Seleksi Lahan Kelapa Sawit

BAB III

SELEKSI LAHAN KELAPA SAWIT

S. Paramananthan

Managing Director, Param Agricultural Soil Surveis (M) Sdn Bhd, A4-3 Jalan 17/13, Petaling Jaya, Selangor, Malaysia 46400. Fax: +60 3 7956 3900. E-mail: geologi@po.jaring.my

PENDAHULUAN

Produktivitas tanaman bergantung pada proses fotosintesis untuk pertumbuhan vegetatif dan generatif.  Pertumbuhan tanaman dipengaruhi faktor lingkungan mikro dan tipe tanah.  Faktor lingkungan radiasi cahaya berpengaruh terhadap kelembaban kanopi dan temperatur berpengaruh terhadap aktivitas fotosintesis.  Kombinasi faktor-faktor tersebut apabila diukur dengan bahan tanan dapat diketahui potensial produksi yang spesifik.  Potensial produksi menjadi terbatas karena kondisi iklim, termasuk manajemen air, nutrisi, gulma, dan penyakit.  Sehingga, survei lahan dan tanah merupakan tahap awal menyeleksi lahan untuk pengembangan kelapa sawit.

Aspek-aspek yang diperhatikan pada saat melakukan survei lahan adalah 1) kesesuaian tempat/ lahan untuk pengembangan kelapa sawit, seperti tipe tanah, kapabilitas kesuburan tanah, curah hujan, dan radiasi cahaya; 2) ketidaksesuaian lahan untuk budidaya kelapa sawit; 3) potensial produksi untuk tempat tertentu; 4) biaya pengembangan (drainase, perbaikan tanah); dan 5) biaya perawatan (pemupukan, potensi untuk mekanisasi lahan).

Survei tanah menghasilkan informasi dasar tentang pemetaan lahan, termasuk karakteristik, level atau tipe tanah, dan lokasi lahan.   Informasi lain yang diperlukan sebelum menanam kelapa sawit adalah hasil produksi, status nutrisi daun dan tanah, pupuk yang digunakan sebelumnya, dan kejadian hama penyakit).  Walaupun survei tanah menunjukkan prediksi performa dari lahan tersebut, tetapi sebaiknya tidak menjadi acuan seluruhnya untuk lahan yang akan digunakan.  Diperhatikan juga aspek sosial ekonomi, akses pemasaran, dan penjelasan dari pemilik lahan.  Teknik manajemen yang baik dapat meningkatkan hasil produksi di semua lahan, namun produksi optimal diperoleh dari adaptasi teknik manajemen pada lahan tertentu berdasarkan pada kondisi agroekologi pada tiap lokasi.

KRITERIA LOKASI YANG TEPAT

Tiga aspek lingkungan yang berpengaruh terhadap tanaman kelapa sawit adalah iklim, vegetasi, dan tanah.

a.        Iklim

Habitat asli kelapa sawit adalah di hutan yang dekat dengan sungai di Guinea Savanna Afrika Barat yang kering dan radiasi matahari yang rendah.  Kondisi ini menyebabkan produksi kelapa sawit rendah.  Tanaman ini dapat tumbuh baik pada daerah di luar habitat aslinya, yaitu 16º lintang utara (Honduras) hingga 15º lintang selatan (Brazil) dengan 20 negara di antara jarak tersebut.  Kelapa sawit dapat tumbuh baik dengan tanaman lain dan mengkoloni tempat dimana terdapat sinar matahari dan kelembaban tanah yang cukup untuk siklus hidupnya.  Produksi tertinggi terdapat di Asia Tenggara dan Asia Pasifik dengan produksi 7 ton/th.  Sehingga, kondisi iklim mempengaruhi pertumbuhan, hasil, unsur hara, dan kejadian hama penyakit.  Setiap perkebunan memerlukan data curah hujan, panjang hari terang, temperatur minimal dan maksimal, kelembaban, dan evaporasi (penguapan).  Faktor iklim yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan keragaan kelapa sawit adalah total hari hujan dan distribusi hujan, radiasi matahari, temperatur, dan angin.

1.  Total hari hujan dan distribusi hujan

Kelapa sawit bertranspirasi air 5-6 mm/hari/th.  Kebutuhan kelembaban tanah yang terus-menerus diperlukan untuk kebutuhan fungsi fisiologis jaringan kelapa sawit, transportasi unsur hara dan asimilasi tanaman.  Kelapa sawit dapat beradaptasi terhadap kekeringan dengan penutupan stomata, keterlambatan pembukaan daun, dan pengurangan produksi tandan (Ng, 1972).  Kekeringan menyebabkan menurunkan rasio bunga betina dan jantan, menurunkan hasil 19-22 bulan kemudian, berpengaruh terhadap rasio tandan buah, dan proses pemasakan buah.  Curah hujan ideal untuk tanaman kelapa sawit 2000-3500 mm/th dengan distribusi 100 mm/bulan.

Tanaman seringkali menunjukkan indikator yang baik terhadap kekeringan karena adanya integrasi tanaman dengan tipe tanah dan ketersediaan air di tanah.  Gejala kekeringan pada kelapa sawit antara lain akumulasi daun yang tidak membuka, kekeringan dini pada daun paling rendah tanaman muda,  daun hijau menjadi rusak,  kekeringan tandan atau aborsi, tajuk mati, dan tanaman mati.

Keseimbangan air yang dibutuhkan kelapa sawit dapat diukur berdasarkan air tanah yang terserap, curah hujan, dan potensial evapotranspirasi dengan formula:

B = Res + R – Etp …………………………………………….. (1)

Dimana B adalah keseimbangan periode awal dan akhir, Res adalah air tanah yang tersedia pada awal periode, R ialah curah hujan selama periode, dan Etp merupakan evapotranspirasi selama periode.  Produksi tinggi diperoleh apabila kekurangan kelembaban <200 mm atau > 500 mm dengan irigasi.

2.  Radiasi matahari

Kelapa sawit membutuhkan panjang hari >5-7 jam/hari setiap bulan.  Setelah hujan, radiasi matahari merupakan faktor iklim kedua yang penting.  Penelitian menunjukkan hubungan antara radiasi matahari dan hasil produksi antara lain:

  • Radiasi matahari berpengaruh terhadap pertumbuhan, asimilasi bersih, dan pembentukan bunga betina (Hartley, 1988),
  • Hasil produksi lebih dari 28 bulan berkorelasi dengan radiasi matahari pada periode 12 bulan sebelumnya (Hartley, 1988),
  • Jumlah ekstraksi minyak meningkat 18-20 bulan setelah periode panjang hari yang tinggi (Chow and Chang, 1998),
  • Tandan buah, mesokarp, rasio buah, dan jumlah ekstraksi minyak menurun setelah periode panjang hari yang tinggi (Prabowo dan Foster, 1998),
  •  Pembakaran hutan menurunkan radiasi matahari di Sumatera Utara tahun 1997-1998 dan menyebabkan penurunan hasil 1.3-4.6 ton tandan buah segar (TBS) per tahun.

3.  Temperatur

Kelapa sawit cocok ditanam di daerah tropis (≤38ºC, optimum 22-32ºC) dan sangat sensitif di temperatur rendah.  Temperatur rendah menyebabkan stomata tertutup dan mengurangi fotosintesis.  Henry (1957) menyebutkan pertumbuhan rata-rata tanaman fase bibit ≤15ºC, namun dapat meningkat menjadi 17-25ºC setelah 3-5 tahun dan temperatur <18ºC untuk pematangan buah.  Produksi meningkat dengan rata-rata temperatur <\27ºC di Vanuatu dan menurun pada <18-19ºC di Madagaskar untuk 4-5 bulan dalam satu tahun (Olivin, 1986).

Temperatur menurun 0.6ºC per 100 m ketinggian di atas permukaan air laut (dpl).  Hal ini telah dilaporkan dari Sumatera bahwa tanaman kelapa sawit yang ditanam pada ketinggian >500 m mengalami cekaman lingkungan pada tahun pertama dan produksi lebih rendah dari tanaman yang ditanam pada dataran rendah (<100 m dpl) (Hartley, 1988).  Hal ini diduga radiasi matahari yang diterima berkurang dengan tingkat ketinggian dan ketebalan kabut.

4.   Angin

Angin yang besar menyebabkan kerusakan pada daun, tumbang, atau akar yang keluar dari tanah.  Di kepulauan Solomon, >25% tanaman kelapa sawit rusak karena besarnya angin, namun dapat berproduksi kembali setelah 3-4 tahun.  Klasifikasi kesesuaian iklim untuk kelapa sawit (Paramanthan, 2000) adalah sinar matahari >5.5 jam/hari, radiasi matahari >16 MJ/m2, curah hujan per tahun 2000-2500 mm/tahun, curah hujan per bulan >100 mm/bulan, bulan kering <200 mm/tahun, kelembaban 75-85%, suhu rata-rata 28ºC, dan rata-rata kecepatan angin 0-10 m/detik.

b.        Vegetasi

Vegetasi di sekitar tanaman kelapa sawit harus diuji sebagai bagian dari survei lahan dan tanah.  Vegetasi tersebut dapat digunakan sebagai informasi penting tentang kesuburan tanah, biaya pembersihan lahan (land-clearing), drainase dan manajemen air, lokasi penanaman, serta agronomi dan keragaan kelapa sawit di lahan tersebut.  Saat ini hutan primer yang dibuka untuk pengembangan kelapa sawit sangat sedikit dan lahan baru kebanyakan terbentuk dari hutan sekunder setelah spesies tanaman utama diambil.  Sehingga, pengujian tanaman yang tumbuh diperlukan untuk menduga biaya land-clearing (pembukaan lahan) dan kondisi drainase.

Alang-alang (Imperata cylindrical), Rhododendron (Melastoma malabathricum), dan tropical bracken (Dicranopteris linearis) merupakan vegetasi yang mengindikasikan lahan kering dan miskin unsur hara.  Penambahan pupuk posfor (P) dalam jumlah besar (100-200 kg P/ha) diperlukan untuk memperbaiki defisiensi P dan sumber P bagi tanaman penutup legum (LCP) dan pertumbuhan awal tanaman.

c.         Tanah

Kelapa sawit memiliki perakaran yang relatif dangkal, dan perakaran yang aktif menyerap unsur hara dapat terlihat 30 cm di kedalaman tanah (Gray, 1969). Dibandingkan dengan tanaman semusim dan kebanyakan tanaman dikotil, sistem perakaran kelapa sawit tergolong buruk dan tidak efisien (Tinker, 1976).  Padahal kebutuhan kelapa sawit akan unsur hara justru sangat besar (Goh dan Hardter, volume ini) dan sangat sulit untuk memperoleh hasil panen yang ‘ekonomis’ tanpa adanya pupuk tambahan. Kebutuhan unsur hara bergantung kepada jumlah total penyerapan hara yang diperlukan untuk mencapai target produksi, kapasitas hara yang sudah tersedia didalam tanah, dan efisiensi hara tambahan (dalam meningkatkan kesuburan tanah dan pertumbuhan tanaman) (Foster, volume ini).

Setiap tanah memiliki karakteristik tersendiri dan sangatlah penting memilih tanah yang terbaik untuk lahan budidaya kelapa sawit. Selama lebih dari sepuluh tahun ini, harga minyak kelapa sawit masih tinggi, bahkan berada pada tren yang terus meningkat secara stabil (Fry, 1998: Fry, 2000, Hardter and Fairhurst, volume ini). Hal ini mendorong investor membuka perkebunan pada tanah-tanah marginal dan kondisi klimatik dimana potensi hasil cenderung rendah namun ongkos pengelolaan yang tinggi. Survei lahan dan tanah yang menyeluruh akan memberikan dasar bagi perhitungan potensi hasil dan biaya, sehingga investor dapat melakukan analisis kepekaan terkait efek dari perubahan harga minyak kelapa sawit yang mungkin terjadi dan input-input yang diberikan kepada perkebunannya.

Langkah yang tak kalah penting adalah mengidentifikasi dan mengimplementasikan teknik manajemen yang spesifik bagi kondisi lahan tertentu, sehingga masalah-masalah seputar tanah yang teridentifikasi dapat diatasi. Oleh karena itu, menjadi suatu keharusan untuk mengidentifikasi detail permasalahan menggunakan set kriteria (Paramanathan, 1987) (Tabel 2 & 3).

Sebagai tambahan dari faktor-faktor iklim yang telah dipaparkan sebelumnya, ada empat karakteristik utama lahan/tanah :

1)      Topografi dan kemiringan

2)      Kelembaban (drainase dan genangan)

3)      Sifat fisika tanah (tekstur dan struktur, kedalaman dan volume)

4)      Sifat kimia tanah (KTK/Kapasitas Tukar Kation, kelarutan basa, karbon organik, salinitas dan masalah hara mikro)

Bagian ini dibahas pengaruh sifat fisika dan topografi tanah berdasarkan kebutuhan tipe-tipe manajemen pengairan dan konservasi tanah dan sifat tanah yang mempengaruhi kemampuan tanah untuk men-suplai hara dan kebutuhan pupuk mineral.

  1. Topografi dan Kemiringan Lahan

Tinggi rendahnya sebuah area merupakan karakteristik tanah yang penting karena menentukan kesesuaian untuk budidaya kelapa sawit. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, penurunan suhu dan penebalan kabut/awan akan semakin tinggi seiring bertambahnya ketinggian tempat. Karena alasan ini, budidaya kelapa sawit tidak direkomendasikan di wilayah dengan ketinggian >200 m drpl (di atas rata-rata permukaan laut), selain alasan rendahnya hasil yang akan diperoleh.

Kemiringan lahan menentukan potensi erosi tanah dan kebutuhan konservasi tanah yang biasanya memakan banyak biaya (undakan/platform, teras, bunds). Kelapa sawit sangat baik ditanam di kemiringan <23% (<120), meskipun ada yang berhasil dibudidayakan pada kemiringan < 38% (<200).  Kemiringan >20% (>100), pembuatan terasering, LCP dan penempatan pelepah sawit yang tua sangat perlu untuk meningkatkan infiltrasi air dan mengurangi erosi tanah (Ballo Koffi dan Quencez, 1991; Caliman dan de Kochko, 1987; Quencez,1986).

Kelapa sawit seharusnya tidak ditanam di lahan dengan kemiringan rata-rata >38% (>200) karena sulit dan mahalnya pengadaan dan pengelolaan terasering yang stabil, serta biaya panen yang sangat mahal. Selain itu, pengumpulan buah secara mekanik acapkali tidak bisa dilakukan dan memerlukan kepadatan jalan (km/ha) jauh lebih besar dibandingkan dengan lahan datar. Survei tanah perlu dilakukan untuk memetakan area yang bisa diperbaiki (membutuhkan konservasi) atau area yang tidak bisa ditanami sama sekali.

Namun, mengesampingkan fakta-fakta diatas, ternyata kelapa sawit telah dibudidayakan di kemiringan <60% (<300) di Sabah, Kelantan dan Sawarak – dikarenakan keterbatasan lahan. Di beberapa kasus, kemiringan lahan tidak berpengaruh pada pertumbuhan dan hasil, namun lebih banyak area yang mengalami permasalahan erosi tanah dan kesulitan dalam memanen.

  1. Kelembaban

Kelapa sawit memerlukan tanah dengan aerasi yang baik serta kelembaban yang cukup sepanjang tahun, khususnya ketika kelapa sawit masih dalam umur muda dan sistem perakaran belum berkembang dengan baik.

Kelembaban yang berlebihan akibat banjir akan menyebabkan kondisi tanah menjadi anaerobik. Perkembangan akar sawit akan terganggu dan gejala kekurangan N mulai tampak. Oleh karenanya, pertumbuhan dan penampilan kelapa sawit dipengaruhi oleh ketersediaan air baik kurang maupun berlebihan sehingga membutuhkan drainase. Resiko terjadinya banjir harus dikaji pada setiap wilayah selama awal survei tanah. Sangat penting untuk melakukan inspeksi selama periode hujan deras untuk menganalisa drainase alami, kebutuhan drainase tambahan dan kemungkinan-kemungkinan terjadi banjir.

  1. Drainase

Kelas drainase dari suatu jenis tanah bergantung pada sejumlah parameter:

  • Tekstur tanah
  • Struktur tanah
  • Porositas tanah, dan
  • Adanya lapisan tak tembus air (impermiabel) pada tanah

Ada sepuluh kelas drainase yang telah teridentifikasi untuk tanah Malaysia (Paramananthan, 1987) dan kelas-kelas tersebut sudah digunakan didalam evaluasi kesesuaian tanah pertanaman kelapa sawit (Tabel 3). Kelapa sawit akan tumbuh dengan baik pada tanah-tanah dengan drainase cukup baik hingga drainase kurang baik, namun juga menghasilkan produksi yang baik pada tanah-tanah dengan drainase baik hingga drainase berlebih. Sistem drainase harus dibuat pada area yang sangat miskin drainase, tentunya, hal ini dilakukan sebelum penanaman kelapa sawit. Ketinggian muka air (water table) harus mencapai kedalaman 0.7-1.0 m dibawah permukaan tanah dengan membuat sistem pengeringan dan gerbang air. Di beberapa area, kebutuhan akan pengelolaan air dan drainase akan meningkatkan biaya pengembangan kebun kelapa sawit sehingga area-area seperti ini harus bisa dikenali semenjak survei tanah dan lahan.

  1. Banjir

Kelapa sawit memiliki sistem perakaran yang dangkal dan peka terhadap banjir yang terus menerus, khususnya selama beberapa hari pertama setelah penanaman di lahan, namun tanaman kelapa sawit yang sudah berumur dewasa dapat mentolerir banjir hingga satu minggu, dengan syarat air banjir tidak stagnan. Jika permukaan air stagnan, tanaman akan menguning dan daun mulai layu. Resiko terjadinya banjir dapat dikaji dengan melihat record (riwayat) lahan dan berdiskusi dengan penduduk setempat. Resiko banjir yang lebih ringan (moderat) bisa 5 tahun sekali, area seperti ini dapat diklaim kembali mengingat peringatan akan banjir harusnya sudah ada sebelum penanaman. Area-area yang beresiko sering terjadi banjir (lebih dari sekali dalam 3 tahun) sebaiknya tidak dipilih.

Sebelum melakukan mitigasi bagi drainase atau banjir, sangat penting untuk mengidentifikasi tanah-tanah asam sulfat potensial atau tanah organik yang memerlukan sistem pengelolaan air menyeluruh.

  1. Sifat fisik tanah

Sifat fisika tanah yang paling penting adalah tekstur dan struktur tanah, kedalaman tanah, dan ada/tidaknya bebatuan yang bisa menghambat penetrasi akar. Sifat fisika lainnya adalah ada/tidaknya lapisan gambut yang tebal yang dapat menimbulkan problem kimia dan fisika tanah, dan ada/tidaknya sifat sulfat asam.

a.         Tekstur dan Struktur

Tekstur tanah menunjukkan jumlah perbandingan pasir, debu dan liat pada suatu lapisan tanah, sementara struktur tanah menunjukkan bagaimana ketiga komponen tersebut tergabung membentuk agregat tanah.  Tanah jenis Oxisol atau Ferrasol mengalami banyak pelapukan dan mengandung Fe dalam jumlah besar serta >70% liat.  Tanah tersebut memiliki agregat stabil dengan porositas yang baik, sehingga akar kelapa sawit dapat menempati sejumlah besar volume tanah. Struktur tanah bisa berupa tanah padat dan kurang porositas. Akan tetapi, pada tanah dengan struktur yang sama dan mengandung sedikit Fe, perkembangan sistem perakaran dapat terhambat.

Fraksi liat tanah sangat menentukan kapasitas tanah dalam menyimpan hara dan kelembaban. Secara umum, tanah-tanah dengan kandungan liat yang lebih tinggi dapat menyimpan kelembaban dan hara lebih banyak dibandingkan dengan tanah berpasir. Perakaran umumnya akan berkembang dengan sangat cepat pada tanah dengan agregat dan porositas yang baik, sehingga tanaman kelapa sawit akan memiliki akses yang lebih banyak terhadap kelembaban yang ada di dalam tanah. Di lingkungan seperti ini, cekaman kekeringan dalam waktu singkat hanya sedikit mempengaruhi kelapa sawit, hal ini dikarenakan curah hujan tahunan cukup tersedia. Peningkatan penetrasi akar juga berdampak positif bagi tanaman kelapa sawit untuk lebih kokoh dan tahan terhadap tiupan angin keras.

Tanah berpasir, pasir berlempung dan lempung berpasir tidak cocok untuk budidaya kelapa sawit karena rentan cekaman kekeringan serta leaching (pencucian hara oleh erosi).  Area-area seperti ini mudah dikenali pada saat survei lahan. Sebuah lokasi di Kalimantan dimana survei tanah tidak bisa dilakukan, perkebunan  dibuka pada tanah berpasir yang masih termasuk hutan Kerangas, dan pertumbuhan kelapa sawit sangat buruk, meskipun sudah banyak memakai pupuk tambahan untuk meningkatkan kesuburan tanahnya. Tanah lempung berpasir hanya disarankan bagi lahan marginal dan masih membutuhkan teknik manajemen khusus menggunakan pupuk kandang organik dan pemulsaan EFB untuk mendapatkan produksi yang baik (Redshaw, volume ini).

Lempung liat berpasir (sCL), liat padat (C) dan liat berdebu (siC) memiliki porositas yang lebih rendah, kapasitas menahan air rendah sehingga pertumbuhan akar menjadi buruk. Dampak negatif dari struktur tanah yang buruk dan tekstur pasir dapat dikurangi dengan menggunakan mulsa organik dan pemakaian EFB untuk memperbaiki struktur tanah, kelembaban tanah dan kapasitas menyimpan hara.

Tanah tipe liat (C), liat berpasir (sC), lempung berliat (CL) dan lempung liat berdebu (siCL) adalah tanah yang ideal untuk budidaya kelapa sawit. Kelapa sawit juga dibudidayakan dalam area luas dengan jenis tanah liat dan liat berpasir yang memiliki sifat oksat, struktur tanah remah. Akan tetapi, karena porositasnya yang tinggi, biasanya produksi tanaman kelapa sawit mengalami fluktuasi akibat stres kelembaban dalam waktu singkat.

b.        Kedalaman dan volume tanah yang efektif

Meskipun kebanyakan akar kelapa sawit berada pada lapisan 0.3-0.6 m profil tanah, akar yang membuat tanaman tegak dan menyuplai air selama masa kering akan menembus tanah sedalam > 1.0 m, dan kelapa sawit menginginkan tanah yang bebas dari hambatan fisik maupun kimia sehingga penetrasi tersebut dapat berlangsung. Kelapa sawit dapat tumbuh dengan kedalam tanah < 50 cm, jika penetrasi akar tidak terhalang oleh hambatan fisik seperti bebatuan dan lapisan keras di sepanjang 25 m lebih kedalaman tanah.

Tanah dengan volume bebatuan >75%, lapisan sedalam 10 cm bisa menghambat perakaran. Di Malaysia, berat kering total akar kelapa sawit pada tanah lateritik yang dangkal bisa mencapai 4 x lebih kecil dibandingkan dengan kelapa sawit yang ditanam pada tanah non-lateritik (Tan, 1979).  Kelapa sawit memiliki sistem perakaran serabut yang mampu menembus sela-sela bebatuan, namun jika volume tanah efektif berkurang, hal ini dapat menyebabkan stres kekeringan dan hara. Pemakaian EFB bisa mengurangi fluktuasi produksi pada saat distribusi air hujan tidak menentu.

Kedalaman perakaran yang efektif bisa terhambat oleh sifat kimia tanah (misalnya adanya lapisan sulfat asam, elemen racun (Al3+, H+, Mn3+, Ni2+), atau pH yang rendah). Perkembangan akar yang buruk dapat mengakibatkan tanaman tidak kokoh (rentan angin keras) dan berkurangnya penyerapan air dan hara dari tanah. Lapisan sulfat asam atau horison sulfur diartikan sebagai lapisan berwarna kuning dengan pH❤.5 (Soil Survei Staff, 1999).

Pertumbuhan dan penampilan kelapa sawit yang buruk pada tanah-tanah organik sudah banyak dilaporkan (Gurmit Singh et al., 1987). Permasalahan penanaman kelapa sawit pada tanah gambut atau tanah organik berkaitan dengan sifat fisika dan kimia. Tanah gambut biasanya berupa areal rawa yang luas yang sulit untuk dikeringkan. Problem utama biasanya muncul berupa konstruksi jalan yang rumit, rawa yang menyusut (amblas), tanaman kelapa sawit yang kurus dan sulitnya panen (Fairhurst et al., 1998). Kemasaman tanah yang tinggi serta kekurangan hara makro dan mikro adalah masalah-masalah kimiawi tanah yang umum dihadapi pertanaman kelapa sawit pada areal gambut.

  1. Sifat Kimia Tanah

Karakteristik kimia tanah lebih mudah untuk diubah dibandingkan dengan sifat fisika tanah, dan merupakan poin penting didalam penilaian kesesuaian lahan kelapa sawit dan kebutuhan pupuk mineral. Karakteristik kimia tanah yang paling penting adalah sebagai berikut (Tabel 3):

  • Bahan organik dan kadar N pada topsoil
  • Unsur P tanah
  • Kapasitas Tukar Kation (KTK)
  • Konsentrasi K, Ca dan Mg tanah
  • Kelarutan basa (%) pada topsoil
  • pH tanah
  • Salinitas (dS/m) di kedalaman < 50 cm, dan
  • Toksisitas hara mikro

Analisis kimia tanah hanya bermanfaat jika menggunakan sistem sampling yang tepat termasuk didalamnya skill tenaga ahli dan variabilitas yang terdapat didalam sifat kimia tanah. Selain itu, harus dilakukan cross-check terhadap keakuratan dan ketepatan analisis sehingga dapat mencegah kemungkinan variabilitas yang disebabkan kecerobohan pekerja laboratorium. Hara tanah yang mensuplai tenaga sulit untuk diprediksi dengan analisis kimia tanah mengingat penyerapan hara tanaman juga dipengaruhi oleh sifat fisika tanah dan suplai kelembaban tanah. Analisis tanaman biasanya mengacu kepada analisis kimia tanah untuk menghitung kebutuhan Zn, B dan Cu.

Analisis kimia tanah dilakukan secara periodik untuk :

  • Menghitung suplai hara oleh tanah
  • Menghitung kapasitas tanah untuk menyimpan dan menjerap hara
  • Perbedaan angka kesuburan tanah antara horison-horison tanah

Pemberian pupuk mineral pada piringan (lingkaran dibawah) tanaman kelapa sawit dan penempatan pelepah daun tua/sisa pangkasan berselang seling antar baris memiliki efek kuat terhadap sifat kimia tanah. Sampel terpisah harus dilakukan pada kedua zona tersebut; membandingkan hasil analisis dari keduanya bisa membantu kesinambungan manajemen pupuk jangka panjang. Dengan kata lain kita bisa menduga adanya perubahan besar pada sifat kimia tanah dalam jangka waktu 25 tahun penanaman kelapa sawit.  Urutan hara yang diperlukan oleh tanaman kelapa sawit dari jumlah yang paling besar adalah N, K, P dan Mg. Berikut pembahasan mengenai berbagai metode untuk mengukur ketersediaan dan simpanan hara didalam tanah.

  1. Bahan organik dan kandungan N tanah

Daya suplai N tanah ditentukan oleh jumlah dan kualitas bahan organik tanah (BOT) dan tingkat aktivitas mikrobiologi tanah. N disuplai dalam jumlah besar pada tanah yang mengandung BOT dalam jumlah besar dengan rasio C/N yang memicu pemecahan BOT oleh mikroorganisme dan melepas N setelah proses mineralisasi yang akan diserap oleh tanaman. Biasanya pengukuran yang baik mencakup organik C dan total N dimana kedua kandungan ini sangat terkait satu sama lain (Tabel 4).

Rata-rata N yang dilepas dipengaruhi oleh pH tanah dan drainase. Pada tanah gambut dan kondisi sulfat asam, aktivitas mikroba terhambat oleh rendahnya pH tanah; pemberian kapur diperlukan untuk meningkatkan jumlah N yang dilepaskan. Pada tanah sulfat asam, asam harus dibuang (dicuci) dan muka air tanah naik sehingga pH tanah meningkat.  Tanah-tanah yang mengalami banjir, aktivitas mikroba terhambat karena kondisi anaerob dan pencucian N seringkali memerlukan sistem pengelolaan air yang tepat.

Tanah-tanah tropis, jumlah BOT selalu menurun ketika vegetasi hutan berkurang demi kepentingan pertanian namun kecepatan penurunan tersebut sangat dipengaruhi oleh praktek pengelolaan dan suplai bahan organik agar proses pembentukan BOT kembali dapat berjalan. Oleh karena itu, kecepatan berkurangnya BOT  dapat dicegah jika :

  • Tidak ada pembakaran lahan dalam pembukaan areal baru
  • Erosi tanah terkontrol
  • LCP dilaksanakan selama pembukaan lahan/kebun
  • Pelepah-pelepah tua/sisa pangkasan disebarkan dipermukaan tanah
  • EFB diaplikasikan pada lahan

Namun, tidak ada satupun dari praktek-praktek ini yang kelihatannya dapat meningkatkan jumlah BOT yang ada pada tanah, misalnya pada kondisi awal hutan sebelum dibuka menjadi lahan pertanian.

  1. P tanah

P tanah terdapat di beberapa sumber (pool) yang ketersediaanya pada tanaman berbeda-beda. Jumlah P yang sedikit terdapat didalam larutan tanah dan merupakan sumber P yang utama bagi tanaman. Jumlah P yang lebih besar terikat pada komponen logam tanah (misalnya Fe dan Al) dan tidak secara langsung tersedia bagi tanaman. Perhitungan jumlah P dapat memberikan indikasi simpanan P yang tersedia untuk menjadi P terlarut kembali, sementara P tersedia (biasanya diukur menggunakan uji Bray I) menjadi indikasi jumlah P tersedia yang dapat diserap tanaman.

Di beberapa tanah, kita perlu mengukur  kapasitas tanah untuk menyerap atau ‘menahan’ P kedalam bentuk yang tidak tersedia bagi tanaman, karena hal ini akan mempengaruhi ketersediaan P serta kebutuhan dan kesesuaian pupuk P. Tanah-tanah Oksisol, beberapa Ultisol dan Andisol adalah tanah-tanah yang sangat kuat menahan P dimana diperlukan pemberian pupuk P dalam jumlah besar untuk ‘memasukkan’ siklus hara P kedalam perkebunan kelapa sawit yang baru dibuka.

  1. Kapasitas Tukar Kation (KTK)

Banyak kation-kation didalam tanah yang tersedia bagi tanaman seperti K, Mg, dan Ca terikat dengan ion negatif pada liat dan BOT. Karena alasan inilah, pengukuran KTK tanah sangat perlu dilakukan, dimana kita bisa mengetahui kapasitas tanah untuk menyimpan K, Mg dan Ca didalam bentuk yang bisa diserap tanaman (Tabel 4). Bahan organik tanah membawa 200-500 cmol/kg dan karenanya, BOT dengan kosentrasi 1.5% menyumbang 7-10 cmol/kg ke KTK. Umumnya KTK lainnya berasal dari partikel liat didalam tanah.

KTK dari kebanyakan jenis tanah berkisar 5-200 cmol/kg.  Tanah aluvial yang sedikit mengalami pelapukan, mineral liat utama berupa banyak lapisan atau disebut liat 2:1 seperti montmorilonit dan ilit yang membawa muatan negatif dalam jumlah besar. Tanah-tanah ini memiliki nilai KTK yang besar, tidak tergantung pada  pH tanah.

Akan tetapi, pada tanah yang mengalami banyak pelapukan di daerah pedalaman, kompleks jerapan yang dominan adalah liat 1:1 (misalnya kaolinit, alofan, humus dan oksida Fe serta oksida Al) yang membawa muatan negatif yang sedikit dan seringkali bervariasi sehingga KTK bergantung kepada pH. Tanah-tanah seperti ini memiliki kapasitas terbatas untuk menyimpan K, Ca dan Mg kecuali jika KTK meningkat baik melalui pemberian kapur (pengapuran untuk menaikkan pH) atau penambahan bahan organik tanah dalam jumlah besar (untuk meningkatkan kontribusi yang terbentuk oleh bahan organik tanah kepada KTK). Untuk menghindarkan pengukuran KTK yang overestimate pada tanah-tanah dengan muatan yang bervariasi ini, harus ditentukan Kapasitas Tukar Kation Efektif (KTKE) pada pH tanah yang sebenarnya.

Kapasitas menjerap untuk tanah berpasir adalah rendah dan banyak K dan Mg tambahan dari pupuk bisa hilang disebabkan leaching (pencucian hara). Pupuk K lebih efektif jika diaplikasikan dalam jumlah yang lebih sedikit dari dosis anjuran, namun sering dilakukan.

  1. Konsentrasi K, Ca dan Mg didalam tanah

Pengukuran yang paling tepat terhadap kapasitas tanah untuk mensuplai K adalah jumlah K yang dapat dipertukarkan yang terikat pada situs pertukaran kation pada BOT dan partikel liat  (Tabel 4). Daya suplai K oleh tanah juga dipengaruhi oleh konsentrasi Ca dan Mg yang dapat dipertukarkan. Bahkan jika jumlah K yang dapat dipertukarkan cukup besar, penyerapan K bisa ditekan dengan adanya konsentrasi Mg dan Ca yang besar. Misalnya, diperlukan pemberian pupuk K dalam jumlah besar di beberapa tanah di Milne Bay, Papua New Guinea dimana status Mg yang dapat dipertukarkan sangat tinggi. Status K tanah juga dipengaruhi oleh tipe mineral liat yang ada, karena K dapat terjerap pada lapisan mineral liat 2 : 1. Tanah-tanah seperti ini dikenal sebagai tanah ‘penahan’ K.

Mg tanah yang dapat dipertukarkan bisa menjadi tolak ukur daya tanah untuk men-suplai Mg, namun juga penting mempertimbangkan rasio Mg:Ca karena konsentrasi Ca yang besar dapat membiaskan penyerapan Mg.

  1. Kelarutan Basa

Kelarutan Basa (KB) merupakan perbandingan KTK yang dilakukan oleh K, Ca, Mg dan Na. kelarutan basa yang rendah mengindikasikan bahwa KTK mengalami leaching oleh K, Ca dan Mg, dan diganti dengan Al3+ dan H+. Pada tanah-tanah dengan KTK yang besar, KB yang tinggi menandakan besarnya jumlah K, Mg dan Ca yang tersedia bagi tanaman dan terbatasnya kapasitas untuk menyimpan K dan Mg tambahan yang diberikan oleh pupuk mineral. Pada tanah-tanah dengan KTK yang kecil, KB bisa tinggi namun daya suplai dan kapasitas simpan K dan Mg oleh tanah rendah. Aplikasi pupuk yang sedikit namun sering lebih efisien dibandingkan dengan satu kali aplikasi dalam jumlah besar.

  1. pH tanah

Kemasaman tanah per se tidak mempengaruhi pertumbuhan kelapa sawit kecuali pada kondisi sangat asam yang membentuk tanah-tanah sulfat asam. Penetrasi akar dapat terhambat pada tanah-tanah dimana pH tanah rendah diikuti dengan konsentrasi racun Al dan Mn, seperti yang terjadi pada tanah sulfat asam. pH rendah dapat diakibatkan oleh KTK kecil pada tanah yang mengandung mineral liat 1:1 atau ullofan (tanah vulkanik) dikarenakan perbandingan muatannya yang bervariasi.

  1. Salinitas

Tanah dengan Konduktivitas Listrik (KL) pada ekstrak tanah >400 dS/m dikenal sebagai tanah salin. Kelapa sawit tidak mentoleransi  salinitas dan tanah dengan kondisi salin dikedalaman 0.5 m permukaan tanah dianggap tidak sesuai untuk kelapa sawit. Pada area dengan curah hujan cukup, salinitas tanah dapat dikurangi dengan drainase dan bunds (teras) yang dipasang untuk mencegah influks air laut. Akan tetapi, pada banyak daerah pantai di Malaysia, pasang laut terkadang membuat air laut melewati bunds, dan tanaman yang terkena dampaknya akan terlihat kering dan pertumbuhannya terhambat selama 2-3 tahun.

  1. Toksisitas Hara Mikro

Tanaman kelapa sawit bisa mengalami toksisitas hara mikro jika terdapat unsur B, Cu, Fe, Mn, Ni, Zn atau unsur non-hara (misalnya Cr dan Al) dalam jumlah besar. Sementara kekurangan hara-hara tersebut dapat diatasi dengan cukup mudah, namun kelebihan (keracunan) hara-hara ini justru lebih sulit ditanggulangi dan seringkali memerlukan serangkaian pengukuran yang rumit.

Bahan induk dan pH tanah umumnya menjadi indikator yang baik ada atau tidaknya toksisitas. Misalnya, di daerah Tawau di Sabah, toksisitas Ni dan Cr sering ditemukan pada tanah-tanah yang terbentuk dari bebatuan ultrabasa. Tanah-tanah ini dicirikan dengan unsur B yang rendah dan konsentrasi Fe yang sangat tinggi (>30% Fe2O3), sehingga menyebabkan kuatnya pen-jerapan P dan kurangnya P yang tersedia. Keracunan Nikel dan kromium sangat sulit diatasi dan membutuhkan banyak biaya, sehingga tanah-tanah ultra basa ini tidak direkomendasikan bagi budidaya kelapa sawit.

Hal ini disimpulkan bahwa analisis kimia tanah memberikan indikasi kapasitas tanah untuk men-suplai hara. Namun, analisis daun lebih bermanfaat untuk mengkaji kebutuhan pupuk mineral dikarenakan analisis daun mengukur efek keseluruhan dari sifat fisika dan kimia tanah terhadap status hara tanaman kelapa sawit (Foster, volume ini).  Goh (1997) meringkas kisaran kesuburan tanah untuk kelapa sawit berkaitan dengan parameter kimia tanah yang penting (Tabel 4).

PROSEDUR EVALUASI LAHAN

Paramanathan (1987) mengembangkan ringkasan karakteristik lahan berdasarkan kriteria dan batas kelas lahan kelapa sawit [FAO, 1976] (Tabel 2 dan 3).  Kerangka kerja yang menyediakan kriteria dan batasan kelas bagi lahan dan tanah terdiri dari 3 kategori hirarki yang meliputi dua kelompok dan 4 kelas dan subkelas (Paramanathan, 1987) (Tabel 5). Subkelas mengindikasikan batasan spesifik didalam tiap kelas.  Ada 6 batasan yang biasa dikenal dan dimasukkan ke dalam evaluasi :

  • c           batasan iklim (curah hujan, panjang musim kering, radiasi matahari, suhu dan angin);
  • d          batasan drainase dan banjir
  • f           batasan kesuburan (terkait status kesuburan tanah yang rendah);
  • p          batasan kualitas fisik tanah (misalnya struktur yang lemah, tekstur yang tidak sesuai);
  • s           batasan kedalam tanah (terkait adanya lapisan yang menghambat akar);
  • t           batasan topografi (terkait resiko tinggi dari erosi tanah dan kesulitan memanen yang berhubungan dengan kecuraman lahan).

Selama pengkajian lahan, karakteristik tanah dan lahan untuk setiap unit pemetaan lahan dievaluasi menggunakan kriteria evaluasi lahan (Tabel 2 dan 3). Setelah itu, nilai diberikan kepada setiap karakteristik lahan berdasarkan kriteria dan batas kelas untuk tanaman kelapa sawit. Didalam memberikan rating (nilai) untuk seluruh kesesuaian setiap unit pemetaan tanah, rating kesesuaian yang paling rendah/buruk menentukan evaluasi keseluruhan.

Seringkali rating kesesuaian saat ini dan yang akan datang (potensial) juga diberikan. Didalam rating kesesuaian saat ini, tidak ada asumsi perbaikan ketika unit peta tanah sedang dikaji. Pada rating kesesuaian potensial, diasumsikan bahwa semua parameter yang dapat diperbaiki (misalnya drainase, mitigasi banjir, aplikasi pupuk dan praktek pengelolaan) akan dilaksanakan, namun tidak ada asumsi berkaitan dengan biayanya.

MANAJEMEN TANAH

Kelapa sawit sudah dibudidayakan di berbagai jenis tanah di Asia Tenggara, namun praktek-praktek pengelolaannya harus dipilih berdasarkan karakter alami masing-masing tanah dan kekurangannya.  Jika sebuah kebun penanaman sudah dibuka dan dilengkapi, maka praktek-praktek pengelolaan dapat disesuaikan dengan masing-masing jenis tanah untuk memaksimalkan produksi dan meminimalkan biaya. Untuk tujuan ini, diperlukan sebuah peta tanah perkebunan yang detail berdasarkan survei tanah. Waktu yang paling tepat untuk mempersiapkan sebuah peta yang detail adalah sekitar 1 tahun setelah penanaman, ketika jalan/jalur-jalur sudah dibuat dan tim survei tanah memiliki akses masuk ke perkebunan dengan mudah.

Rangkaian Tanah di Malaysia sudah diklasifikasikan berdasarkan Golongan, Sub-golongan dan Grup besar Tanah USDA (Tabel 6).  Lima grup tanah yang bermasalah dimana kelapa sawit sudah dibudidayakan disana, dapat dibedakan kedalam (Paramanathan dan Eswaran, 1984):

  • Tanah yang miskin drainase dan bersifat non sulfat asam,
  • Tanah sulfat asam,
  • Tanah (gambut) organik,
  • Tanah yang mengalami pelapukan,
  • Tanah berpasir.

a.  Tanah yang miskin drainase dan bersifat non sulfat asam

Sistem drainase yang meliputi pengeringan lahan, pengeringan kolektor dan kanal diperlukan untuk merendahkan muka air tanah hingga 0.5-0.75 m dibawah permukaan tanah. Intensitas pengeringan lahan bergantung pada permeabilitas tanah, pola distribusi curah hujan, frekuensi banjir, dan tekstur tanah. Selain itu, sistem bunds dan gerbang air mungkin diperlukan untuk mencegah influks air dari laut atau sungai yang lebih besar (Gambar 5).

Masalah kesuburan pada tanah-tanah tersebut terkait dengan bahan induk. Tanah-tanah pada aluvium sungai bisa memiliki simpanan K yang besar jika ada mineral mika, sementara tingkat magnesium yang tinggi bisa terpengaruh dengan penyerapan K pada tanah liat di daerah laut.

b.      Tanah Sulfat Asam

Tanah-tanah sulfat asam dapat dibagi kedalam dua grup utama:

  • Tanah-tanah sulfat asam potensial (Sulfaquent) – tanah jenis ini terdapat di sepanjang pantai semenanjung Malaysia, Sumatra dan pulau Kalimantan, dan di pinggiran rawa gambut. Tanah ini seringkali berupa tanah miskin drainase, sering terendam air laut dan konsentrasi pirit dalam jumlah besar. Tanah sulfat asam potensial yang terletak dekat laut bersifat salin dan berwarna biru keabu-abuan, memiliki muka air tanah yang tinggi dan konsistensi tanah yang lengket. Tanah jenis ini ditandai dengan adanya lapisan tanah organik dengan ketebalan <0.5 m diatas lapisan liat laut berwarna biru keabu-abuan. Tanah-tanah yang ‘mentah’ ini tentunya secara alami tidak cocok untuk budidaya kelapa sawit, sehingga sistem pengelolaan air harus dibuat sebelum penanaman kelapa sawit. Banyak perawatan yang harus dilakukan untuk menghindari berubahnya tanah jenis ini menjadi tanah sulfat asam akibat drainase.
  • Tanah-tanah sulfat asam (Sulfaquept dan Sulfat Tropaquept) – yang terbentuk saat tanah yang awalnya miskin drainase dan mengandung sulfida besi tetapi kemudian mengalami drainase berlebihan pada pembudidayaan kelapa sawit. Oksidasi mikroba dari sulfida besi menjadi jarosit (endapan sulfat aluminium besi kalium) menyebabkan terbentuknya asam sulfur yang mengakibatkan pH tanah menurun hingga❤.5. Efek utama dari pH rendah adalah berkurangnya serapan K dan Mg jika disertai adanya ion-ion Al3+, Mn3+ dan H+. Selain itu, pembentukan jarosit cenderung mengurangi ketersediaan K. Tanah-tanah sulfat asam memiliki horison sulfur < 1 m dari permukaan tanah. Horison sulfur memiliki bercak jarosit kuning dan pH tanah < 3.5 (Soil Survei Staff,1994). Ketika kriteria-kriteria ini dijumpai pada kedalaman 50 cm dari permukaan tanah, maka tanah tersebut disebut Sulfaquept dan ini berarti tanah tersebut sangat tidak disarankan untuk budidaya kelapa sawit. Jika horison sulfur terdapat pada kedalaman 0.5-1.5 m atau bercak jarosit ditemukan pada kedalaman 0.5 m, akan tetapi pH berkisar 3.5-4.0, maka tanah tersebut dikategorika sebagai Sulfat Tropaquept.

Pemetaan tanah yang detail untuk wilayah Malaysia menghasilkan penggolongan 2 jenis tanah sulfat asam menurut bahan induk (Paramanathan dan Wan Daud, 1986; Paramanathan dan Gopinathan, 1981). Tanah-tanah yang terbentuk dari liat laut murni akan memperlihatkan warna abu-abu muda didalam matriks tanahnya, konsistensinya lengket, struktur tanah remah kubus tak beraturan, dan seringkali memiliki Ca dan Mg yang dapat dipertukarkan dalam jumlah sedang. Tanah-tanah ini sulit untuk dikeringkan dan tidak dapat dicangkul setelah hujan turun, dikarenakan tekstur (konsistensi)nya yang lengket.

Sebaliknya, tanah-tanah yang terbentuk dari deposit air laut sering terdapat pada pinggiran rawa gambut memiliki horison B yang berwarna coklat dengan struktur yang baik dan remah. Tanah ini sering ditemukan bersifat lebih asam dan mengandung jumlah kation yang dapat dipertukarkan dalam jumlah yang jauh lebih sedikit, namun lebih mudah untuk dikeringkan dan digunakan untuk budidaya karena tanah ini mengandung jumlah BOT yang lebih besar.

Secara umum, pemanfaatan dan pengelolaan tanah sulfat asam sangat erat terkait dengan kedalaman horison sulfur, jumlah BOT pada horison B, dan pada kedalaman dimana liat laut ‘mentah’ terkumpul. Kunci untuk mengelola tanah ini adalah pengendalian muka air tanah. Gerbang air digunakan untuk men’nampung’ air didalam pipa pengering selama periode kering (curah hujan rendah) sehingga oksidasi sulfida dan pembentukan asam dapat di-minimalisasi. Kemasaman yang terbentuk pada musim hujan dibuang ke laut dengan menggunakan gerbang air.

Drainase yang berlebihan di wilayah Malaysia pada tanah sulfat asam mengakibatkan penurunan hasil panen kelapa sawit dari 17 hingga 6 ton TBS/ha/tahun. Sebagai ukurannya, gerbang pengontrol air dibuka selama musim hujan untuk membuang kemasaman residual yang terakumulasi selama musim kering, dan muka air tanah dipertahankan pada ~0.7 m dari permukaan tanah untuk menjaga tanah tetap lembab dan menurunkan oksidasi sulfida besi (Toh dan Poon, 1982). Hasil panen secara perlahan meningkat dari 6 menjadi 22 ton TBS/ha (Poon, 1983) (Gambar 6).  Saat penanaman di lahan, abu tandan digunakan pada tanah sulfat asam untuk meningkatkan pH kedalam lubang tanam dan mensuplai K.

c.       Tanah (gambut) organik

Tanah biasanya diklasifikasikan sebagai tanah organik jika dari kedalaman 1.0 m tanah, ketebalan kumulatif lapisan tanah organiknya mencapai >50 cm. Tanah organik sering dijumpai diantara perbukitan dan gunung dimana tangkapan air terjadi di area-area yang lebih rendah. Tanah-tanah ini digolongkan kedalam Histosol dan tersebar luas di Semenanjung Malaysia, Sumatra dan Pulau Kalimantan. Tanah-tanah organik telah terpetakan berdasarkan kondisi dekomposisi (fibrik, hemik dan safrik) dan ketebalannya (dangkal [0.5-1 m]; sedang [1-1.5 m]; dalam [1.5-3.0 m]’ dan sangat dalam [>3 m]).

Tanah-tanah gambut biasanya terbentuk dalam depresi (ceruk) yang menyerupai waduk (danau buatan), dimana gambut tersebut dangkal pada pinggirnya, namun semakin dalam ke bagian tengahnya. Tanah-tanah gambut dibedakan juga atas gambut topogeneous (dangkal) atau ombrogeneous (dalam) (Drissen, 1978). Gambut topogeneous memiliki kesuburan tanah yang lebih tinggi karena influks hara dibawa kedalam rawa melalui aliran permukaan dari dataran tinggi disekelilingnya. Gambut ombrogeneous umumnya tidak subur karena bergantung pada jumlah input hara yang kecil yang bersumber dari curah hujan. Hal ini mengindikasikan bahwa vegetasi lebih lebat/padat pada gambut topogeneous dibandingkan tanah gambut ombrogeneous.

Sistem drainase yang tepat harus dirancang agar bisa membuang kelebihan air namun tetap mempertahankan muka air pada 0.5~0.7 m dari permukaan tanah untuk mencegah pengeringan drastis lapisan tanah gambut (Gambar 7, Tabel 7).  Banyak permasalahan muncul ketika tanah-tanah organik ini dikeringkan untuk kepentingan pertanian (Gurmit Singh et al., 1987). Ringkasan masalah pada pengembangan perkebunan dan pemecahannya yang sesuai tertera pada Tabel 8.

Ketika praktek-praktek pengelolaan seperti ini diterapkan, tercatat hasil panen yang mencapai >30 ton TBS/ha/tahun dihasilkan dari lahan dengan ketebalan gambut 1 m (Gurmit Singh et al., 1987). Melalui pengetahuan saat ini, tampaknya kelapa sawit dapat dibudidayakan dengan baik di hampir semua tanah organik dengan kedalaman berapa pun dan tanah dengan lapisan gambut hingga ketebalan 3 m. Tanah dengan ketebalan gambut >3 m sulit untuk dikeringkan dan banyak permasalahan agronomi yang muncul jika ditanami kelapa sawit.

d.      Tanah-tanah yang mengalami banyak pelapukan (pelapukan intensitas tinggi)

Tanah-tanah ini mengandung produk akhir dari pelapukan (misalnya kaolinit dan oksida Fe dan Al) dalam jumlah besar, dikarenakan suhu dan kelembaban tinggi yang konstan pada daerah tropis yang lembab. Didalam buku Soil Taxonomy (Soil Survei Stafff, 1999) tanah-tanah seperti ini termasuk kedalam kelas Oksisol atau Kandiudults. Tanah jenis ini remah, berwarna merah, sekilas terlihat sangat sesuai untuk kelapa sawit karena profil tanahnya yang dalam. Tingginya jumlah Fe yang ada, mengindikasikan tanah jenis ini memiliki struktur yang halus dengan agregat yang sangat baik sehingga memiliki porositas tinggi. Kelapa sawit yang ditanam pada tanah jenis ini mudah mengalami stres kelembaban, khususnya selama periode immature (dewasa) ketika akar belum berkembang secara sempurna. Stres kelembaban bisa diperparah dengan rendahnya konsentrasi Ca dan tingginya penjenuhan Al (biasanya >60%) yang akan menghambat pertumbuhan akar tanaman. Tanah-tanah ini dicirikan dengan KTK yang rendah hingga sangat rendah, kandungan Fe yang tinggi dan K yang sangat rendah.

Kapasitas menyimpan/menahan/menjerap kation yang sangat kecil dari sebagian jenis tanah ini (<1.5 cmol/kg liat) menunjukkan bahwa hara pupuk yang ditambahkan akan cepat hilang karena tercuci (leaching). Toksisitas dari unsur Ni (nikel) dan Cr (Kromium) juga umum terjadi, khususnya pada tanah-tanah yeng terbentuk dari bebatuan yang panas bersifat basa dan ultrabasa seperti serpentin. Kandungan Fe bebas dari tanah ini sekitar > 15% sehingga menyebabkan fiksasi P yang tinggi dan pemberian P dalam bentuk nitrat posfat yang banyak (100-150 kg P/ha) mungkin diperlukan sebelum memperoleh pertumbuhan tanaman dan LCP yang diinginkan. Kekurangan Boron juga cenderung terjadi kecuali dilakukan pemberian pupuk B ke tanaman kelapa sawit.

Tanah-tanah yang mengalami banyak pelapukan umumnya akan menjadi tanah yang bermasalah, khususnya jika:

  • Terdapat lapisan bebatuan petroplinthite atau lateritik pada berbagai kedalaman didalam profil tanah (seringkali didekat permukaan); dan
  • Adanya lapisan bebatuan dengan bentuk dan ukuran yang berbeda menghalangi penetrasi dan perkembangan sistem perakaran tanaman kelapa sawit.

Diluar dari kelemahan-kelmehan tersebut, tanah yang mengalami banyak pelapukan telah dipergunakan secara luas untuk budidaya kelapa sawit, khususnya Malaysia dan Indonesia, dan bisa mencapai produksi 25-30 ton TBS/ha/tahun saat kriteria berikut terpenuhi:

  • Area budidaya harusnya memiliki periode panjang distribusi curah hujan
  • Penanaman harusnya direncanakan untuk bersamaan dengan musim hujan
  • Jumlah besar posfat bebatuan diaplikasikan ke LCP dan lubang tanam kelapa sawit, untuk memperbaiki status Ca dan mengatasi fiksasi P yang tinggi,
  • Penanaman legume sebagai tanaman penutup untuk memperbaiki lahan (Giller, volume ini)
  • Kebutuhan hara dimonitor melalui analissi daun, dan rekomendasi pupuk diberikan di beberapa aplikasi yang terpisah (penting, khususnya jika terdapat lapisan bebatuan petroplinthit)
  • Terbentuk dan meluasnya petroplinthite diidentifikasi dan dipetakan selama survei tanah (tanah-tanah ini membutuhkan jumlah pupuk yang lebih besar, sementara diperlukan waktu yang lebih lama untuk tanaman menjadi dewasa dan hasil panen lebih sedikit.

e.     Tanah berpasir

Tanah-tanah yang termasuk kedalam kategori ini biasanya diklasifikasikan sebagai Psammets atau Spodosol (Soil Survei Staff, 1999) atau Regosol atau Pozols (FAO, 1999). Karakteristik utama tanah ini adalah adanya horison pasir dengan fragmen/pecahan batu atau kerikil di semua sub-horison. Pada kondisi alaminya, area berpasir dapat ditandai dengan vegetasi (biasanya rumput atau hutan kerangas). Tanah berpasir seringkali dijumpai pada terasering aluvial yang berbukit, pinggir pantai dan lapisan sedimen batu. Tanah berpasir dipengaruhi oleh banyak faktor keterbatasan fisika dan kimia tanah :

  • Miskin penutup vegetatif sehingga suhu tanah menjadi naik (tanaman muda dapat menjadi kering dengan mudah);
  • Mengandung sedikit liat sehingga strukturnya tidak bagus, KTK rendah, dan defisiensi hara makro dan mikro,
  • Kelebihan drainase, sehingga menyebabkan defisit air selama kekeringan.

Ini adalah beberapa alasan mengapa potensial hasil panen dari tanah berpasir biasanya rendah. Tanah berpasir dapat diatasi dengan banyak aplikasi EFB (>40 ton/ha) (untuk mengurangi suhu permukaan tanah dan meningkatkan aktivitas biologis), pembuatan LCP dan aplikasi pupuk mineral dalam jumlah banyak di beberapa lokasi terpisah. Secara umum, kelapa sawit seharusnya tidak ditanam pada tanah-tanah seperti ini kecuali tanah ini terdapat diantara lahan-lahan yang sesuai.

KESIMPULAN

Hasil panen potensial atau keuntungan bagi daerah tertentu, ditentukan oleh iklim spesifik, lahan dan karakter-karakter tanah. Iklim wilayah tidak dapat diganti dengan cara pengelolaan, dan kondisi iklim yang tidak sesuai bisa menghasilkan hasil panen yang tidak ekonomis dengan berbagai teknik pengelolaan yang digunakan. Inspeksi yang detail terhadap data iklim, oleh karenanya, merupakan bagian yang penting dariproses seleksi lahan. Beberapa karakter lahan dan tanah dapat diubah agar sesuai untuk budidaya kelapa sawit namun sebenarnya tidak disarankan (misalnya kelapa sawit telah ditanam di area terasering dimana kemiringan lahan curam namun hal tersebut tidaklah ekonomis dan diterima jika dilihat dari efeknya terhadap lingkungan).

Survei yang tepat terhadap lahan dan tanah akan memberikan informasi mengenai potensi hasil panen, permasalahan tanah yang ada, dan biaya pengukuran yang mungkin harus dikeluarkan. Ini biasanya diperlukan oleh pemerintah lokal sebagai bagian dari prosedur pengkajian dampak lingkungan (AMDAL). Biaya survei lahan dan tanah mengindikasikan sebagian kecil dari keseluruhan biaya pengembangan dan seharusnya dijadikan sebagai langkah penting didalam pengembangan sebuah kebun kelapa sawit.

 POIN PENTING BAGI PEKEBUN KELAPA SAWIT

  1. Lakukan survei yang tepat terhadap tanah dan lahan sebelum memulai pengembangan apapun pada perkebunan kelapa sawit. Kajilah kesesuaian lahan, potensi hasil, area-area yang tidak cocok bagi kelapa sawit, faktor-faktor tanah dan iklim yang mempengaruhi pengembangan dan biaya perawatan. Amati permasalahan yang ada mengenai lahan/tanah dan hitung biaya untuk menanganinya.
  2. Kumpulkan data iklim – Dirikan station meteorologi kecil di setiap kebun. Berikan pelatihan kepada para pelaksana untuk menjaganya tetap berfungsi dengan baik. Kumpulkan data mengenai curah hujan, hari hujan, sinar matahari, kecepatan angin, evaporasi dan suhu maksimum dan minimum. Gunakan lembaran kerja komputer untuk menghitung keseimbangan air.
  3. Keperluan untuk pengelolaan spesifik lahan dalam mengoptimalkan hasil :
  • Harus ditentukan tipe tanah dan unit pengelolaan tanah untuk setiap blok yang ditanami menggunakan sistem klasifikasi tanah yang tepat.
  • Pengkajian terhadap lahan sebaiknya dilakukan dengan mengacu kepada topografi, kelembaban yang ada; sifat fisika tanah (tekstur dan struktur; kedalaman dan volume tanah yang efektif); dan sifat kimia tanah (BOT; status N dan P; KTK; K; status Mg dan Ca; kelarutan basa; pH tanah; salinitas, hara mikro (Cu, Zn dan B); dan elemn racun (Cr, Ni).
  • Buatlah daftar praktek-praktek agronomi untuk tiap unit pemetaan tanah atau grup pengelolaan tanah

4.   Penanganan Permasalahan Tanah

  • Tanah-tanah miskin drainase memerlukan sistem drainase/pengelolaan air yang tepat. Hindarilah tanah-tanah sulfat asam yang kering
  • Tanah-tanah (gambut) organik sebaiknya dikeringkan dengan tepat. Muka air tanah harus dipertahankan 0.5-0.7 m di bawah permukaan dengan menggunakan sistem pengelolaan air yang permanen. Mulailah menanam satu tahun setelah drainase awal yakni setelah mengatur setiap jalur penanaman. Gunakan metode penanaman ‘hole-in-hole’ (lubang tanam di dalam lubang).
  • Tanah-tanah yang mengalami banyak pelapukan biasanya kekurangan P dan memiliki KTK yang kecil. Pergunakan mulsa dengan EFB dan penyususunan pelepah/sisa pangkasan harus dilakukan.
  • Beberapa tanah berpasir seharusnya tidak ditanami dikarenakan sifat fisika tanahnya yang tidak cocok dan kesuburan tanah yang kurang. Gunakan mulsa EFB, aplikasi pupuk yang terpisah-pisah dan penimbunan/penyusunan pelepah/sisa pangkasan yang tepat.

Tabel 5. Sistem klasifikasi evaluasi tanah untuk kelapa sawit

Kelompok

Kelas

Keterangan

S

(sesuai)

S1

(sangat sesuai)

Lahan yang tidak/hanya sedikit memiliki kekurangan bagi pembudidayaan kelapa sawit.

S2

(sesuai)

Lahan yang memiliki kekurangan namun keparahannya masih ditolerir untuk pembudidayaan kelapa sawit. Produktivitas akan lebih rendah dan membutuhkan biaya lebih banyak dibandingkan lahan S1.

S3

(sesuai bagi lahan marginal)

Lahan yang memiliki kekurangan namun keparahannya masih bisa ditolerir. Produktivitas rendah dan membutuhkan input yang mahal, dan mungkin pemanfaatannya tidak direkomendasikan.

N

(tidak sesuai)

N

(tidak  sesuai)

Kualitas lahan tidak sesuai untuk budidaya kelapa sawit yang berkelanjutan.

Tabel 8. Rekomendasi solusi permasalahan lahan yang ditemui didalam pembudidayaan kelapa sawit pada tanah gambut

Masalah Rekomendasi
Rawa gambut sulit untuk dikeringkan dan menghasilkan cekungan/ceruk tanpa drainase alami. Membuka perkebunan hanya di area dimana bisa dibangun drainase buatan.
Kekurangan air dengan kualitas yang baik untuk pembibitan dan pabrik. Membangun pabrik dan pembibitan di lokasi tanah mineral terdekat.
Kurangnya tanah yang sesuai untuk pembibitan. Mendatangkan tanah mineral dari area sekitarnya.
Kepadatan tanah rendah sehingga sulit membuat drainase dan operasi dengan mesin. Gunakan eskavator ringan yang dilengkapi dengan pelacak rawa sehingga bisa membuat drainase.
Lapisan gambut menyusut, khususnya selama tahun-tahun awal setelah drainase. Pertama, buatlah sistem drainase untuk membuang kelebihan air. Mungkin perlu menggali drainase lebih dalam dan mengganti tinggi gerbang air, setelah gambut menyusut.
Pertumbuhan kelapa sawit cenderung miring atau rebah, sehingga membuat panen dan operasi lapang lainnya sulit dilakukan. Tunda penanaman hingga gambut ditangani dengan baik selama kira-kira 1 tahun. Padatkan tanah pada garis penanaman.
Ketika mengalami kekeringan, permukaan tanah gambut tidak bisa gembur, namun terus mengering hingga membentuk tekstur serbuk yang sulit untuk dilembabkan kembali. Buatlah sistem manajemen air sementara kira-kira satu tahun setelah drainase awal. Buatlah gerbang air permanen ketika kecepatan penyusutan gambut rendah. Pertahankan muka air tanah 0.5-0.7 m dari permukaan tanah.
Kekurangan Cu, Fe dan Zn sering terjadi dan sulit untuk menanganinya (Turner dan Bull, 1967). Berikan hara mikro ke pembibitan kelapa sawit dan sebagai program pemupukan tahunan. Lakukan penaburan debu tandan atau kapur pada lubang tanam untuk meningkatkan aktivitas biologi dan kecepatan pelapukan N. Berikan juga P dan K yang cukup dan hara mikro Cu, Mo dan Zn.
Konstruksi jalan pada tanah gambut sangat sulit dan memakan banyak biaya. Untuk tahap awal, prioritaskan dahulu jalan untuk panen dengan fungsi ganda.


5 responses to “Seleksi Lahan Kelapa Sawit

  1. artikelnya bagus, boleh nggak minta daftar pustaka dari artikel ini buat belajar saya soalnya saya masih awam dalam dunia sawit??

  2. Terimakasih Artikelnya sangat informatif. namun saya punya permasalahan sekaligus pertanyaan mas. Saya sudah terlanjur punya lahan sawit yang daerahnya setahun sekali banjir yaitu pada bulan penghujan dengan durasi 1 minggu dengan kedalaman 1-2 m. saya sudah melakukan penanaman dan hasilnya 90% mati. tapi saya heran di samping kebun saya terdapat kebun kelapa sawit yang lumayan bagus. pertanyaan saya bagaimana pendapat mas tentang lahan saya? dan apakah ada solusi penanganan khusus tanaman kelapa sawit setelah banjir agar tetap hidup?
    perlu juga diketahui banjir yang terjadi disebabkan luapan air sungai mengingat lokasi kebun dekat sungai bukan masalah irigasi kebun.

    • Izinkan saya berbagi informasi ya Pak..
      Apakah kondisi lahan yang terkena banjir tersebut adalah rendahan?
      Jika iya, hal yang dapat kita lakukan antara lain:
      1. Membuat gundukan/bumbunan individu, agar air tidak langsung ke pokok sawit,
      2. Menanam bibit di atas umur 1 tahun dan beberapa minggu setelah banjir kiriman,
      hal ini supaya bibit lebih kuat menahan air dan saat banjir lagi (tahun berikutnya) akar pokok sawit lebih kuat dan stess bibit telah berkurang.
      3. Melakukan konsolidasi, yaitu membetulkan bibit yang miring, tumbang sementara akibat banjir, atau menyisip/mengganti bibit yang mati karena terendam atau busuk.

      Yah, mudah-mudahan ini dapat membantu kebun Bapak Mutabak yah..
      Otree, salam..

      Nana

  3. Thanks,
    Artikel ini membantu presentasi saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s