Makna Assalamu’alaikum wrwb.

BISMILLAHIROHMANIRROHIM

MAKNA DIBALIK UCAPAN ASSALAMU’ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABARAKATUH: PERSPEKTIF SILATURAHIM*

1) Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ: “بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ” قَالَ: « يُقَالُ حِينَئِذٍ: هُدِيتَ وَكُفِيتَ وَوُقِيتَ. فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ، فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ: كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِىَ وَكُفِىَ وَوُقِىَ

“Jika seseorang keluar dari rumahnya lalu membaca (zikir): Bismillahi tawakkaltu ‘alallahi, walaa haula wala quwwata illa billah (Dengan nama Allah, aku berserah diri kepada-Nya, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Nya), maka malaikat akan berkata kepadanya: “(sungguh) kamu telah diberi petunjuk (oleh Allah Ta’ala), dicukupkan (dalam segala keperluanmu) dan dijaga (dari semua keburukan)”, sehingga setan-setanpun tidak bisa mendekatinya, dan setan yang lain berkata kepada temannya: Bagaimana (mungkin) kamu bisa (mencelakakan) seorang yang telah diberi petunjuk, dicukupkan dan dijaga (oleh Allah Ta’ala)?”

Sumber: HR Abu Dawud (no. 5095), at-Tirmidzi (no. 3426) dan Ibnu Hibban (no. 822), dinyatakan shahih oleh imam at-Tirmidzi, Ibnu Hibban dan syaikh al-Albani.

2) Dari Ibnu Syihab, dari Annas bin Malik berkata bahwa sesungguhnya  Rasulullah saw bersabda :

عَنْ ابْنِ شِهَا بٍ قَالَ أَخْبَرَنِي اَنَسُ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فيِ رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ (متفق عليه)

Dari Ibnu Syihab, dari Annas bin Malik berkata bahwa sesungguhnya  Rasulullah saw bersabda : barang siapa ingin dilapangkan rizkinya dan ditangguhkan atau dipanjangkan umurnya, maka hendaklah dia menyambung tali kasih dengan keluarganya. (H.R. Bukhari dan Muslim).

Kedua hadist tersebut menyebutkan keutamaan silaturahim. Silaturahim berasal dari 2 kata, silatu yang artinya menyambung, menempel, merapat. Sedangkan Rohim adalah tempat kantong janin dalam perut perempuan. Rohim diambil dari asmaul husna. Kata Allah, ‘Ana Rohman (Aku yang memiliki sifat Maha Pengasih)’. Tidak ada janin yang terkena bakteri dalam perut Ibu karena janin tersebut dijaga langsung oleh Rohim. Sebagaimana sayangnya Rohman , begitulah sayangnya Rohim menjaga Janin. Jadi, barang siapa yang menjaga silaturahim maka Allah SWT yang akan menjamin keselamatannya, seperti Allah SWT menjaga janin dalam Rahim.

Pada prakteknya, ketika kita keluar dari rumah dan berniat untuk silaturahim, kemudian membaca doa pada hadist pertama, maka pada saat itu juga Allah SWT menurunkan rezeki pada orang tersebut. Bila dalil ini tidak cukup, kita menilik pada keseharian kita dimana setiap keluar rumah, pasti ada rejeki yang kita dapat, misal tiba-tiba diberi air minum, makanan, atau bantuan orang. Janji ini disampaikan langsung oleh Baginda Nabi Muhammad SAW, dari Allah SWT melalui Malaikat Jibril.

Pada hadist kedua, silaturahim dapat memanjangkan umur, karena setiap dari kita bertemu dengan orang lain dan saling mendapatkan doa selamat. Doa selamat diperoleh dari ucapan Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Minimal ada 3 doa dalam ucapan salam tersebut.

  1. Assalamu’alaikum: memiliki makna bahwa Allah SWT memberikan keselamatan atas hidupmu, badanmu, matimu, istrimu/suamimu/anakmu, rejekimu, usahamu/pekerjaanmu, dan selamat dunia akheratmu.

Dalam doa lain disebutkan bahwa:

اَللّٰهُمَّ اِنَّانَسْئَلُكَ سَلَامَةًفِى الدِّيْنِ، وَعَافِيَةًفِى الْجَسَدِوَزِيَادَةًفِى الْعِلْمِ وَبَرَكَةًفِى الرِّزْقِ وَتَوْبَةَقَبْلَ الْمَوْتِ وَرَحْمَةًعِنْدَالْمَوْتِ وَمَغْفِرَةًبَعْدَالْمَوْتِ،اَللّٰهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِيْ سَكَرَاتِ الْمَوْتِ، وَنَجَاةًمِنَ النَّارِوَالْعَفْوَعِنْدَالْحِسَابِ

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada engkau akan keselamatan Agama dan sehat badan, dan tambahnya ilmu pengetahuan, dan keberkahan dalam rizki dan diampuni sebelum mati, dan mendapat rahmat waktu mati dan mendapat pengampunan sesudah mati. Ya Allah, mudahkan bagi kami waktu (sekarat) menghadapi mati, dan selamatkan dari siksa neraka, dan pengampunan waktu hisab.

Bila doa ini diucapkan dari diri sendiri dan relatif panjang, namun dengan mendapatkan doa keselamatan dari orang lain melalui ucapan Assalamu’alaikum, maka mereka telah mendapatkan doa keselamatan dengan jalan silaturahim.

  1. Warahmatullah: memiliki arti ‘semoga Allah merahmatimu’. Makna dari doa ini adalah bahwa tidak ada orang masuk surga karena amalnya, tetapi seseorang masuk surga karena rahmat dari Allah SWT. Dengan kita mengucapkan doa ini, kita berharap bahwa Allah memberikan rahmatNya sehingga kita semua masuk ke dalam SurgaNya. Aamiin.
  2. Wabarakatuh: memiliki arti ‘bertambah’. Makna dari doa ini adalah bertambah rejeki dari yang seharusnya. Lebih dalam lagi adalah bertambah keberkahan pada ilmumu, istrimu/suamimu/anakmu/keluargamu, hartamu, rumahmu, kendaraanmu, duniamu, dan berkah akheratmu.

Begitu mulianya menjalin silaturahim, semoga Allah SWT selalu menjaga silaturahim kita dan mengijabah doa-doa kita. Aamiin. (RF)

*Dari berbagai sumber.

Advertisements

Publikasi ilmiah

Bagi teman-teman yang membutuhkan publikasi ilmiah tentang bioteknologi, kelapa sawit, maupun penyakit pada tanaman, berikut beberapa judul yang mungkin dapat membantu.

  1. Faizah, R., S. Wening, Y. Yenni, A.R. Purba. 2010. Analisa Kemurnian Projeni Kelapa Sawit (Elaeis guineensisJacq.) menggunakan marka Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD). Jurnal Penelitian Kelapa Sawit 18 (3): 115-121.
  2. Faizah, R., S. Wening, R.D. Setiowati, Y. Yenni. 2011. Cluster analysis of six parental oil palms in Indonesian Oil Palm Research Institute. Disampaikan pada The 4th International Symposium of Indonesian Wood Research Society. Quality Plaza Hotel, Makassar-Indonesia.
  3. Faizah, R., S. Sujiprihati, M. Syukur, S.H. Hidayat. 2012. Mekanisme Ketahanan Struktural Terhadap Begomovirus Penyebab Penyakit Keriting Kuning (Pepper yellow leaf curl virus). Prosiding Seminar Perhimpunan Ilmu Pemuliaan Indonesia. Hal. 223-230. Padang. Universitas Andalas Sumatera Barat.
  4. Faizah, R., S. Sujiprihati, M. Syukur, S.H. Hidayat. 2012. Ketahanan biokimia tanaman cabai terhadap Begomovirus penyebab penyakit daun keriting kuning. Jurnal Fitopatologi 8 (5): 138-144.
  5. Rahmadi, H.Y., Y. Yenni, R. Faizah, A.R. Purba. 2013. Yangambi next generation. Dalam H.A. Hasibuan, R. Amalia, F. Hidayat, H. Y. Rahmadi, A.E. Prasetyo, S. Wening, V.D. Lelyana, R. Faizah, T. Herawan, E.S. Sutarta. Prosiding Pertemuan Teknis Kelapa Sawit. Jakarta, 7-9 Mei 2013. ISBN : 978-602-7539-16-7
  6. Rahmadi, H.Y., N. Supena, R. Faizah, Y. Yenni. 2013. Fenomena abnormalitas kimera bibit kelapa sawit. Dalam H.A. Hasibuan, R. Amalia, F. Hidayat, H. Y. Rahmadi, A.E. Prasetyo, S. Wening, V.D. Lelyana, R. Faizah, T. Herawan, E.S. Sutarta. Prosiding Pertemuan Teknis Kelapa Sawit. Jakarta, 7-9 Mei 2013. ISBN : 978-602-7539-16-7
  7. Wening, S., R. Faizah, Y. Yenni, A.R. Purba. 2013. Aplikasi sidik jari DNA dalam manajemen plasma nutfah kelapa sawit. Dalam H.A. Hasibuan, R. Amalia, F. Hidayat, H. Y. Rahmadi, A.E. Prasetyo, S. Wening, V.D. Lelyana, R. Faizah, T. Herawan, E.S. Sutarta. Prosiding Pertemuan Teknis Kelapa Sawit. Jakarta, 7-9 Mei 2013. ISBN : 978-602-7539-16-7
  8. Wening, S., R. Faizah, H.Y. Rahmadi, Y. Yenni, A.R. Purba. 2013. Identifikasi kandidat individu kelapa sawit dengan tingkat homozigositas tinggi melalui analisis sidik jari DNA. Jurnal Penelitian Kelapa Sawit 21 (2): 56-63. ISSN : 0853-196X
  9. Wening, S., R. Faizah, H.Y. Rahmadi, Y. Yenni, A.R. Purba. 2013. Sidik jari DNA plasma nutfah kelapa sawit koleksi Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Jurnal Penelitian Kelapa Sawit 21 (1): 1-9. ISSN : 0853-196X
  10. Wening, S., R. Faizah, H.Y. Rahmadi, Y. Yenni. dan A.R. Purba. 2013. SSR analysis for management of IOPRI’s oil palm germplasm. PIPOC 2013, MPOB, Kuala Lumpur.
  11. A. Hasibuan, T. Herawan, R. Faizah, H.Y. Rahmadi. Y. Yenni, D. Siahaan. 2013. Panduan analisis kadar minyak dan inti buah sawit (spikelet sampling). Buku Saku Seri 30, Pusat Penelitian Kelapa Sawit ISBN : 978-602-7539-18-1.
  12. Hasibuan, H.A., H.Y. Rahmadi, R. Faizah. 2014. Teknik sampling yang representatif dan akurat dalam penentuan kadar minyak dan inti pada tandan buah sawit segar. Warta Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Vol: 19 No : 2 , Hal : 49-55.
  13. Rahmadi, H. Y., Yenni, Y., Supena, N., Sujadi, Ernayunita, Wening, S. Faizah, R., Purba, A. R. 2014. Progress of Elaeis oleifera breeding in IOPRI. InA. Hasibuan, H.Y. Rahmadi, R. Amalia, H. Priwiratama, S. Wening, Sujadi, E.S. Sutarta, D. Siahaan, T. Herawan. Proceedings IOPC 17-19 June 2014, Indonesian Oil Palm Research Institute, Bali. ISBN : 978-602-7539-20-4
  14. Wening, S., N. Supena, H.Y. Rahmadi, R. Faizah, Y. Yenni, A.R. Purba. 2014. Oil palm molecular breeding: Progress in IOPRI. In H.A. Hasibuan, H.Y. Rahmadi, R. Amalia, H. Priwiratama, S. Wening, Sujadi, E.S. Sutarta, D. Siahaan, T. Herawan. Proceedings IOPC 17-19 June 2014, Indosian Oil Palm Research Institute, Bali. ISBN : 978-602-7539-20-4
  15. Rahmadi, H.Y., H.A. Hasibuan, R. Faizah. 2015. Validasi teknik sampling 3 spikelet sebagai metode standar dalam penentuan rendemen CPO dan inti tandan buah segar. Dalam H.Y. Rahmadi, S. Wening, R. Nurkhoiry, V.D. Lelyana, A.E.Prasetyo, N.H. Darlan, H.A. Hasibuan, E. Suprianto, A.R. Purba (Eds) Prosiding Pertemuan Teknis Kelapa Sawit, Jogjakarta, 17-19 Mei 2015. ISBN : 978-602-7539-24-2
  16. Faizah, R. dan S. Wening. 2015. Protokol legitimasi projeni kelapa sawit di PPKS. Dalam Y. Rahmadi, S. Wening, R. Nurkhoiry, V.D. Lelyana, A.E.Prasetyo, N.H. Darlan, H.A. Hasibuan, E. Suprianto, A.R. Purba (Eds) . Prosiding Pertemuan Teknis Kelapa Sawit. Jogjakarta, 17-19 Mei 2015. ISBN : 978-602-7539-24-2
  17. Faizah, R., S. Wening, H.Y. Rahmadi. 2016. Keragaman genetik populasi oleifera dan populasi E. guineensis x E. oleifera pada koleksi plasma nutfah PPKS. Jurnal Penelitian Kelapa Sawit Vol: 24 No. 1, April 2016, Hal : 13-23. ISSN : 0853-196X
  18. Faizah, R., S. Wening, H.Y. Rahmadi, A. Razak Purba. 2016. Dugaan gejala depresi silang-dalam dan tingkat homozigositas populasi kelapa sawit hasil penyerbukan sendiri generasi ke-4 SP540T dan generasi ke-5 Dura Deli. Jurnal Penelitian Kelapa Sawit Vol: 24 No. 2, Agustus 2016. ISSN : 0853-196X.
  19. Faizah, R., Supena, I.Y. Harahap. 2016. Aplikasi metode vakum (vacuum sealing) sebagai upaya memperpanjang masa simpan kecambah kelapa sawit layak salur di PPKS. Prosiding seminar nasional Perhimpunan Ilmu Pemuliaan Indonesia (PERIPI) Strategi pemuliaan dalam mengantisipasi perubahan iklim global. Pekanbaru, 20 Juli 2016.
  20. Simanjuntak, D., R. Faizah, A.E. Prasetyo, dan A. Susanto. 2016. Poisoning test of various types of fungicide active ingredients against three kinds of air borne pathogens. Proceeding of International Seminar Pest and Disease, 27-29 September 2016 di Santika Dyandra Hotel, Medan.
  21. On progress,,, Hehee

 

MANAJEMEN KANOPI UNTUK HASIL YANG OPTIMAL

BAB VIII

MANAJEMEN KANOPI UNTUK HASIL YANG OPTIMAL

Helmut von Uexküll

Hegelstrasse 2, 53177 Bonn, Germany. E-mail: H.R.von. Uexkuell@t-online.de

Ian E. Henson

Malaysian Palm Oil Board (MPOB), Biological Research Division, No. 6 Persiaran Institusi, Bandar Bangi, Kajang, Selangor 43000, Malaysia. E-mail: Henson@mpob.gov.my

Thomas Fairhurst

Potash & Phophate Institute/ Potash & Phospate Institute of Canada – East & Southeast Asia Programs, 126 Watten Estate Road, Singapore 287599. E-mail : tfairhurst@eseap.org

PENDAHULUAN

Manajemen kanopi adalah aspek yang penting dalam memaksimalkan hasil kelapa sawit. Pasokan karbohidrat (CH2O) untuk pertumbuhan vegetatif dan generatif ditentukan oleh permukaan daun hijau total dan efisiensi radiasi yang terserap atau efisiensi kanopi. Manajemen kanopi tidak hanya menjadi tanggung jawab agronomis, tetapi juga petani kebun. Hal ini berdampak pada pemangkasan pelepah daun (pruning: penunasan), penjarangan, dan aplikasi pemupukan. Tujuan dari bab ini adalah untuk membahas aspek praktikal yang tepat untuk mengoptimalkan kanopi di lahan kelapa sawit.

Manajemen untuk Indeks Luas Daun (L)

Indeks luas daun merupakan rasio luas daun terhadap area tanah.   Indeks luas daun adalah metode standar untuk menentukan ukuran kanopi dan memberikan hasil yang paling besar. Nilai L yang optimal bukan nilai yang pasti tetapi tergantung pada lamanya cahaya matahari efektif, perbedaan temperatur malam, kelembaban tanah dan karakteristik genetik dari bahan tanaman. Hasil yang maksimum secara teori hanya diperoleh ketika nilai optimal untuk L dicapai seluruh area tanaman selama siklus penanaman.

Indeks luas daun dipengaruhi oleh tidak adanya tanaman karena terinfeksi penyakit (seperti Ganoderma sp.), tanah yang miskin hara, tanaman off-types, dan kerapatan yang tidak optimal. Selain itu juga disebabkan oleh berkurangnya daun karena pemangkasan (pruning), tanaman yang sedikit karena faktor nutrisi atau bahaya hama penyakit. Pengembangan kanopi sangat berpengaruh pada waktu penanaman baru. Perkembangan kanopi akan meningkat seiring dengan panjang pelepah daun dan umur tanaman. Kerapatan tanam yang optimal sangat berhubungan dengan umur tanaman. Nilai L adalah fungsi dari jumlah pelepah, luasan pelepah, dan kerapatan tanaman, yaitu:

Nilai L juga dipengaruhi oleh penutupan kanopi. Penutupan kanopi terjadi apabila 80% radiasi telah ditangkap oleh tanaman atau tiga pelepah saling berhimpitan (overlap). Kanopi efektif menutup sebelum pelepah daun mencapai ukuran maksimum. Standar kerapatan tanam berkisar antara 136-143 pokok/ha. Hal ini tergantung pada kesuburan tanah, aplikasi pemupukan, iklim, dan tipe bahan tanaman (turunan atau ideotipe. Penutupan kanopi terjadi lebih cepat dengan kerapatan tanaman yang tinggi. Penutupan kanopi yang semakin besar membuat jumlah pelepah semakin banyak per tanaman kelapa sawit. Manajemen kanopi mengimplikasikan bahwa terdapat keseimbangan antara areal lahan, umur tanaman, dan jumlah daun yang tetap dijaga pada kelapa sawit.

Secara agronomi, indeks luas daun dapat diartikan sebagai kemampuan untuk memaksimalkan potensi hasil tanaman. Ada 2 (dua) pendekatan untuk mengoptimalkan indeks luas daun (L) melalui masa hidup tanaman, yaitu:

  • Kerapatan tanaman yang tinggi, dipilih untuk memaksimalkan hasil yang lebih cepat dengan mengurangi persaingan tanaman kelapa sawit setelah penutupan kanopi.
  • Kerapatan tanaman yang rendah, dipilih agar kemungkinan persaingan antar tanaman kelapa sawit setelah penutupan kanopi diminimalkan.

FAKTOR-FAKTOR IKLIM YANG MEMPENGARUHI INDEKS LUAS DAUN (L)

  1. Radiasi Sinar Matahari

Radiasi matahari merupakan faktor penting untuk menjabarkan nilai L optimum untuk areal yang mendapatkan radiasi tersebut. Semakin besar radiasi sinar matahari, semakin besar pula nilai indeks luas daun (L) optimum, tetapi tutupan awan dan naungan yang alami akan mengurangi nilai L optimum. Kerapatan tanam yang tinggi dapat terjadi pada areal dengan intensitas curah hujan tinggi, tetapi hujan tersebut terjadi pad siang atau sore hari.   Kondisi tersebut terjadi areal pegunungan Ophir Sumatera Utara, dimana terjadi kombinasi antara radiasi sinar matahari yang tinggi, curah hujan tinggi dengan penutup awan rendah, dan struktur tanah vulkanik. Hal ini berarti kerapatan tanam yang lebih tinggi dapat digunakan di area-area yang memiliki radiasi sinar matahari yang tinggi. Kerapatan tanam yang lebih renggang dipertimbangkan pada area dengan curah hujan yang tinggi dimana awan menutupi area tersebut.

  1. Kelembaban

Radiasi sinar matahari yang tinggi seringkali diikuti curah hujan yang tidak cukup dan kelembaban tanah yang rendah. Radiasi sinar matahari yang intensif, terdapat kecerendungan untuk memberikan nilai L yang tinggi. Kelembaban yang dapat mengurangi nilai L optimum.

  1. Temperatur yang Tinggi

Temperatur tinggi dapat meningkatkan kehilangan respirasi dan mempresentasikan pelengkap yang lain untuk nilai L yang optimum. Kanopi yang tebal (nilai L tinggi) diduga dapat menurunkan temperatur kanopi bagian dalam dan dapat meminimalkan kehilangan akibat respirasi.

FAKTOR-FAKTOR TANAH YANG PENGARUHI PERKEMBANGAN KANOPI

Tanah mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap laju pertumbuhan dan panjang pelepah kelapa sawit. Semakin baik struktur tanah vulkanik, semakin cepat pertumbuhan dan produksi pelepah daun yang berlebih. Kondisi tersebut dapat menyebabkan hasil produksi lebih awal, namun kompetisi antar tanaman menjadi lebih besar. Di sisi lain, ekspansi kanopi pada tanah yang terbakar bagian dalam dan tanah berpasir biasanya lambat, dimana kerapatan tanam lebih tinggi atau lebih dari 160 pokok/ha.

FAKTOR-FAKTOR MANAJEMEN YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN KANOPI

  1. Jenis Bahan Tanaman

Turunan kelapa sawit dapat memiliki deskripsi yang berbeda-beda pada struktur ekspansi kanopi. Penanaman dengan kerapatan yang lebih kecil dapat diseleksi tipe tanaman kompak dengan pelepah pendek, dan jarak tanam yang lebar digunakan untuk tipe tanaman dengan pelepah daun yang panjang. Tanaman kelapa sawit muda yang berbeda berubah dengan cepat pada masa ekspansi kanopi. Kondisi agroklimat kelapa sawit mendukung kecocokan bahan tanaman dalam ekspansi tajuk yang dikombinasikan dengan waktu yang singkat terhadap ekspansi pelepah daun.

  1. Jarak Tanam

Jarak tanam adalah faktor yang paling mempengaruhi perkembangan kanopi. Pemilihan kerapatan tanam cocok setelah mempertimbangkan kondisi tanah dan iklim dan jenis bahan tanaman yang digunakan adalah suatu kunci dari keputusan manajemen. Kerapatan tanam yang lebih rendah biasanya lebih disukai dimana kondisi tanah lebih baik, dimana dipilih jumlah radiasi sinar matahari dikurangi oleh kondisi iklim. Kerapatan tanam lebih tinggi biasanya dilakukan apabila radiasi sinar matahari sangat tinggi dan kelembaban tanah berkurang. Pemilihan kerapatan tanam yang cocok tergantung dari tahap awal manajemen kanopi. Penanam harus membuat dengan pasti bahwa penggarisan dan penanaman dilaksanakan secara akurat di lapangan seperti setiap tanaman kelapa sawit mempunyai akses yang sama pada cahaya, air dan nutrisi.

Kerapatan tanam, jarak tanam, dan jarak antar baris (Tabel 1) adalah peubah interdependen yang dapat dijelaskan dengan persamaan:

Corley et al. (1973) mengembangkan persamaan untuk kerapatan tanaman optimum berdasarkan rata-rata panjang pelepah dewasa pada tanaman lebih dari 10 tahun.

Tabel 1 Kerapatan tanam, jarak antar baris dan panjang pelepah optimum untuk jarak penanaman umum kelapa sawit

Kerapatan

(pokok/ha)

Jarak baris (m) Jarak antar

baris (m)

Panjang pelepah optimum > 10 tsp*
158 8.5 7.4 9.1
148 8.8 7.6 9.8
138 9.1 7.9 10.8
129 9.5 8.2 12.0
121 9.8 8.5 13.5

Keterangan: * tsp = tahun setelah penanaman

  1. Pemangkasan (pruning)

Pruning adalah hal yang sangat menentukan dalam penyeimbangan kanopi dan besatnya nilai L. Pruning kelapa sawit dan hubungannya antara luas pelepah daun dan hasil produksi dijelaskan oleh Henson (2002). Pruning bertujuan untuk:

  • Memperbaiki kanopi kelapa sawit dan indeks luas daun (L),
  • Menyediakan akses untuk buah matang pada saat panen,
  • Memangkas pelepah daun tua untuk memudahkan pemanenan tandan,
  • Mengurangi kehilangan buah yang tertinggal di pelepah daun aksil
  • Mengurangi pertumbuhan tanaman epifit,
  • Membuang pelepah daun yang mati, rusak dan sakit untuk meningkatkan laju perbaikan kelapa sawit setelah timbulnya hama dan penyakit, dan
  • Mengoptimalkan kondisi kanopi dengan mengurangi kompetisi antar tanaman.
  1. Hama dan Penyakit

Pruning pelepah daun muda bagian atas kelapa sawit membuat kehilangan hasil lebih besar daripada pembersihan pelepah daun yang lebih tua. Penurunan hasil akan lebih besar dimana hama dan penyakit mempengaruhi bagian atas kanopi kelapa sawit. Dengan demikian, perlu adanya intervensi berkala untuk pengendalian hama penyakit yang membahayakan kanopi. Hal ini merupakan aspek yang sangat penting dari manajemen kanopi.

  1. Status nutrisi daun

Pruning berefek pada status nutrisi daun dimana nitrogen (N) dan potasium (K) pada pelepah daun meningkat tetapi magnesium (Mg) daun menurun ketika pruning dilakukan secara besar-besaran.

  1. Ablasi

Ablasi adalah proses pembersihan bunga betina pada tanaman kelapa sawit muda untuk periode tertentu sampai fase dewasa. Hal ini dapat meningkatkan pertumbuhan vegetatif karena CH2O diserap dari penggunaan hasil pertumbuhan vegetatif dalam laju peningkatan produksi pelepah, meningkatkan panjang dan berat pelepah daun. Ablasi dilakukan pada bunga betina dari ketiak pelepah daun setelah tampak 50% berdiri. Ablasi dapat dilakukan selama periode dari 12–18 bulan setelah penanaman.

  1. Pupuk

Dalam berbagai kondisi lingkungan, pupuk mempunyai pengaruh yang besar pada pertumbuhan kelapa sawit dan perkembangan kanopi. Diantara nutrisi utama, natrium (N) dan potasium (K) mempunyai efek yang paling kuat pada rata-rata pertumbuhan dan area daun kelapa sawit. Penggunaan pupuk nitrogen (N) secara besar dan sering dapat meningkatkan laju ekspansi pelepah daun dan hasil produksi lebih awal. Namun, aplikasi pupuk nitrogen (N) yang tinggi dapat menghasilkan pertumbuhan kanopi berlebih, kompetisi antar tanaman tinggi untuk mendapatkan sinar matahari, mengurangi hasil dan pertumbuhan tinggi tanaman. Tanaman kelapa sawit yang ditanam pada P (phospor) rendah dan tidak diperbaiki nutrisi tanahnya, akan menunjukkan bentuk pyramid dan pelepah daun kecil.

  1. Pemanenan

Pemanenan yang tidak sesuai prosedur dapat menyebabkan deplesi pelepah daun yang tidak diinginkan, terutama terjadi pada tanaman kelapa sawit muda. Kegiatan meminimalkan pembersihan pelepah daun dan pemanenan buah matang dengan bersih tanpa memotong pelepah yang terawatt diperlukan untuk memelihara kondisi kanopi optimal pada tanaman muda. Pembersihan daun berlebih dapat meningkatkan hasil kelapa sawit.

Pemanenan kelapa sawit yang lebih tua hampir selalu disertai dengan pembersihan pelepah daun. Pengaruh pelepah daun selama penanaman menjadi lebih kritis pada kelapa sawit lebih tua dimana hasil yang tinggi dihubungkan lebih pada berat tandan daripada jumlah tandan per pohon kelapa sawit. Dengan demikian, satu pelepah daun menahan bagian bawah tandan paling tua atau total kanopi dari 40 pelepah daun cukup untuk mempertahankan tanaman kelapa sawit lebih dari 8 tahun setelah penanaman.

PENJARANGAN

Penjarangan merupakan isu yang sangat kontroversial pada manajemen kelapa sawit karena belum ada bukti-bukti ilmiah yang menunjukkan kalau penjarangan ini bemanfaat pada waktu yang lama. Namun, bagaimanapun penjarangan ini dapat menjadi cara efektif untuk mencegah kehilangan hasil dengan cepat dimana kelapa sawit ditanami dengan kerapatan yang tinggi atau ini merupakan bagian dari strategi penanaman untuk mengoptimalkan kerapatan tanam. Efek penjarangan dapat menjadi efektif untuk mencegah penurunan hasil produksi dimana tanaman di tanam pada kerapatan yang tinggi atau kondisi tanah dan iklim yang baik untuk pertumbuhannya.

Indikator kompetisi antar tanaman kelapa sawit terbagi menjadi dua, yaitu secara kuantitatif dan kualitatif. Secara kuantitatif adalah intensitas radiasi matahari berkurang di penanaman, hasil yang tidak seragam karena perbedaan posisi penanaman, mengurangi hasil produksi, etiolasi batang, dan meningkatkan panjang racis. Indikator kualitatif antara lain vegetasi lahan karena penerimaan radiasi matahari yang rendah, pelepah daun yang berlebihan atau sangat jarang, munculnya pelepah daun yang tegak, buah tandan yang kecil karena terdapat gangguan pada saat pembentukan buah, dan kematian pelepah daun bagian bawah yang lebih awal.

Ooi et al. (1989) menunjukkan bahwa terjadi peningkatan hasil produksi pada penjarangan dengan sistem heksagonal, bahkan pada tanaman dengan kerapatan yang sangat rendah (110 pokok/ha). Lanjut Ooi et al. (1989) menjelaskan penjarangan berakibat pada penurunan hasil pada tahun pertama setelah penanaman, tetapi pada tahun berikutnya hasil tersebut meningkat. Penjarangan adalah suatu cara alternatif untuk tanaman kelapa sawit yang memproduksi hasil yang rendah. Prosedur penjarangan tanaman kelapa sawit adalah sebagai berikut:

  • Inspeksi lapangan untuk gejala-gejala kompetisi atau persaingan antar tanaman kelapa sawit,
  • Menghitung kepadatan optimal berdasarkan ukuran panjang pelepah daun,
  • Menandai semua kelapa sawit yang menempati posisi tengah dari setiap heksagonal di lapangan selama pengoperasian sensus tanaman kelapa sawit,
  • Menandai 3 tanaman kelapa sawit yang memiliki keragaan tidak baik dalam setiap grup 7 tanaman kelapa sawit,
  • Mengulang sensus tanaman kelapa sawit setelah 6 bulan dan memilih 1 dari 3 tanaman kelapa sawit yang teridentifikasi sebagai tanaman berkeragaan tidak baik untuk dipindahkan, dan
  • Meracuni semua tanaman kelapa sawit yang bertanda untuk penjarangan.

Prosedur ini berhasil dalam membuang tanaman kelapa sawit yang memiliki hasil rendah, menghilangkan kompetisi antar tanaman kelapa sawit dan menyediakan geometri kanopi kelapa sawit yang dapat diterima.

Kandidat tanaman kelapa sawit yang dibuang dalam seleksi penjarangan adalah tanaman:

  • Pisifera steril,
  • Sakit, kecil, dan produksi rendah,
  • Menunjukkan karakteristik abnormal,
  • Sangat tinggi dan penggunaan nutrisi yang tidak efisien, dan
  • Pertumbuhan awal sangat cepat dan selanjutnya tidak menunjukkan perkembangan berarti.

Disamping itu juga, penjarangan dilakukan untuk meningkatkan respon pupuk, mengurangi pekerja pemanenan, mengurangi pemangkasan, dan mengurangi biaya merumput.

MANAJEMEN KANOPI PADA SAAT REPLANTING

Replanting dilakukan ketika tanaman telah sangat tinggi dan tidak mampu dipanen lagi, hasilnya sangat kecil dan produksi secara ekonomi tidak seimbang dengan pemeliharaan tanaman kelapa sawit. Investigasi biasanya dilakukan untuk penanaman bibit di bawah kanopi tua, melakukan pruning hingga akhirnya meracuni kelapa sawit tua dengan tetap melakukan perawatan pada beberapa tanaman yang masih produktif melalui periode replanting. Replanting harus mempertimbangkan resiko dari Ganoderma dan kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros) karena dapat menyebabkan terjadinya daerah endemik hama penyakit tersebut.

KESIMPULAN

Bab ini menunjukkan pentingnya perbaikan manajemen terhadap ukuran kanopi tanaman kelapa sawit untuk meningkatkan hasil produksi secara eknomi. Kegiatan yang beragam dan pengaruhnya telah dibahas dan rekomendasi dapat dibuat untuk memperbaiki implementasi dalam usah peningkatan produktivitas kelapa sawit.

TANAMAN PENUTUP KACANG-KACANGAN

BAB VII

TANAMAN PENUTUP KACANG-KACANGAN

Ken E. Giller

Department of Plant Sciences, Wagenigen University, PO Box 430, Wagenigen 6700 AK, The Netherland. E-mail: ken.giller@wur.nl

Thomas Fairhurst

Potash & Phophate Institute/ Potash & Phospate Institute of Canada – East & Southeast Asia Programs, 126 Watten Estate Road, Singapore 287599. E-mail : tfairhurst@eseap.org

PENDAHULUAN

            Tanaman legume atau kacang-kacangan berhasil digunakan sebagai tanaman penutup pada perkebunan kelapa sawit (Giller dan Wilson, 1991). Spesies yang sering digunakan antara lain Calopogonium caeruleum, C. mucunoides, Centrosema pubescens, Pueraria phaseoloides (Giller dan Wilson, 1991), Mucuna pruriens var utilis, Psophocarpus palustris, dan P. tetragonolobus (Giller, 2001). Fungsi penutup tanah yaitu untuk menutupi permukaan tanah dengan kemampuan menyebar dan merambat yang cepat, pertumbuhan lebih lambat dari rumput atau gulma, dan menghambat pertumbuhan gulma setelah pembersihan lahan (land-clearing).

Lahan kering yang ditumbuhi tanaman penutup legum dapat menurunkan produksi kelapa sawit di Thailand, India, dan Sumatera Selatan karena adanya kompetisi untuk mendapatkan air selama musim kemarau (Ochs dan Daniel, 1976). Tanaman legume seperti Crotalaria anagyroides, Flemingia macrophylla, dan Tephrosia candida juga digunakan sebagai tanaman penutup dan sumber N di perkebunan (Bunting dan Mislum, 1928; Pushparajah dan Tan, 1978).

Perpaduan antara C. mucunoides, P. phaseoloides dan C. pubescens sering digunakan di Asia. Kebanyakan tanaman penutup mati setelah 4-5 tahun setelah penanaman, namun C. caeruleum (Tan et al., 1987), F. macrophylla (Soong dan Yap, 1976) dapat hidup lebih lama.

Desmodium ovalifolium juga cukup toleran terhadap naungan tetapi lambat beradaptasi, memerlukan penyiangan intensif selama enam bulan pertama (Juan dan Chew, 1982). Mucuna puriens merupakan tanaman penutup yang efektif yang cepat beradaptasi karena ukuran benih yang besar, tetapi M. puriens harus ditanam bersamaan dengan tanaman keras untuk memastikan menutup sempurna selama periode pertumbuhan kelapa sawit belum menghasilkan. Mucuna bracteata baru-baru ini telah diuji di perkebunan kelapa sawit di Malaysia (Mathews, 1998). Mucuna bracteata toleran naungan dan kekeringan serta dan laju penguraian serasah agak terlamabat karena didaunnya terdapat senyawa polifenol dengan konsentrasi tinggi. Pueraria triloba sering terdapat di perkebunan tetapi tidak dianjurkan sebagai cadangan untuk umbi bawah tanah yang besar dan tidak efektif memperbaiki nitrogen secara aktif.

Arachis pintoi, salah satu jenis kacang tanah yang telah digunakan dengan baik di bawah kelapa sawit di Amerika Tengah dan Selatan, di bawah kelapa di Indonesia (et al Mullen, 1997), dan kebun-kebun pisang di Macadamia Australia (Firth, 1993; Firth dan Wilson, 1995). Arachis pintoi beradaptasi dengan baik untuk tanah asam kaya aluminium (Grof, 1985; Kerridge dan Hardy, 1995; Lascano dan Thomas, 1988) dan toleran naungan yang memungkinkan untuk bertahan lebih lama di bawah kelapa sawit dari spesies tanaman penutup lainnya. Legum lain yang dipilih untuk padang rumput tropis melalui program penelitian intensif di Amerika Selatan selama 20 tahun terakhir (Schultze-Kraft, 1986) mungkin juga menjamin evaluasi yang lebih luas sebagai penutup tanaman perkebunan.

MENANAM TANAMAN PENUTUP

Praktek untuk pembentukan tanaman penutup di perkebunan dijelaskan secara detail oleh Bevan dan Gray (1969) dan Rankine dan Fairhurst (1999). Legum atau tanaman kacang-kacangan biasanya ditaburkan dengan inokulasi rhizobial setelah gulma dibersihkan menggunakan herbisida sistemik. Hal ini umumnya direkomendasikan benih dibenam dalam tiga baris, 1,5-1,8 m terpisah di jalan, dengan tiga baris di sudut kanan. Campuran benih yang direkomendasikan di Asia biasanya terdiri dari 2,5 kg/ha P. phaseoloides, 3,5 kg/ha C. pubescnes, dan 1 kg/ha C. mucunoides (Ng, 1972). Campuran alternatif antara lain 2,5 kg/ha P. phaseoloides dan 0,5 kg C. caeruleum yang telah digunakan dengan hasil yang baik. Benih dari semua spesies harus dipecah atau direndam dalam air panas atau asam sebelum menabur, dan benih dapat pula dicampur dengan pasir untuk aplikasi yang lebih baik. M. cochinchinensis dan M. bracteata menghasilkan biji besar sehingga kedua spesies tersebut memiliki tingkat benih (kg/ha) lebih besar dari spesies lainnya meskipun jumlah benih yang diperlukan lebih sedikit. Karena M. puriens mempunyai masa hidup yang menurun cepat setelah panen, maka ketersediaan benih yang segar menjadi penting untuk kesuksesan pembentukan tanaman penutup.

P. phaseoloides di perkebunan kelapa sawit Afrika Barat tumbuh alami dan tanpa harus dipotong, sedangkan di Asia tumbuh kurang baik dan pertumbuhannya harus dikontrol dengan penyiangan (Corley et al., 1976; Hartley, 1988). Meskipun pertumbuhan tanaman penutup harus dikendalikan di sekitar tanaman, namun pertumbuhan kelapa sawit dapat berkurang dibawah naungan akibat menjalarnya tanaman penutup. Hal ini dapat dilakukan dengan menarik sulur yang menjalar ke tanaman kelapa sawit secara teratur. Setiap bebarapa bulan sekali, lingkarang penyiangan perlu dibersihkan di sekitar tanaman kelapa sawit belum menghasilkan.

Respon yang cepat terhadap pemupukan biasanya sering dijumpai pad tanaman penutup, seperti perkebunan yang berada pada lahan yang sangat lapuk, atau tanah yang banyak mengandung posfor. Di Asia Tenggara, fosfat batuan reaktif diterapkan baik di pesemaian (200-400 kg/ha) dan setelah dua tahun (100 kg/ha). Aplikasi 500-1,000 kg/ha fosfat mungkin diperlukan, namun untuk pengembangan tanaman penutup dengan P tanah rendah ditemukan di Sumatera dan Kalimantan. Aplikasi campuran N, P, K, dan Mg sebaiknya diterapkan beberapa minggu setelah perkecambahan (Watson, 1989; Pushparajah dan Tan, 1978). Biaya tambahan pupuk harus memiliki manfaat manfaat tambahan pada pertumbuhan tanaman penutup tanah dan fiksasi N2 pada tanaman penutup tanah yang tidak dipupuk hanya 12 kg N/ha dibandingkan 124 kg N/ha apabila dipupuk P (RRIM, 1961). Respon produksi biomasa juga telah diperoleh dengan penambahan pupuk Mg dan K (Tajuddin et al., 1980).

Griffiths dan Fairhurst (2003) menunjukkan terdapat harapan untuk mengembangkan kembali tanaman legum penutup tanah yang toleran naungan dibawah tegakan kelapa sawit (>8 tahun setelah tanam) pada tanah miring dan miskin hara P di Sumatra. Aplikasi fosfat alam tersebar di atas permukaan tanah (300 kg P2O5/ha) dan tandan kosong diterapkan sebagai lapisan (̴ 40 ton/ha) untuk mengurangi kerugian pupuk P dari erosi dan limpasan permukaan (runoff), dan ketersediaan hara. Tanaman Calopogonium caeruleum ditanam ditanam dari stek dalam polibag, kemudian ditanam di antara masing-masing tanaman kelapa sawit dan berdekatan dengan tumpukan daun kelapa sawit. Tanaman legume akan menutupi tanah setelah 4-6 bulan dan dapat menurunkan biaya penyiangan yang cukup signifikan. Tanaman yang kekurangan posfor ditandai dengan daun mengecil. Kekurangan kalium menunjukkan daun yang berwarna kuning oranye dan nekrosis di pinggir daun. Defisiensi magnesium bila daun menunjukkan klorosis interveinal (Fairhurst, 1998).

Terdapat sejumlah hama serangga yang dapat menyebabkan kerusakan parah dan mengurangi kemampuan tanaman penutup tanah untuk menekan gulma (Wood, 1976). Ini adalah alasan lain untuk menggunakan beberapa aplikasi sebagai risiko untuk mengurangi kerusakan hama dan penyakit. Lahan yang ditanami kembali dengan kelapa sawit, acapkali tanaman kacang-kacangan tumbuh spontan dari benih dorman yang terdistribusi oleh jalur mesin berat yang digunakan untuk menebang tanaman non-produktif.

NODULASI DAN FIKSASI N2

Hampir semua kacang-kacangan yang digunakan sebagai penutup tanaman dapat membentuk bintil akar dengan bakteri yang hadir dalam tanah. Spesies tersebut dikatakan ‘promiscuous’ yang bersimbiosis dengan berbagai rhizobia, dan ini menjadi masalah karena kurangnya nodulasi yang disebabkan tidak adanya rhizobia yang tumbuh. Bakteri diisolasi dari nodul yang lambat tumbuh, termasuk apa yang disebut kacang tunggak tapi sekarang berkontitusi dengan bakteri dari genus Bradyrhyzobium. Beberapa penelitian dilakukan untuk menguji berbagai rhizobia yang akan bernodulasi dengan tanaman penutup di tanah tropis. Hasil tersebut menunjukkan kehadiaran rhizobia di tanah tropis berada di luar cakupan bab ini, tetapi informasi lebih lanjut dapat ditemukan di Giller dan Wilson (1991) dan Kahindi et al. (1997).

Kegagalan pembentukan tanaman penutup pada beberapa kasus dikaitkan dengan lemahnya inokulan yang sesuai. Sebagai contoh, pertumbuhan tidak sehat Stylosanthes guianensis (kacang-kacangan dengan persyaratan yang lebih spesifik untuk rhizobia) di pesisir tanah Malaysia karena tidak adanya rhizobia yang kompatibel (Gray dan Hew, 1986).   Hasil lain menunjukkan dibutuhkan inokulan forrhizobial. Ikram (1983) melakukan studi tentang respon C. caeruleum inokulasi yang diinokulasi rhizobia di Malaysia. Dua puluh lima isolat rhizobial diseleksi dan beberapa memberikan yang menunjukkan respon baik dalam percobaan, namun tidak ada satupun yang menunjukkan respon baik di empat percobaan lapangan. Meskipun beberapa strain inokulan terbentuk lebih dari 70% dari nodul, namun beberapa tanah Malaysia mengandung angka yang relatif kecil terhadap rhizobia (Ikram, 1983). Kemungkinan ukuran populasi belum dianggap cukup untuk menduga respon inokulasi yang diharapkan (Singleton dan Tavares, 1986; Thies et al., 1991). Dalam kondisi seperti, diduga pertumbuhan awal dari legum lebih cepat dengan inokulasi selama beberapa minggu pertama, tetapi sekali inang legum yang kompatibel dengan rhizobia dapat berkembang biak dengan cepat dalam tanah sehingga setiap perbedaan di awal pertumbuhan tanaman penutup tanah mungkin tidak muncul. Percobaan lebih lanjut C. caeruleum dan Pueraria dengan tiga strain berbeda Bradyrhizobium juga gagal untuk meningkatkan pertumbuhan mereka (Wahab et al, 1989.).

Manfaat dari inokulasi tanaman telah teruji di tanah sangat asam yang mengandung rhizobia indigenous di Amerika Selatan. Peningkatan pertumbuhan terjadi setelah beberapa bulan dengan P. phaseoloides (Sylvester-Bradley et al., 1991) dan A. pintoi (Sylvester-Bradley et al., 1988), yang keduanya diduga legume yang tinggi promiscuous. Keberhasilan pendekatan yang digunakan Sylvester-Bradley dan rekannya tidak diragukan, karena telah dilakukan seleksi strain. Strain dipilih dari 2000 strain berdasarkan kemampuannya melawan populasi indigenous rhizobia, untuk tumbuh pada tanah masam dan untuk memperbaiki efisiensi N2, sebelum strain terbaik tersebut diuji di lapangan (Giller dan Wilson, 1991). Penelitian ini menunjukkan keanekaragaman genetik yang luas dari rhizorbia yang ditemukan di tanah tropis. Lanjut (Giller dan Wilson, 1991), penelitian lebih lanjut di daerah asam dapat berbuah karena setiap peningkatan efisiensi dengan nodulasi tanaman penutup legum akan memperbaiki sirkulasi N2 yang membantu mendorong pertumbuhan awal yang cepat dari legum dan menekan gulma.

Dengan demikian, jika terdapat sumber-sumber inokulan strain yang sesuai dan tersedia secara lokal dengan biaya murah, maka dimerekomendasikan tanaman penutup kacang-kacangan dapat diinokulasi. Namun, ada hal dimana rhizobia kompatibel tidak terdapat ditanah atau tidak ada legum promiscuous, dan biaya inokulan umumnya cukup kecil yang dapat direkomendasikan sebagai pertahanan dalam situasi tersebut.

KONTRIBUSI DARI FIKSASI N2

Dugaan fiksasi N2 oleh tanaman penutup di perkebunan agak mengejutkan dugaan rata-jumlah yang sangat mirip dengan kontribusi N dari fiksasi N2. Penggabungan C. pubescens dan P. phaseoloides dapat diduga untuk menggunakan 150 kg N/ha/thn selama tiga tahun pertama pembukaan kelapa sawit di Malaysia (Agamuthu dan Broughton, 1985). Pueraria phaseoloides diperkirakan oleh pengenceran isotop 15N untuk memperbaiki 60-80% dari N yang terakumulasi dalam perkebunan kelapa sawit selama dua tahun sebesar 151 kg N/ha/tahun (Zahara et al., 1986). Sebuah studi jangka pendek dengan menggunakan metode yang sama juga menunjukkan bahwa P. phaseoloides tetap 60-80% dari N, sebesar 53 kg N/ha dalam 97 hari (Ikram et al., 1995). Penggabungan antara C. mucunoides, C. pubescens dan P. phaseoloides, dapat mengakumulasi nilai rata-rata 151 kg N/ha/tahun lebih dari tanaman penutup non-legume atau vegetasi alami selama bertahun-tahun pertama dari tahap pembentukan (Broughton, 1977). Jika dilihat dari penelitian ini, sepertinya memiliki dugaan mengesampingkan jumlah N yang terus ditambahkan pada daun yang jatuh. Legum dengan bentuk tajuk sangat padat dan menjadi ‘self-mulcing’ sebagai naungan dari penuaan daun dan menambahkan sejumlah besar N ke dalam tanah (van Noordwijk dan Purnomisidi, 1992).

Ketersediaan N di tanah diduga disebabkan dekomposisi dan mineralisasi dari serasah leguminosa yang menyebabkan penekanan dalam fiksasi N2, meskipun dalam sebuah studi di bawah kondisi N-terbatas, P. phaseoloides merangsang pertumbuhan dan fiksasi N2 oleh P. phaseoloides (Vesterager et al., 1995). Saran bahwa jumlah N yang signifikan mungkin ditransfer di bawah tanah antar legum penutup tanah dan tanaman perkebunan oleh strain mikoriza yang terhubung antar akar belum didukung bukti eksperimental (Ikram et al., 1994). Menariknya, Senna cobanensis, sebuah legum yang tidak nodulate, ditemukan untuk mengurangi pertumbuhan karet dan dianggap sebagai gulma yang tidak diinginkan.

KEBUTUHAN N

Hal penting dari fiksasi N2 adalah dapat diperoleh dari jumlah pupuk N yang diperlukan untuk mencapai hasil sebanding pada tanaman perkebunan ketika tanaman penutup legum tidak digunakan. Untuk mencapai hasil yang serupa dapat ditemukan di perkebunan karet dengan tanaman penutup kacang-kacangan understorey (campuran Calopogonium, Centrosema dan Pueraria). Pupuk N diaplikasikan untuk menutupi rumput dengan rata-rata hampir 1.100 kg N/ha lebih dari 5 tahun atau 840 kg N/ha selama periode sembilan tahun dalam studi yang terpisah (Pushparajah dan Tan, 1976). Manfaat tanaman penutup di perkebunan yang sering terlihat adalah hasil produksi yang meningkat. Pepohonan karet yang ditanam dengan legum penutup menunjukkan pertumbuhan yang lebih cepat dan dapat disadap 18 bulan dibandingkan pepohonan yang tumbuh dengan rumput atau tanaman non-legum. Pepohonan tersebut menghasilkan lebih besar empat tahun pertama produksi (Mainstone, 1963). Tanaman legum juga dapat bermanfaat pada 10 tahun penyadapan dan bertahan selama 20 tahun (Boughton, 1977).

MANFAAT TAMBAHAN TANAMAN PENUTUP LEGUM

Tanah bebas gulma dicapai setelah tiga bulan jika tanaman penutup diberi pupuk yang cukup dan penyiangan intensif. Biaya pemeliharaan berkurang sampai tiga tahun tanaman belum menghasilkan jika aplikasi tanaman penutup ditetapkan dengan benar. Tanaman penutup legum menutupi rumpukan yang tersisa setelah pembukaan lahan dan meningkatkan laju dekomposisi tunggul pohon dan kayu dengan menyediakan lingkungan yang dingin dan lembab untuk aktifitas biologi tanah. Pembentukan penutup legum merupakan bagian penting untuk melaksanakan strategi zero burn untuk memenuhi standar ISO.

Penanaman kembali (replanting) kelapa sawit akhir-akhir ini menunjukkan tanaman penutup legum dapat mengurangi aktifitas kumbang Oryctes dengan menyediakan penutup yang padat terhadap situs perkembangbiakan yang potensial pada batang kelapa sawit yang ditebang.   Gulma dan kejadian penyakit akar yang disebababkan fungi juga berkurang dengan adanya tanaman penutup legum. Sifat fisik tanah juga membaik dalam hal peningkatan agregasi partikel tanah dan meningkatkan infiltrasi air, yang mengakibatkan erosi tanah berkurang (Soong suatu Yap, 1976). Manfaat ini disebabkan peningkatan status bahan organik tanah di sekitar tanaman legum dan mengurangi kerugian unsur hara akibat kapasitas tukar kation yang lebih besar di tanah. Pengurangan kerugian nitrogen di bawah tanaman penutup legum diperkirakan menjadi 63 kg N/ha/thn apabila tumbuh kembali secara alami (Agamuthu dan Broughton, 1985).

Tanaman legum tidak cukup kuat untuk menyediakan N di tanah perkebunan kelapa sawit apabila tanah tersebut banyak gulma yang tumbuh (Turner, 1981). Hal ini disebabkan kemampuan tanaman legum untuk memperbaiki N2 dari udara yang dapat mengurangi ketergantungan pada tanah N dan perakaran yang dalam dibandingkan dengan kebanyakan spesies gulma. Tanaman tahunan Pueraria dan Centrosema berakar mencapai kedalaman lebih dari 1 m sementara rumput Axonopus compressus memiliki akar dangkal (Chandapillai, 1968). Hal ini sesuai dengan pengamatan Axonopus dapat mencegah permukaan tanah bebas dari perakaran karet (Watson et al., 1964).

SIRKULASI N DARI TANAMAN PENUTUP

Pelepasan N dari tanaman penutup untuk digunakan oleh kelapa sawit tergantung pada penuaan daun dan dekomposisi tunas legum. Dari indikasi di atas, efek bayangan dan naungan dari kanopi tanaman penutup memastikan daun tua akan terus-menerus jatuh tanah. Lingkungan dimana kelapa sawit ditanam cenderung memiliki kondisi ideal yang hangat dan lembab untuk mempercepat proses dekomposisi. Tingkat pelepasan N dari daun membusuk ditentukan oleh karakteristik kimia tanah pada tahun 1920 di Sri Lanka (Joachim, 1926; Jouchim dan Kandiah, 1936). Rasio karbon terhadap nitrogen (C:N) di serasah seringkali merupakan indikator yang baik terhadap jumlah N yang dilepas, dan kebanyakan tanaman legum herbaceous memiliki daun yang kaya N dan rasio C:N yang rendah cenderung cepat membusuk. Serasah tersebut dimana kandungan N tidak melebihi batas tingkat mineralisasi N, maka karakteristik lain seperti tingkat lignifikasi atau kandungan senyawa polifenol menjadi sangat penting (Cadisch dan Giller, 1997). Di antara legum herba yang digunakan sebagai penutup tanaman, spesies Desmodium diketahui memiliki kandungan polifenol reaktif besar yang mengikat protein di daun tua dan menghasilkan tingkat dekomposisi lambat (Vallis dan Jones, 1973). Flemingia macrophylla adalah jenis lain tanaman legum herba yang daunnya kayua akan senyawa polifenol namun kualitas rendah.   Semak legum cenderung memiliki jaringan lebih berlignin yang dapat terurai lebih lambat.

Perkebunan kelapa sawit yang penuh dengan tanaman penutup tanah kacang-kacangan harus dipertahankan karena N akan dilepaskan ketika kanopi menutup dan bayangan menjadi lebih intens. Saat tanaman penutup mati dan tua, sejumlah N 100-200 kg/ha akan dikeluarkan dalam bulan pertama yang tidak sepenuhnya digunakan oleh tanaman.   Sehingga, perlu diaplikasikan pupuk N untuk periode selama kanopi kelapa sawit menutup dan tanaman penutup mati. Tanaman penutup yang ditaburkan bersamaan dapat mengurangi masalah karena ada pergeseran bertahap secara dominan, dan spesies toleran naungan seperti Calopogonium caereleum akan mati secara bertahap (Gambar 1). Calopogonium caeruleum memiliki keuntungan lain bahwa serasahnya lebih lambat terurai dibandingkan dengan Pueraria, sehingga memiliki efek yang lebih lama terhadap pertumbuhan tanaman.

Hamparan kepadatan daun yang dibentuk tanaman legum menyediakan kelembaban yang ideal, iklim mikro yang lebih dingin untuk dekomposisi, dan aktivitas biologis yang akan memacu perakaran di permukaan tanah. Pertumbuhan kelapa sawit dalam jangka panjang menjadi lebih baik karena ketersediaan N dan unsur hara lain seperti kalsium dan magnesium dapat dipertahankan di tanah. Hal tersebut menyebabkan adanya sirkulasi antara biomasa dan tanah sebagaimana ditemukan di karet (Watson, 1964).

INKLUSI DARI TERNAK SAPI?

Sapi secara tradisional telah digunakan untuk mengontrol ketinggian vegetasi bawah di perkebunan kelapa, dan perkebunan akan memberikan sumber daya penting untuk produksi hewan (Shelton et al., 1987; Kuan dan Chee, 1990). Produktivitas padang rumput meningkat di bawah tanaman kelapa ketika tanaman legum ada dan produksi kelapa meningkat seiring penambahan jumlah sapi yang kemungkinan disebabkan adanya stimulasi sirkulasi N (Rika et al., 1981). Hanya sebagian kecil perkebunan karet atau kelapa sawit yang menyentuh dan memiliki potensi besar mengenai produksi hewan di areanya (Humphreys, 1991). Sapi dapat menyebabkan kerusakan di perkebunan kelapa sawit dengan merumput daun di kanopi yang rendah, meskipun kerusakan tersebut dapat minimalkan dengan mengatur jumlah ternak (Kuan dan Chee, 1990). Hanya beberapa ternak yang dapat merumput ketika pelepah terendah terlalu tinggi untuk dicapai oleh sapi atau ternak. Adanya ternak di perkebunan direkomendasikan apabila hasil produksi berkurang akibat dari kepadatan tanaman yang berlebih dan ternak tidak mengurangi proporsi secara ekonomi terhadap kelapa sawit (Hartley, 1988). Pada umumnya, petani hanya memotong dan membawa pakan dari bawah kelapa sawit untuk ternak yang dikandangkan di rumah.   Namun, campuran rumput dan legum di bawah tanaman kelapa sawit dapat menyediakan pakan lebih baik untuk ternak daripada hanya rumput saja atau merumput di kandang.

MASALAH PENGGUNAAN TANAMAN PENUTUP

Cover tanaman tidak memberikan keuntungan yang besar pada tanah gambut di mana fungsi sebagai penutup tanah, serasah, dan fiksasi N2 tidak relevan. Di daerah tersebut, debit air yang tinggi dan daerah datar menyebabkan erosi tanah bukan masalah besar. Pembentukan tanaman penutup legum pada lahan gambut biasanya lebih sulit karena defisiensi har mikro seperti Cu dan tanah sangat masam dengan pH kurang dari 3. Iklim kering dapat menyebabkan penurunan hasil panen kelapa sawit karena adanya kompetisi terhadap air selama musim kemarau (Ochs dan Daniel, 1976). Persaingan antar tanaman penutup legum lebih berat pada beberapa spesies, seperti S. guianensis yang menyebabkan penurunan pada fase awal pertumbuhan kelapa sawit (Foster, 1975). Namun, efek negatif dari kompetisi mungkin sebanding banyaknya manfaat jangka panjang menggunakan tanaman penutup legum.

KESIMPULAN
Manfaat tanaman penutup antara lain pengendalian erosi tanah, mengurangi kompetisi gulma, fiksasi N2 dan peningkatan ketersediaan hara. Manfaat tersebut saling berhubungan. Peningkatan bahan organik tanah di bawah tanaman penutup merupakan komponen yang esensial untuk mengurangi resiko erosi tanah dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk. Praktek yang optimal untuk pembentukan dan pengelolaan tanaman penutup legum cukup jelas, meskipun perlu investasi dalam seleksi secara intensif terhadap rhizobia yang efektif, kompetitif, dan mampu beradaptasi dengan baik. Identifikasi tanaman penutup yang dapat bertahan dan memperbaiki N2 di bawah naungan kelapa sawit dewasa tetap menjadi target yang mungkin sulit untuk mencapai (Corley dkk, 1976.). Meskipun spesies A. pintoi merupakan calon tunggal yang layak digunakan dan telah melalui pengujian lebih luas di Asia dan Afrika. Bahkan jika tanaman penutup legum toleran naungan dapat diidentifikasi, maka banyak manfaat dari tanaman ini yang tidak sepenuhnya menggantikan jumlah pupuk N yang diperlukan untuk memelihara tanaman produktif.

POIN PENTING UNTUK PEKEBUN PRAKTIS:

  1. Kanopi penuh tanaman legum memberikan manfaat sebagai berikut:
  • Mengurangi erosi tanah setelah pembukaan lahan;
  • Mengurangi kerugian pencucian N;
  • Mengurangi kerusakan kumbang Oryctes dalam penanaman baru dan penanaman kembali (replanting);
  • memperbaiki sifat fisik tanah (misalnya infiltrasi, agregasi); dan
  • Mempercepat dekomposisi pasca pembukaan lahan puing-puing organik.
  1. Spesies yang paling cocok adalah Pueraria phaseoloides dan Calopogonium caeruleum, sedangkan Pueraria triloba tidak cocok.
  2. Selalu menggunakan bibit tanaman penutup dengan inokulan yang sesuai dan adaptif dengan strain rhizobia.
  3. Penyiangan dilakuakan secara berkala untuk mencegah tanaman penutup menutupi tanaman kelapa sawit muda.
  4. Menerapkan pupuk P yang cukup saat penanaman (200-1,000 kg/ha fosfat) untuk pertumbuhan yang cepat dan memaksimalkan dalam fiksasi N2 (± 50 kg N/ha/th).

PERBANYAKAN KELAPA SAWIT

BAB V

PERBANYAKAN KELAPA SAWIT:

PRODUKSI, KERAGAAN HASIL, DAN KETERSEDIAAN UNSUR HARA

Ng Siew Kee, Thong Kar Cheong, Khaw Cheng Haw, Henry S.H. Ooi, Leng KaYee and P. Kayarogaman

Agromac Sdn. Bhd. 439A, Bangunan Camay Jl. Pasir Puteh, 31650 Ipoh, Malaysia, Fax: +60 5 2539042. E-mail: agromac@agromenterprice.com

Helmut von Uexküll

Hegelstrasse 2, 53177 Bonn, Germany. E-mail: H.R.von. Uexkuell@t-online.de

Rolf Härdter

International Potash Institute, c/o K+S KALI GmbH, Bertha-von-Suttner-Str.7, 34131 Kassel, Germany. Fax: +49561 9301 1416, E-mail: rolf.haerdter@kali-gmbh.com

PENDAHULUAN

Produksi potensial kelapa sawit adalah produksi minyak maksimum yang dapat dihasilkan oleh tanaman berdasarkan model (Evans dan Fischer, 1999). Produksi potensial kelapa sawit diestimasi mencapai 17 t/ha dan 5-7 t/ha lebih tinggi di Malaysia dengan menejemen perkebunan yang lebih baik. Potensial produksi adalah hasil dari kultivar tersebut yang beradaptasi dengan lingkungan tumbuh, seperti unsur hara, air, dan cekaman hama penyakit (Evans dan Fischer, 1999). Ekpresi potensial produksi tanaman tergantung dari bahan tanam, kecocokan lokasi tanam, dan manajemen agronomi. Saat ini selisih produksi (yield gap) disebabkan oleh keterbatasan potensial produksi dari benih Tenera (T) konvensional persilangan Dura (D) x Pisifera (P). Ng et al., (1999) menyarankan menggunakan benih hasil kultur jaringan melalui embriogenesis dalam perbanyakan klon produksi tinggi secara komersial.

Program kultur jaringan kelapa sawit dimulai pada tahun 1960an dengan fokus penelitian terhadap zigot embriogenesis dengan embrio benih untuk pembentukan kalus dan planlet. Tingkat abnormalitas tinggi terjadi pada fase ramet yang berasal dari ekplan akar dan daun yang diambil dari ortet tanaman kelapa sawit. Embriogenesis somatik menggunakan ekplan daun memberikan hasil untuk meningkatkan teknik kultur jaringan dengan mengurangi atau meminimalkan tingkat abnormalitas. Penanaman skala besar hasil kultur jaringan adalah tingkat abnormalitas tinggi, terutama karakter buah mantel. Sehingga, bab ini membahas tingkat rasionalitas perbanyakan kelapa sawit hasil kultur jaringan, kriteria yang digunakan untuk ortet, dan gambaran prinsip dasar kultur in vitro. Keragaan produksi kelapa sawit kemudian dibandingkan dengan bahan tanam benih konvensional (D x P).

RASIONALITAS BUDIDAYA KLON KULTUR JARINGAN KELAPA SAWIT

            Tandan buah atau hasil produksi minyak kelapa sawit pada populasi plot yang kecil, lahan sendiri, maupun perkebunan adalah jumlah produksi individu tanaman yang terdapat pada populasi tersebut. Bahan tanam D x P pada lingkungan seragam akan menunjukkan perbedaan karakteristik pertumbuhan vegetatif dan keragaan produksi. Tingkat perbedaan tergantung dari asal benih dan seleksi bibit. Sehingga, potensial produksi selalu rendah dengan performa tanaman yang miskin unsur hara dan proporsi tanaman hidup. Tanaman produksi tinggi selalu menjadi minoritas dalam suatu populasi tanaman perkebunan komersial, walaupun telah dilakukan pemilihan tanaman dengan standar yang tinggi.

Bahan tanaman klon lebih seragam secara genotip atau fenotip. Tujuan penting dari klon adalah 1) produksi lebih seragam antar tanaman dalam populasi klon, seperti variasi produksi antar tanaman rendah, dan 2) memiliki perbedaan yang signifikan terhadap distribusi produksi tertinggi. Ooi et al., (1995) membandingkan distribusi produksi tandan buah tanaman klon dengan tanaman dari benih (D x P) menunjukkan bahwa produksi pada tanaman klon cenderung sama terhadap rata-rata populasi (koefisien korelasi, KK 13%) dan tanaman dari benih (D x P) memiliki produksi dengan distribusi menyebar pada beberapa klas produksi (KK 33%). Lanjut Ooi (1995), rata-rata produksi tandan buah tanaman klon lebih dari 231 kg/tanaman dan 130 kg/tanaman pada populasi benih D x P. Tujuh puluh tiga persen tanaman klon menunjukkan produksi tandan buah 200-250 kg/tanaman dan 40% populasi D x P yang menunjukkan produksi tandan buah 100-150 kg/tanaman.

SELEKSI TANAMAN ORTET

            Ortet adalah tanaman dewasa yang digunakan sebagai sumber eksplan untuk perbanyakan. Pemilihan tanaman ortet merupakan langkah yang sangat penting dalam perbanyakan tanaman klon kelapa sawit ketika produksi masing-masing tanaman klon tersebut adalah sama. Proses seleksi harus ekstra hati-hati, hanya tanaman elit dengan buah tandan, produksi minyak, dan karakteristik penting yang diseleksi untuk di kloning. Hardon et al., (1987) dan Meunier et al., (1990) menunjukkan beragam potensial pengujian menggunakan tanaman klon dapat meningkatkan produktivitas hingga 30%. Corley (1993) menduga seleksi 2% dari total tanaman terbaik dapat meningkatkan produksi 24%. Soh (1986) memperkirakan perbanyakan klon dari 5% tanaman terbaik dapat meningkatkan rata-rata produksi minyak 12% dengan seleksi selama 5-7 tahun dan seleksi dilakukan terhadap famili terbaik yang diikuti seleksi individu terbaik.

Seleksi kombinasi komponen produksi lebih efisien daripada seleksi hanya berdasarkan pada produksi minyak (Soh dan Chow, 1989). Namun, Durand-Gasselin (1993) menunjukkan produksi dan kualitas tandan lebih diwariskan daripada pendugaan awal yang disarankan, dan mengindikasikan seleksi produksi minyak lebih diutamakan. Kriteria seleksi ortet dilaporkan Ooi (1995), yaitu 1) kombinasi antara minyak yang tinggi (>28% minyak tandan) dan produksi tandan buah yang tinggi (>200 kg/tanaman/th), 2) precocity (periode dewasa sekitar 2 tahun), 3) pertumbuhan meninggi rendah (<45 cm/th), dan 4) karakter sekunder seperti tandan dengan spines pendek. Metodologi seleksi berhasil apabila produksi tandan buah meningkat 20-40% dan produksi minyak >30% bila dibandingkan bahan tanam D x P. Teknik tingkat laboratorium dapat dilakukan apabila tanaman klon abnormal kurang dari 2% total populasi tanaman klon yang di tanam.

PROSES KULTUR JARINGAN UNTUK POTONGAN DAUN

Potongan daun yang telah dekontaminasi kemudian di inkubasi pada media kultur yang mengandung auksin untuk menginduksi terbentuknya kalus. Produksi kalus dari eksplan bervariasi antara 20-70% (Lioret, 1982) dan 25-30% untuk beberapa persilangan Deli x La Me. Duval et al., (1988) melaporkan 5-10% untuk bahan tanam Yangambi dan produksi kalus 20-60% setelah 3-6 bulan untuk bahan tanam La Me (Ginting et al., 1993). Calli dapat diketahui dari paling cepat 2 bulan tetapi biasanya 4-6 bulan setelah inkubasi. Cahaya tidak diperlukan dalam tahap ini.

Materi kalus kemudian disubkultur pada media yang mengandung auksin, sitokinin, atau kombinasi kedua hormon tersebut untuk menginduksi embriogenesis. Embrioid dibentuk setelah 4 bulan, dan produksi berlanjut hingga 12 bulan. Embrioid kemudian ditransfer ke media proliferasi untuk menginduksi embriogenesis sekunder (Duval et al., 1988). Embriogenesis langsung merupakan embrioid yang terbentuk secara langsung dari potongan daun tanpa melalui fase kalus, seperti yang digunakan pada propagasi tanaman Begonia. Embrioid tumbuh menjadi akar dan setelah cukup, dipindahkan ke media akar.

Auksin digunakan untuk menginduksi kalus dengan 2,4D atau 2,4,5-T (Rabechaulth and Martin, 1976) ataur NAA (Paranjothy and Othman, 1982). Untuk embriogenesis dan produksi akar, kombinasi auksin (NAA, IBA) dan sitokinin (kinetin, BA, 2-IP) yang digunakan (Rebechaulth dan Martin, 1976; Paranjothy dan Othman, 1982). Selain hormon tersebut, dapat juga digunakan kombinasi GA3 untuk perakaran (Staritsky, 1970; Rebechaulth dan Martin, 1976; Paranjothy dan Othman, 1982; Nwankwo dan Krikorian, 1983; Thomas dan Rao, 1985). Tahap berikutnya adalah aklimatisasi planlet (terbentuk akar dan tunas) ke pembibitan. Waktu yang dibutuhkan untuk proses dari panen eksplan hingga penanaman dilapang adalah sekitas 60 bulan.

PEMBENTUKAN INTRODUKSI SKALA BESAR TANAMAN KLON

            Masalah budidaya tanaman klon pada skala komersial adalah abnormalitas (Corley, 1986). Masalah utama abnormalitas berasal dari perkembangan abnormal androecium pada pembentukan bunga jantan dan betina. Pada kasus pembentukan bunga betina, satu dari 6 bunga betina normal dapat membentuk bunga mantel. Bunga mantel antara lain partenokarpi, yaitu seperti bunga yang muncul karena tingkat kesuburan tanah yang kurang atau kegagalan buah masak. Satu dari 6 bunga jantan dapat berkembang menjadi buah mantel, dan apabila terjadi, bunga betina dapat pula menjadi buah mantel (Durand-Gasselin et al., 1995).

Pembentukan buah partenokarpi juga terjadi pada tanaman klon muda, tetapi abnormalitas tidak berlanjut hingga di kebun. Partenokarpi dapat terjadi pada tanaman D x P yang terkontaminasi herbisida yang mengandung phytohormon (2,4-D, dicamba, dan picloram) (Khairudin dan Teoh, 1988). Kejadian abnormalitas pada klon kelapa sawit telah dilaporkan. Tiga klon yang ditanam di Uniparnol Estate menunjukkan tiga klon normal pada tahun tanam 1981, namun terjadi abnormalitas pada tahun 1982 (25%) dan 1983 (88-95%) (Corley et al., 1986). Durand-Gasselin et al. (1995) menyebutkan dari 93 klon La Me yang diuji, 49 klon abnormal (53%), tingkat abnormalitas <25-62% dan 19 klon yang menunjukkan tingkat abnormalitas >5%. Maheran et al., (1995) melaporkan rata-rata 4.2% tanaman abnormal pada klon La Me adalah tanaman mantel dan 62% dari tanaman mantel tersebut dapat tumbuh normal 3 tst. Lanjut Maheran et al., (1995) bahwa klon dengan performa normal in vitro dan di pembibitan biasanya menunjukkan tingkat abnormalitas yang rendah (<2%) di lapang. Tanaman yang telah ditanam lebih dari 5 tahun, menunjukkan kejadian mantel kurang dari 1% (Khaw dan Ng, 1998).

PENYEBAB ABNORMALITAS TANAMAN

            Beragam penelitian telah dilakukan untuk mengetahui abnormalitas tanaman. Satu kromosom telah ditemukan untuk tanaman normal dan abnormal (Corley et al., 1986; Soh, 1987; PORIM, 1988). Analisis molekuler DNA menggunakan teknik RFLP (Restriction fragment length polymorphism) gagal untuk membedakan tanaman normal dan abnormal (Cheah et al., 1989). Tidak ditemukan perbedaan isoenzim pada tanaman normal dan abnormal.

Tanaman abnormal dengan mantel sebagian atau penuh dapat kembali normal setelah lebih dari 3 tst dengan kondisi lingkungan yang baik (Duval et al., 1995) dan kemungkinan epigenetik (Paranjothy et al., 1995). Perubahan epigenetik cenderung stabil, namun dapat memodifikasi kembali pada ekspresi gen.   namun, Rao dan Donough (1990) mendeteksi abnormalitas benih berasal dari buah mantel yang terjadi pada DNA dan proses meiosis.   Di sisi lain, perbaikan secara spontan ke pertumbuhan normal telah dilaporkan untuk buah mantel (Donough, 1990). Sehingga, transmisi meiosis pada karakter abnormal membutuhkan penelitian lebih lanjut. Selama ini RAPD dan RFLP belum cukup untuk mendeteksi polimorfisme DNA normal dan abnormal (Rivai et al., 1998).             Abnormalitas dapat terjadi pada 10 media kultur yang mengandung konsentrasi hormon yang tinggi (Corley et al., (1986), 2) subkultur poliembrionik menggunakan hormon tumbuh yang terus-menerus (Paranjothy et al., 1995; Duval et al., 1988), 3) dan tipe kalus yang digunakan untuk embriogenesis somatik (Duval et al., 1988). Strategi yang digunakan untuk menekan abnormalitas dan meningkatkan propagasi klon antara lain (1986, 1987) dan PORIM (1988):

  • Kloning tetua terbaik D x P untuk memproduksi benih bi-klonal F1. Saat ini belum ditemukan produksi benih bi-klonal dan pada beberapa kasus abnormalitas dapat muncul pada tetua Dura atau Pisifera yang diklon.
  • Kloning benih atau embrio persilangan D x P elit.
  • Menghindari kalus dengan embriogenesis langsung.
  • Jumlah subkultur dikurangi (<15) dan menggunakan kultur ujung akar.
  • Pembatasan poliferasi per klon dan pengembangan protokol yang dapat mengurangi penambahan hormon endogenous.

PRODUKTIVITAS DAN NILAI EKONOMI TANAMAN KLON

Tanaman klon yang ditanam pada luasan area 99 ha dapat panen 24 bulan setelah tanam (Ginting et al., 1993). Produksi tandan buah juga lebih tinggi 29% dari tanaman konvensional D x P. Karakter vegetatif tanaman klon menunjukkan lebih homogen dengan pelepah daun pendek dan indeks luas daun (L) lebih pendek dari bahan tanam D x P. Produksi klon 11.3 dan 13.0 ton/ha buah tandan dibandingkan dengan 8.7 dan 10.2 ton/ha untuk tanaman D x P pada tahun pertama dan kedua (Maheran et al., 1995). Secara keseluruhan, rata-rata tandan buah dan produksi minyak meningkat 30% dibandingkan bahan tanam D x P.

Produksi dilaporkan berasal dari plot awal 4 ha, dan manajemen perkebunan didasarkan pada standar praktek komersial. Percobaan produksi maksimal menunjukkan potensial produksi klon tunggal yang dilakukan di tanah Merit Series (Typic Kandiudult) pada area 0.4 ha di Sarawak (Khaw et al., 1999). Produksi maksimum tandan buah 60.38 ton/ha pada 8 tst dan rata-rata produksi dari tahun ke-3 hingga ke-9 adalah 50.16 ton/ha. Hal ini berhubungan dengan produksi minyak berdasarkan pada pengujian tandan buah klon sebesar 15.7 ton/ha crude palm oil (CPO) saat produksi puncak dan 12.5 ton/ha selama 6 tahun dari 4 tst. Produksi tanaman kontrol D x P antara 35-53% produksi buah tandan dan 31-46% produksi minyak. Sehingga, rata-rata produksi tanaman klon memiliki potensial produksi minyak lebih tinggi 10.6 ton/ha dibandingkan tanaman D x P. Rata-rata produksi yang tinggi berguna untuk membandingkan bahan tanam dengan produksi minyak tandan buah, termasuk biaya pekerja, transportasi, dan waktu yang dibutuhkan untuk proses.

Seleksi tanaman ortet dan manajemen lapangan ditujukan untuk meningkatkan nilai rasio minyak dalam tandan (oil to bunch, O:B). Ekstraksi minyak berkisar >24% dan lebih tinggi dari rata-rata nasional Malaysia 19% yang diperoleh dari tanaman klon. Klon kelapa sawit lebih menarik untuk perkebunan dengan fasilitas penggilingan yang efisien dan dapat meningkatkan rata-rata ekstraksi minyak. Evaluasi ekonomi menggunakan 3 macam skenario harga CPO yang dibuat oleh Agrocom (1995) dan telah diperbaiki pada beberapa data.

KEBUTUHAN UNSUR HARA TANAMAN KLON

Tanaman klon membutuhkan unsur hara selama masa pertumbuhan dan produksi tandan buah dan minyak terutama unsur hara makro magnesium (Mg), nitrogen (N), dan potassium (K). Woo et al., (1994) menunjukkan rata-rata pupuk yang diberikan berdasarkan pada hasil analisis daun dan pendugaan pengurangan unsur hara untuk menyeimbangkan unsur hara selama vegetatif dan fase awal generatif. Ng et al., (1999) menunjukkan tanaman klon dengan aplikasi pupuk N-P-K-Mg-B 400 kg/ha/th dapat menghasilkan produksi minyak 8 ton/ha/th dan 20 kg minyak/kg unsur hara.

Perbedaan antara klon dengan D x P adalah lebih kecil terhadap jumlah unsur hara yang dibutuhkan tetapi dibutuhkan dalam jumlah yang seimbang antar unsur hara makro dan mikro (Woo et al., 1994; Ng et al., 1999). Magnesium memiliki peranan penting dalam fungsi enzim biosintesis minyak. Boron berpengaruh terhadap keberhasilan polinasi, kesuburan, dan bentuk buah. Sulfur adalah kontrituen enzim akil-ACP-thioesterase dalam bentuk minyak. Keseimbangan rasio Ca:K:Mg karena tingginya aplikasi Ca yang mengandung batuan phosphate atau dolomit dapat mengurangi penyerapan K dan Mg yang berpengaruh terhadap tandan dan formasi minyak. Disamping itu, perlakuan pupuk harus diformulasikan ke dalam interaksi unsur hara yang akan berpengaruh terhadap produktivitas minyak.

KESIMPULAN

Klon kelapa sawit memberikan kesempatan untuk memproduksi tanaman kelapa sawit dalam jumlah banyak tanpa harus ekspansi lahan. Budidaya kelapa sawit skala besar dengan klon produksi tinggi dan mampu bersaing antar tanaman meskipun masih terkendala adanya abnormalitas bunga pada tanaman dewasa. Pengembangan teknik kultur jaringan dapat mengurangi abnormalitas hingga ≤1%. Seleksi yang ketat terhadap ortet produksi tinggi dapat meningkatkan produksi tandan buah dan minyak yang lebih tinggi dari D x P pada skala komersial dan beragam lingkungan tumbuh.

Pengembangan ke depan klon kelapa sawit diarahkan bukan hanya tanaman yang dapat merubah cahaya matahari menjadi karbohidrat dan minyak, tetapi juga efisien terhadap penggunaan unsur hara. Studi awal tanaman klon menunjukkan kebutuhan unsur hara secara kuantitatif tidak jauh berbeda dengan D x P, namun terdapat indikasi tanaman klon mampu menggunakan keseimbangan rasio unsur hara. Penelitian perlu dilakukan untuk interaksi perbedaan unsur hara dan hubungannya dengan formasi minyak dalam produksi tinggi tanaman klon.

POIN PENTING UNTUK PEKEBUN

  1. Tanaman klon memiliki keuntungan untuk meningkatkan produksi tandan buah dan minyak sawit.
  2. Ketika tanaman klon ditanam pada lahan marjinal yang luas, perlu dipertimbangkan potensial produksi dan mempertimbangkan minyak sawit total.
  3. Potensial produksi lebih tinggi pada tanaman klon disebabkan karena keseragaman produksi tinggi pada tiap tanaman dengan produksi awal yang lebih tinggi, ekstraksi minyak yang tinggi, dan pertumbuhan meninggi yang rendah.
  4. Klon berkualitas dikarakterisasi dengan rendahnya persentase tanaman mantel (abnormal) <2%.
  5. Penanaman komersial tanaman klon dewasa telah mencapai >2000 ha dan menunjukkan efisiensi penggunaan unsur hara .
  6. Manajemen unsur hara klon kelapa sawit ditekankan pada rasio dan aplikasi unsur hara.
  7. Program pemupukan dipertimbangkan dalam jumlah unsur hara yang dibuang pada produksi awal yang tinggi sehingga tanaman tidak dipengaruhi oleh ‘hidden hunger’.
  8. Unsur hara makro dan mikro memiliki peranan penting dalam biosintesis minyak yang harus ditambahkan dalam jumlah yang cukup.

Tips bekerja ‘Pelajaran berharga hari Selasa, 8 Juli 2014’

quote-of-ramadhan

Pelajaran berharga hari Selasa, 8 Juli 2014 (nasehat dan catatan untuk diri sendiri):

– Sarapan pagi sebelum berangkat kerja.
– Berdoa sebelum berangkat ke tempat kerja dan sesudah dari tempat kerja, minimal Bismillah dan Alhamdulillah.
– Saat bekerja, jika diperlukan berikan informasi apa yang telah kita kerjakan tanpa menyalahkan atau membanggakan diri sendiri.
– Gunakan waktu sebaik mungkin untuk bekerja dan istirahat. Jika ada yang mengajak mengobrol dan diskusi, dengarkan dan beri waktu untuk itu, seperlunya. Datang ke tempat kerja untuk bekerja, belajar, dan silaturahmi karena Allah SWT.
– Apabila ada teman atau atasan yang meminta bantuan kita dan mendesak, namun kita sedang mengerjakan sesuatu, sampaikan kalau apa yang sedang kita lakukan adalah penting. Sampaikan suatu alasan kalau kita adalah penting dan akan datang kemudian.
– Jaga ucapan, berpendapat, dan perbuatan. Usahakan tidak menyinggung mereka dan tidak menimbulkan pikiran negatif atau buruk sangka.
– Dahulukan kepentingan orang lain dan Allah SWT pasti akan mendahulukan kepentingan kita.
– Dirikan sholat wajib dan sholat dhuha di pagi hari.
– Jangan terlalu merasa bersalah, karena bekerja adalah sistem. Jujurlah dengan diri sendiri.
-Jangan pernah mengeluh dan membicarakan keburukan orang lain.
– Jika ada yang dominan, stay cool and be your mine.
– Pahami setiap karakter orang di tempat kerja. Tak akan ada orang yang selalu puas dan menyanjung pekerjaan kita setiap saat. Jadi, belajarlah ikhlas apapun itu!! Cukup syukuri hasil yang kita peroleh dan hanya berharap semoga Allah ridho dengan usaha kita.
– Tersenyumlah dan sapalah siapapun yang kita temui. Tak perlu membedakan siapa mereka, yang penting adalah berusaha selalu fastabihul khoirot (berlomba-lomba dalam kebaikan).
– Bekerja ya harus berusaha untuk selalu menyelesaikan tugas dan tanggung jawab. Do your best and Allah will do the rest.
– Selalu berfikir positif dan menganggap kita tidak bisa apa-apa dan bukan siapa-siapa. Ini mendorong kita agar terus berusaha namun tetap rendah hati. Aamiin.
– Jika kita diberi amanat menjadi pemimpin, jadilah pemimpin yang terbaik untuk diri sendiri dan anggota yang dipimpinnya. Jadikan mereka adalah keluarga kita. Quu anfusakum wa ahlikum naaro. Bagaimanapun juga, kita akan dimintai pertanggungjawabannya nanti di akherat.
– Jangan pernah menyalahkan orang lain ataupun keadaan. Jadilah pemaaf dan berfikir positif.
– Ceriakan hati dan pikiran agar selalu segar dan tetap semangat. Beri kesempatan tubuh dan pikiran untuk rileks sejenak dan istirahat secukupnya.
– Jadilah bekerja sebagai ladang untuk memperoleh ridho Allah SWT.
– Tiada manusia sempurna dan tanpa dosa, yang ada adalah insan yang selalu berusaha menjadi lebih baik dan beruntung karena Allah SWT. Wallohua’lam.