnya.  “Palang Merahnya dimana?” “Dekat Jalan Imam Bonjol Pak, dekat Sun Plaza, dekat juga sama Jalan Listrik” Jawabku.  “Ohhh, iya… Bapak kadang ingat, kadang lupa jalannya.. nanti diingetkan ya Kak..” Lanjut Bapak itu.  “Maaf Pak, sayapun bukan orang Medan yang tahu daerah Medan” Lanjutku.  Tiba-tiba Bapak itu menjawab, “iya, gak apa-apa, jalannya yang ke kiri atau lurus?hemm, pertanyaan Bapak itu membuatku makin bingung dan berfikir, “gak keren nih kesasar gara-gara naik becak”.

Betullah apa yang kubayangkan, bapak itu melaju dan kebingungan juga, berputar-putar kota Medan yang seringkali bersahabat dengan kemacetan.  Dalam perjalanan itu, Bapak itu mulai menanyakan “Kakak orang mana?” saya dari Siantar Pak. “ Boru apa?” “Boru Jawa Pak”. “Siantarnya mana?” “Arah Tanah Jawa Pak”.  “wahh, asli Tanah Jawa?” enggak Pak, belum lama tinggal di Siantar. “di Medan sekolah atau kerja?” “saya lagi main ke Medan, Pak”. Tiba-tiba Bapak itu bercerita, “Ohh, Bapak punya nostalgia dengan orang Tanah Jawa, 30 tahun yang lalu”.   Bapak marganya apa? “Harahap”.  Lanjut lagi ceritanya.  “Bapak sudah berumur 57 tahun dan Bapak punya kenangan di Tanah Jawa.   Tanah Jawa adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Simalungun yang sebagian warganya adalah orang jawa.  Ada sebagian juga orang Batak Simalungun”.

Lagi asyik-asyiknya bercerita, tiba-tiba becak berhenti pada seorang Abang Becak yang lain.  Pak Harahap bertanya, “Bang, Bolu Meranti dimana ya?” “Situ, di Jalan Cirebon”.  Yang mana? “Ya itu” sambil menunjuk arah ke Jalan Cirebon.  Entah kenapa, sepertinya Abang itu tak ingin memberitahu dimana Bolu Meranti berada.  Dan Pak Harahap juga agak tidak percaya dengan informasi tersebut.  Benar dugaanku, setelah kami berputar-putar di Jalan Cirebon memang gak ada toko yang kami maksud.  Kami berbalik arah dan menyusuri Jalan Sisingamangaraja kembali.  Surpresss…. “Pak, ini hotel Garuda Plaza”.  Ohh iya Kak. “Bentar ya Pak, saya tanya ke Bapak itu” sambil ku menunjuk sekumpulan bapak-bapak yang sedang bercerita.  Mereka menunjukkan toko yang kami maksud, ternyata sudah sangat dekat.  Hanya beberapa meter saja.  Alhamdulillah, ketemu juga toko cabang Bolu Meranti.  Setelah ku masuk toko itu dan kembali ke becak, Bapak Harahap bergumam, “ini cabangnya ya?pusatnya di sana, kak” sambil meluruskan tangannya ke arah depan becaknya.  Aah Bapak Harahap, udah ketemu baru bilang pusatnya.  Gak apa dan alhamdulillah, misi awal sukses walau diajak berkeliling Medan dengan harap-harap cemas. Huft…..

Perjalanan berlanjut ke Jalan Palang Merah.  Seperti sebelumnya, aku sudah bersiap diri kalau akan bertanya lagi selama di jalan.   Bentor melaju kencang dan sesekali aku melihat papan jalan untuk melihat arah mana bentor ini melaju.  Alhamdulillah, perjalanan ke Palang Merah lancar dan ini tidak seheboh mencari bolu meranti, hanya saja, kami menerobos jalur yang seharusnya tidak kami lewati.  Kami pun berbelok sesuka orang yang pegang stir bentor kami.  Kalau orang bilang, saat kita naik bentor tertentu (tentunya tidak semua bentor seperti ini ya..), keselamatan kita ditentukan oleh sopir dan Yang Di Atas.  Wallahua’lam.  Seruuu perjalanannya dan cukup nyali untuk naik bentor ini.  Medan oh Medan, oh Ibu kota Sumatera Utara…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s